Di Balik Gencatan Senjata, Derita Warga Gaza Masih Nyata

celebesmedia.id
3 jam lalu
Cover Berita

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Hampir tiga bulan setelah gencatan senjata diberlakukan di Jalur Gaza, denyut kehidupan perlahan kembali terasa.

Namun, di balik meredanya suara bom, penderitaan warga belum sepenuhnya berakhir. Perbaikan kondisi kemanusiaan memang mulai tampak, tetapi luka fisik dan trauma psikologis masih membayangi kehidupan sehari-hari masyarakat.

Gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober membawa ketenangan relatif, meski ketegangan belum sepenuhnya sirna. Konflik antara Hamas dan Israel tetap berlanjut dengan tudingan pelanggaran dari kedua belah pihak.

Gencatan senjata berlaku bukan berarti tidak ada korban jiwa. Otoritas kesehatan Gaza mencatat, sejak kesepakatan tersebut diberlakukan, sedikitnya 424 orang tewas dan 1.199 lainnya terluka.

Di Rumah Sakit Nasser, Khan Younis, suasana duka masih sering terasa. Abu Mohammed al-Qeedra, ayah dari seorang korban tewas, menatap jenazah anaknya dengan mata berkaca-kaca.

"Saya tidak percaya ada gencatan senjata. Ini gencatan senjata palsu," katanya kepada Xinhua, dikutip dari Antara Rabu (14/1).

Selain korban yang masih berjatuhan, datangnya musim dingin memperparah situasi pengungsian. Tenda-tenda darurat tak mampu menahan hujan dan angin dingin. Hingga akhir Desember 2025, otoritas kesehatan Gaza melaporkan tiga orang meninggal akibat kedinginan, termasuk seorang bayi berusia dua bulan.

Di Gaza City, Om Mohammed menggambarkan malam-malam basah yang harus ia lalui.

"Sejak awal musim dingin, kami kebanjiran sekali, dua kali, tiga kali. Semua terpal terangkat ke luar. Perlengkapan tidur basah kuyup, dan pakaian, semuanya kebanjiran," tuturnya.

Warga lain, Mohamed, hanya bisa bertahan dengan bantuan seadanya.

"Orang-orang memberi saya mantel untuk melindungi diri dari hawa dingin. Semua di sekitar saya terendam air. Saya sangat lelah," katanya lirih.

Pasca-gencatan senjata, arus bantuan  kemanusiaan mulai meningkat. Kelangkaan pangan sedikit teratasi. Pada Januari, setiap keluarga menerima dua paket pangan dan dua karung tepung masing-masing seberat 25 kilogram, sesuai standar kebutuhan kalori minimum, menurut OCHA.

Ini menjadi kali pertama sejak Oktober 2023 mitra-mitra PBB memiliki stok yang cukup. Harga pangan di pasar Gaza pun mulai turun. Bahkan, pada pekan kedua Desember 2025, sejumlah bahan pokok dijual lebih murah dibanding sebelum perang, menurut Program Pangan Dunia PBB.

Meski begitu, PBB menegaskan situasi ini masih sangat rentan.

"Pencapaian ini sangat rapuh, sangat berbahaya," kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Desember 2025 lalu.

Diperkirakan 75 persen warga Gaza atau sekitar 1,6 juta jiwa masih menghadapi risiko kerawanan pangan akut dan malanutrisi kritis.

Selain kebutuhan dasar, warga Gaza dihadapkan pada bahaya bahan peledak yang belum meledak. 

Pada 18 Desember, tiga insiden ledakan tercatat melukai warga sipil. Tingkat kontaminasi dinilai “sangat parah” akibat pertempuran dan perangkat peledak yang ditinggalkan.

Di sebuah tenda pengungsian di Gaza City, Mohammed al-Shafea, bocah laki-laki dengan kaki kiri terbalut perban, menceritakan pengalaman traumatisnya.

"Kami sedang bermain di sana ketika tiba-tiba meledak, dan kami terlempar ke segala arah," katanya, menunjuk ke area dekat tenda.

"Kami mengangkat sesuatu, dan itu meledak."

Ibunya kini hidup dalam ketakutan, khawatir anak-anaknya kembali menjadi korban sisa-sisa perang.

Masalah lain yang mengintai adalah tumpukan sampah. Sejak Oktober 2023, kerusakan sistem pengelolaan sampah padat dan medis diperkirakan mencapai 66 juta dolar AS. Di banyak sudut Gaza, anak-anak bermain di antara gunungan sampah, sementara air limbah meluap saat hujan turun.

Para ahli medis memperingatkan kondisi ini berpotensi memicu wabah penyakit baru. Ancaman senyap yang menambah panjang daftar penderitaan warga.

Gencatan senjata mungkin telah meredam suara senjata, tetapi bagi warga Gaza, perjuangan untuk hidup layak masih jauh dari kata selesai. 

Sumber: Xinhua - Antara


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Nazlira Alhabsy Sindir Jokowi pada Skandal Kuota Haji: Diam di Tengah Puing-puing Kejahatan
• 13 menit lalufajar.co.id
thumb
BNPB: 1.189 Korban Meninggal Akibat Banjir & Longsor di Aceh, Sumut, Sumbar
• 7 jam lalujpnn.com
thumb
41.524 Wisatawan Kunjungi Sumba Timur Sepanjang Tahun 2025
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Mata Uang Iran Rontok, Ekonomi Dihantui Inflasi Terparah, Harga Pangan Gila-Gilaan
• 20 jam laludisway.id
thumb
Area biodiversitas tinggi Indonesia 93 juta ha
• 12 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.