Iran Memasuki Fase Kritis: Sinyal Perang AS Menguat, Rezim Teheran Terjepit dari Dalam dan Luar

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Situasi di Iran mengalami eskalasi tajam dan bergerak sangat cepat dalam beberapa hari terakhir. Pada 13 Januari 2026, sejumlah informasi intelijen sumber terbuka (open-source intelligence/OSINT) untuk pertama kalinya secara jelas mengungkap perubahan signifikan dalam tingkat kesiapan tempur militer Amerika Serikat, memicu spekulasi luas bahwa kawasan Timur Tengah tengah memasuki fase pra-konflik terbuka.

Sinyal Militer AS: Rencana Serangan Mendekati Tahap Final

Seorang pejabat Amerika Serikat mengungkapkan kepada Al Jazeera pada 13 Januari bahwa rencana serangan terhadap Iran telah mendekati tahap final. Seluruh pasukan AS yang ditempatkan di berbagai pangkalan Timur Tengah dilaporkan telah berada dalam status siaga penuh, terutama untuk menghadapi kemungkinan respons militer dari Teheran.

Langkah ini dipandang sebagai sinyal paling jelas sejauh ini bahwa Washington tengah mempersiapkan opsi militer, meskipun belum ada pernyataan resmi mengenai waktu atau bentuk serangan lanjutan.

Peringatan Evakuasi Warga AS dari Iran

Masih pada 13 Januari, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, melalui Kedutaan Besar Virtual AS untuk Iran, mengeluarkan peringatan keamanan tingkat tinggi, mendesak seluruh warga negara AS untuk segera meninggalkan Iran.

Langkah ini diambil mengingat Amerika Serikat dan Iran telah memutuskan hubungan diplomatik sejak 1979, sehingga AS tidak memiliki perwakilan diplomatik fisik di Teheran. Peringatan tersebut menekankan bahwa warga AS harus menyusun rencana evakuasi tanpa mengandalkan bantuan pemerintah AS apabila situasi memburuk.

Latar Belakang Ancaman IRGC

Langkah evakuasi ini juga dikaitkan dengan pernyataan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Juni 2025, setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran. Saat itu, IRGC secara terbuka menyatakan bahwa seluruh warga Amerika di Timur Tengah akan dianggap sebagai target sah.

Kini, meskipun belum ada serangan lanjutan dari AS, proses evakuasi telah lebih dulu dimulai. Para analis menilai pola ini sangat menyerupai fase awal persiapan menuju aksi militer.

Israel Masuk Mode Darurat

Pada 13 Januari, Kementerian Kesehatan Israel mengeluarkan instruksi resmi kepada seluruh rumah sakit dan lembaga layanan kesehatan untuk bersiap beralih ke mode operasi darurat dalam waktu singkat, mengantisipasi potensi eskalasi regional.

KC-46A Muncul: Indikator Lonjakan Kesiapan Tempur

Data OSINT pada 13 Januari juga menunjukkan keberadaan pesawat pengisian bahan bakar udara KC-46A milik AS yang beroperasi di dekat perbatasan Iran.

Berbeda dengan KC-135 yang sebelumnya terdeteksi, KC-46A dirancang khusus untuk lingkungan pertempuran berintensitas tinggi, dengan asumsi musuh memiliki sistem pertahanan udara dan kemampuan perang elektronik canggih. Pesawat ini menitikberatkan koordinasi formasi tempur dan daya tahan operasional, sehingga kehadirannya dipandang sebagai peningkatan signifikan level kesiapan militer AS.

Iran Terisolasi Total: Internet Diputus Lebih dari 100 Jam

Hingga 13 Januari, pemutusan internet di Iran telah berlangsung lebih dari 100 jam, memutus sekitar 90 juta penduduk dari dunia luar. Dampaknya sangat luas:

Seorang warga Iran menggambarkan bahwa satu-satunya pesan yang masih bisa diterima di ponsel hanyalah ajakan mengikuti unjuk rasa pro-pemerintah atau peringatan agar tidak turun ke jalan.

Krisis Ekonomi: Rial Terjun Bebas

Menurut data platform nilai tukar publik, sejak 8 Januari 2026, nilai tukar rial Iran terhadap euro anjlok drastis hingga nyaris tidak bernilai. Secara praktis, dibutuhkan hampir 50.000 rial untuk 1 euro.

