Tren adopsi kecerdasan buatan (AI) di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) kini memasuki fase baru yang lebih matang. Laporan terbaru Lenovo mengungkapkan pertumbuhan Agentic AI (agen AI otonom) di ASEAN mencapai 91 persen secara tahunan.
Menariknya, lonjakan adopsi ini tidak lagi didominasi oleh perusahaan teknologi. Industri yang memegang infrastruktur fundamental justru menjadi pengguna paling agresif, dengan sektor telekomunikasi (telco) berada di posisi terdepan.
Data ini terungkap dari CIO Playbook 2026 yang disusun Lenovo bersama IDC berdasarkan survei terhadap lebih dari 920 CIO (Chief Information Officer) dan direktur teknologi informasi (IT) di Asia Pasifik.
Fan Ho, Executive Director and General Manager Solutions and Services Group Lenovo Asia Pasifik, menyoroti pergeseran signifikan pola adopsi AI dalam satu tahun terakhir. Jika tahun lalu AI lebih banyak diadopsi oleh perusahaan yang berorientasi teknologi, tahun ini tiga industri besar justru mengambil alih panggung utama.
"Setahun kemudian, tiga industri benar-benar menonjol. Pertama adalah telekomunikasi, kedua kesehatan, dan ketiga pemerintahan," ujarnya dalam konferensi pers Lenovo Tech Day 2026 di Jakarta, Selasa (13/1).
Menurut Fan Ho, tingginya adopsi di ketiga sektor ini didorong oleh karakteristik mereka yang memiliki: Infrastruktur fundamental, melayani basis pelanggan yang sangat luas, serta memiliki akumulasi data yang masif.
"Di sektor inilah Agentic AI bekerja paling baik. AI bukan lagi soal hype... terbukti ROI (profit yang diperoleh dari investasi) yang sangat meyakinkan dari investasi Agentic AI," tambahnya.
Meski pertumbuhan minat Agentic AI mencapai 91 persen, tingkat kesiapan perusahaan untuk melakukan implementasi skala besar masih terbatas. Lenovo mencatat hanya 11 persen perusahaan di ASEAN yang menyatakan benar-benar siap untuk melakukan scalling Agentic AI saat ini.
Sementara itu, 43 persen perusahaan mengaku membutuhkan waktu setidaknya 12 bulan lagi untuk mematangkan fondasi sebelum ekspansi.
"Tantangannya ada tiga menurut para CIO di ASEAN Plus. Pertama adalah Responsible AI yang masih kurang. Kedua, keamanan data. Dan ketiga, kualitas data yang buruk. Datanya ada, tapi kualitasnya buruk," jelas Budi Janto, General Manager Lenovo Indonesia.
Lenovo juga mencatat 67 persen organisasi di ASEAN masih berada pada fase uji coba AI secara sistematis. Masa depan AI di kawasan ini disebut akan sangat bergantung pada infrastruktur Hybrid AI, kombinasi antara cloud dan pemrosesan di perangkat lokal (edge), untuk mengatasi isu biaya dan keamanan data yang menjadi perhatian utama industri.
Perusahaan kini tidak lagi sekadar bereksperimen, melainkan mencari dampak nyata. Hal ini tercermin dari pergeseran metrik keberhasilan, dengan implementasi AI kini dituntut untuk memberikan ROI yang jelas serta manfaat non-finansial, seperti peningkatan kepuasan pelanggan dan kecepatan pengambilan keputusan.
"Prioritas bisnis utama kini adalah peningkatan pendapatan dan pertumbuhan laba, karena perusahaan kini telah melewati tahap uji coba dan pilot, lalu mulai fokus pada bagaimana AI benaran diterapkan untuk meningkatkan pendapatan dan pertumbuhan laba," kata Tom Butler, VP Commercial Portfolio & Product Management Lenovo Asia Pacific.




