FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Peneliti ISEAS Yusof Ishak Institute, Made Supriatma, menanggapi pernyataan Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ahmad Ali, yang menegaskan tidak ada sosok yang lebih baik dari Gibran Rakabuming Raka untuk menjadi calon Wakil Presiden pada Pilpres 2029.
Merasa tidak sepakat dengan penegasan itu, Made menyoroti fenomena elite politik yang, menurutnya, rela menanggalkan nurani demi kepentingan kekuasaan.
Ia menyebut, ada jenis pekerjaan tertentu yang menuntut seseorang untuk mengorbankan rasa malu dan kejujuran.
“Ada banyak pekerjaan di dunia ini yang tidak perlu mempermalukan diri sendiri serendah ini. Tapi bayarannya mungkin sedikit,” ujar Made dikutip pada Rabu (14/1/2026).
Namun, ia menuturkan bahwa terdapat pula pekerjaan lain yang menawarkan imbalan besar dengan konsekuensi moral yang sangat mahal.
“Tapi ada pekerjaan yang bayarannya tinggi sekali. Modalnya cukup cuman nggak tau malu. Bisa bohong sehebat-hebatnya,” sebutnya.
Made menggambarkan, demi mendapatkan keuntungan, seseorang bahkan sanggup membalikkan fakta dan logika secara ekstrem.
“Mematikan nurani sehabis-habisnya sehingga bisa bilang matahari adalah bulan,” ucapnya.
Ia melanjutkan dengan sejumlah perumpamaan tajam untuk menggambarkan praktik manipulasi realitas dalam politik kekuasaan.
“Kuda lumpuh bisa dijual sebagai kuda balap yang menang di setiap pertandingan. Bebek dikatakan elang yang terbang agung,” Made menuturkan.
Kata Made, kemampuan memanipulasi persepsi publik tersebut memiliki nilai yang sangat mahal, bukan hanya bagi pelakunya, tetapi juga bagi masyarakat luas.
“Kemampuan seperti itu mahal sekali harganya. Untuk dirinya sendiri tapi terlebih untuk orang lain,” tandasnya.
Made menegaskan, keuntungan yang diperoleh elite kekuasaan justru berbanding terbalik dengan dampak yang harus ditanggung rakyat.
“Untuk dirinya keuntungan, untuk orang lain kerugian luar biasa,” tegasnya.
Made bilang, praktik semacam ini mencerminkan wajah dunia politik elite di Indonesia saat ini.
“Inilah isi dunia elit Indonesia yang berkuasa atas ratusan juta rakyat yang jinak,” kuncinya.
Sebelumnya, Ahmad Ali memandang bahwa putra sulung Presiden ke-7, Jokowi, merupakan representasi kaum muda yang tidak hanya cerdas.
Akan tetapi juga memiliki rekam jejak sebagai petahana dengan pengalaman kepemimpinan yang nyata di pemerintahan.
“Emang masih ada Calon Wapres yang lebih baik dari pada Gibran? Mewakili anak muda, incumbent, pintar,” terangnya.
Lebih lanjut, Ahmad Ali menyinggung pengalaman Gibran yang pernah menjabat sebagai Wali Kota hingga Wakil Presiden sebagai nilai tambah yang signifikan.
“Pengalaman pasti (karena) pernah jadi wali kota, pernah jadi wapres,” imbuhnya.
Ahmad Ali bilang, status incumbent yang melekat pada Gibran menjadi indikator utama keunggulan dibandingkan kandidat lainnya.
“Emang calon-calon lain pernah jadi wapres?,” tandasnya.
(Muhsin/Fajar)