Di media sosial, warganet menyindir bahwa kepercayaan terhadap pemerintah telah menjadi nol, bahkan menyamakan uang kertas dengan tisu toilet.

Tekanan Politik dan Ledakan Protes

Pada 12 Januari, sebuah upacara pemakaman di pemakaman terbesar wilayah selatan Teheran berubah menjadi demonstrasi besar, dipimpin oleh keluarga korban dengan teriakan, “Matilah Khamenei!”

Malam harinya, aksi protes besar kembali pecah di Isfahan (kota ketiga terbesar Iran) dan Karaj (kota keenam terbesar). Para demonstran membakar kendaraan keamanan pengangkut Garda Revolusi sambil meneriakkan: “Tahun ini adalah tahun darah! Khamenei pasti akan digulingkan!”

Di Marvdasht, Provinsi Fars, laporan 12 Januari menyebutkan kota tersebut masih berada di bawah kendali kelompok revolusioner yang menyatakan menunggu instruksi lanjutan dari Reza Pahlavi.

Klaim Kota-Kota Jatuh ke Tangan Rakyat

Aktivis diaspora Iran Savakzadeh, dalam pembaruan di platform X pada 13 Januari, menyebut bahwa hingga 12 Januari, berbagai sumber dalam negeri mengonfirmasi banyak kota telah berada di tangan rakyat, termasuk Teheran, Mashhad, Kermanshah, Urmia, Isfahan, serta pelabuhan strategis Ars di selatan Iran.

Di berbagai negara—Australia, Norwegia, Finlandia, Slovenia, Jerman, dan Italia—diaspora Iran mengibarkan bendera singa dan matahari Dinasti Pahlavi, menandai apa yang mereka sebut sebagai momen sejarah pergantian rezim.

Ancaman Tarif Trump dan Dampaknya ke Tiongkok

Pada Senin, 13 Januari, Donald Trump menyatakan bahwa negara mana pun yang tetap berdagang dengan Iran akan dikenakan tarif tambahan sebesar 25%.

Langkah ini secara luas dipahami menyasar Tiongkok, mitra dagang terbesar sekaligus penopang utama ekonomi Iran. Data bea cukai Tiongkok menunjukkan bahwa dari Januari–November 2025, ekspor Tiongkok  ke Iran mencapai US$6,2 miliar, sementara impor dari Iran sekitar US$2,85 miliar, belum termasuk transaksi minyak tidak resmi. Lebih dari 90% minyak Iran dalam beberapa tahun terakhir diketahui mengalir ke Tiongkok melalui perantara.

Jika kebijakan ini diterapkan penuh, tarif minimum produk Tiongkok di pasar AS diperkirakan melonjak dari sekitar 20% menjadi 45%, berpotensi memicu gelombang baru perang dagang AS–Tiongkok.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok  Mao Ning pada 13 Januari kembali menyatakan bahwa perang tarif tidak memiliki pemenang, sembari menegaskan Beijing akan melindungi kepentingan sahnya.

Tekanan Politik Tambahan

Senator AS Lindsey Graham menulis di X bahwa di bawah kepemimpinan Trump, Amerika siap membayar harga apa pun untuk mendukung rakyat Iran, membandingkan sikap tersebut dengan peran Presiden Reagan dalam runtuhnya Tembok Berlin.

Perkembangan Internasional Lain

Kesimpulan:

 Iran kini berada di persimpangan paling berbahaya dalam beberapa dekade terakhir. Tekanan militer dari luar, keruntuhan ekonomi dari dalam, serta gelombang protes nasional yang tak lagi terbendung membuat banyak pengamat menilai bahwa rezim Teheran tengah menghadapi ujian eksistensial. (Hui)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Libur Panjang Sambut Isra Mikraj, KAI Divre III Palembang Siapkan 10.672 Tempat Duduk
• 9 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Xabi Alonso Tinggalkan Posisi Pelatih Real Madrid Lebih Cepat dari Perkiraan
• 17 jam lalurepublika.co.id
thumb
Antisipasi Libur Isra Miraj, KAI Daop 1 Sediakan 158 Ribu Kursi Penumpang
• 13 jam lalueranasional.com
thumb
Kemendagri Dorong Kolaborasi Antardaerah dalam Penanganan Pengelolaan Sampah
• 2 jam laluliputan6.com
thumb
Iran Tangkap Kelompok Teroris Terkait Israel, Rencanakan Pembunuhan hingga Sabotase
• 15 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.