Bandung kembali ke ”setelan pabrik” dalam beberapa hari terakhir. Pagi dan malam hari terasa lebih dingin dari sebelumnya. Hal ini masih akan terjadi hingga sepekan ke depan.
Wahyu (35), sekuriti di salah satu perkantoran di Jalan Aceh, Kota Bandung, Jawa Barat, segera memasang posisi berjemur saat sinar matahari bersinar terik, Rabu (14/1/2025). Dia seperti tidak ingin melewatkan kesempatan merasakan kehangatan matahari yang jarang ia temui awal tahun ini.
“Sepanjang 2026, susah sekali merasakan sinar matahari pagi. Ini mumpung ada, lebih baik memanfaatkannya. Siapa tahu hanya sebentar,” kata dia.
Dugaan itu benar. Matahari hanya datang sebentar saja. Hanya sekitar 15 menit Wahyu merasakan kehangatan itu. Tak lama, yang datang adalah angin yang kencang dan terasa dingin di wajahnya.
“Waktu berjemur hari ini cepat sekali selesainya,” tuturnya.
Hal serupa dikatakan Bambang Wiguna (40), warga Bandung, saat ditemui di Jalan Dago. Beberapa hari terakhir, ia tidak terlalu betah lama-lama lari pagi. Ketimbang ”panen” hangat matahari pagi, ia lebih kerap dihajar angin kencang ketika berlari.
“Karena dingin jadi keringat yang keluar tidak terlalu banyak,” kata dia.
Tidak hanya itu, berlari saat angin kencang di Bandung terbilang mengkhawatirkan. Pada Sabtu (10/1/2025), sebatang dahan kering jatuh tepat di depannya saat melintas di Taman Musik di Jalan Sumbawa.
“Sekarang pilih-pilih tempat. Tidak lari dulu di bawah pohon besar. Takut kena dahan yang tumbang,” kata Bambang.
Di awal tahun ini, Bandung memang tengah kembali ke ”setelan pabrik”. Kota setinggi 768 meter di atas permukaan laut ini lebih dingin dari biasanya. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menguatkannya.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung Teguh Rahayu mengatakan, suhu minimum terendah di bulan Januari tercatat pada tanggal empat dan delapan, sebesar 20,2 derajat celcius. Suhu maksimum tercatat pada 4 Januari 2025, yaitu 31,4 derajat celcius.
Masyarakat diajak mengenali risiko di lingkungan sekitar, selalu memperbarui informasi cuaca, dan mengikuti arahan serta protokol evakuasi dari pemerintah daerah apabila terjadi bencana
Teguh mengatakan, penyebab suhu dingin di Bandung beberapa hari terakhir karena tutupan awan yang banyak. Selain itu, ada konvergensi dan belokan angin yang berpengaruh terhadap kecepatan angin di wilayah Bandung menjadi lebih kencang. “Kecepatan anginnya sampai 20 kilometer per jam,” katanya.
Kondisi itu disebut bakal terjadi di Bandung dan sekitarnya hingga sepekan ke depan. Suhu akan berkisar antara 20-31 derajat celcius dengan kelembaban 65-94 persen. “Kecepatan angin diperkirakan antara 5-19 km per jam,” ujar Teguh.
Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Jabar Rakhmat Prasetya mengatakan, berdasarkan hasil monitoring curah hujan, intensitas hujan lebat hingga ekstrem tercatat merata di semua daerah di Jabar sepekan yang lalu.
Sepekan ke depan, Rahmat mengatakan, hal serupa masih akan terjadi di Jabar. Bila tidak waspada, hal itu akan memicu bencana hidrometeorologis seperti hujan lebat hingga sangat lebat, angin kencang, banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang.
“Masyarakat diajak mengenali risiko di lingkungan sekitar, selalu memperbarui informasi cuaca, dan mengikuti arahan serta protokol evakuasi dari pemerintah daerah apabila terjadi bencana,” tuturnya.
Selain itu, Rahmat menyebut, masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati dalam merencanakan aktivitas. “Perjalanan darat, laut, dan udara, sebaiknya dilakukan dengan tetap memantau informasi cuaca terkini,” kata dia.




/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2025%2F09%2F08%2F42df8c2a1702269893f0f84ebea117ff-1000379410.jpg)