Pantau - Chief Investment Officer Bank DBS Hou Wey Fook menilai ekonomi Amerika Serikat memasuki era dominasi fiskal yang semakin menonjol, dengan defisit yang persisten dan utang meningkat, yang berpotensi mengaburkan kebijakan moneter, dalam keterangan resmi di Jakarta pada Rabu, 14 Januari 2026.
Hou Wey Fook menyatakan, “Defisit yang persisten dan utang yang terus meningkat telah menimbulkan kekhawatiran bahwa pembiayaan pemerintah akan mengaburkan kebijakan moneter,” ungkapnya.
Pelemahan kemandirian Federal Reserve dinilai Hou dapat memicu kekhawatiran inflasi, memaksa pasar menuntut premi risiko lebih tinggi, dan meningkatkan tekanan harga karena tidak adanya kerangka fiskal yang komprehensif untuk mengendalikan utang publik.
Ia menegaskan bahwa pendorong utama inflasi bukan berasal dari tarif atau kendala pasokan, sehingga kondisi ini merupakan tantangan praktis bagi pengelolaan portofolio, bukan sekadar risiko teoretis.
Aset Riil sebagai Lindung Nilai dan Tren InvestasiHou Wey Fook menekankan pentingnya melindungi nilai portofolio dengan berinvestasi pada aset riil.
Ia menyampaikan, “Bagi investor, ini bukan sekadar risiko teoretis, melainkan tantangan praktis. Melindungi nilai portofolio berarti berinvestasi pada aset riil. Infrastruktur, properti, komoditas, dan logam mulia secara historis berkinerja lebih baik selama siklus inflasi, sehingga menjadi elemen yang tak tergantikan dalam strategi saat ini,” ungkapnya.
Selain inflasi, ia menyoroti pergeseran struktural akibat deglobalisasi dan kebijakan proteksionis seperti “Amerika Pertama,” yang melemahkan arus perdagangan global dan meningkatkan biaya produksi.
Meski begitu, momentum makro ekonomi masih kuat, didorong oleh siklus investasi modal yang tinggi, terutama pada kecerdasan buatan dan belanja pertahanan.
Penyedia layanan cloud diperkirakan menginvestasikan 1,4 triliun dolar AS untuk infrastruktur kecerdasan buatan pada 2025–2027, sedangkan anggaran pertahanan NATO diprediksi meningkat dari 2 persen menjadi 5 persen dari PDB pada 2035.
Potensi Risiko dan Strategi Fokus KualitasHou Wey Fook mengingatkan potensi bahaya kelengahan investor melalui praktik circular financing, yang mirip dengan vendor financing pada akhir 1990-an.
Ia menyampaikan, “Kami menyadari bahwa kelengahan bisa berbahaya. Munculnya circular financing, tren di mana perusahaan mendanai pertumbuhan satu sama lain, mengingatkan pada praktik vendor financing pada akhir 1990-an, dan karenanya perlu diawasi secara ketat untuk mengidentifikasi potensi kerentanan sistemik,” ungkapnya.
Seiring Federal Reserve beralih ke pemotongan suku bunga dalam kondisi non-resesi, tekanan harga diperkirakan meningkat, sehingga aset riil tetap menjadi lindung nilai paling efektif terhadap inflasi.
Perbandingan kinerja perak dan indeks S&P 500 menunjukkan posisi investor telah ekstrem, menciptakan peluang diversifikasi portofolio.
Hou Wey Fook menegaskan, “Untuk kuartal-kuartal mendatang, ketahanan akan berasal dari fokus pada kualitas, yang mengarah pada rekomendasi kami untuk memprioritaskan saham-saham berkualitas dan obligasi dengan peringkat investasi,” ungkapnya.

