Sejumlah satwa langka dan terancam punah ditemukan di bentang alam Wehea-Kelay, Kalimantan Timur. Di antaranya orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus morio), lutung kutai (Presbytis canicrus), rangkong gading (Rhinoplax vigil), trenggiling (Manis javanica), beruang madu (Helarctos malayanus), bangau Storm (Ciconia stormi), macan dahan (Neofelis diardi), dan kucing merah (Catopuma badia).
Temuan ini merupakan hasil penelitian kolaboratif yang melibatkan Universitas Mulawarman, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Hasil penelitian disampaikan dalam Simposium Biodiversitas Wehea-Kelay di Samarinda, Rabu (14/1).
Adapun Wehea-Kelay merupakan Kawasan Ekosistem Esensial. Bentang alam di luar kawasan konservasi resmi ini terletak di perbatasan Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Berau.
Dikutip dari keterangan pers YKAN, dari total luas Wehea-Kelay 532.143 hektare, hanya 19 persen yang berstatus hutan lindung. Sisanya berupa konsesi kehutanan, perkebunan, dan area kelola masyarakat. Meski demikian, kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi termasuk menjadi habitat satwa langka yang hampir punah seperti orangutan
Rektor Universitas Mulawarman, Prof. Abdunnur, menyambut baik hasil penelitian tersebut.
“Data dan temuan yang disampaikan menumbuhkan optimisme untuk perbaikan kawasan hutan, khususnya di Kalimantan. Temuan ini juga menjadi contoh bagaimana pengelolaan berbasis lanskap yang melibatkan multipihak dan multidisiplin dapat melindungi hutan dari ancaman degradasi,” ujarnya dikutip dari keterangan YKAN, Rabu (14/1).
YKAN menyebut, penemuan satwa-satwa langka ini merupakan bagian dari penelitian tematik biodiversitas yang dilakukan di 2025 di Bentang Alam Wehea-Kelay. Studi tersebut berhasil mengidentifikasi sebanyak 1.618 jenis flora dan fauna, di mana 38 persen di antaranya merupakan mamalia terestrial, 47 persen jenis burung, 20 persen reptil, dan 70 persen amfibi. Selain itu, ditemukan juga 88 jenis serangga dari taksa kupu-kupu dan kumbang sungut, serta 987 jenis tumbuhan hutan.
Peneliti Ahli Utama BRIN, Tri Atmoko, menyampaikan, salah satu metode yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu melalui pemantauan satwa liar dan tumbuhan, termasuk penggunaan teknologi kamera jebak dan perekam suara bioakustik. Ia menyebutkan, temuan terbaru ini menambah 275 jenis flora dan fauna jika dibandingkan penelitian serupa di tahun 2016 yang mencatat sebanyak 1.343 jenis.
“Selain karena metode yang digunakan lebih baik, pihak-pihak yang berkepentingan di Wehea-Kelay juga mempunyai komitmen, visi, dan misi yang sama terkait dengan pelestarian keanekaragaman rakyati yang ada di kawasan tersebut,” terang Tri.
Direktur Eksekutif YKAN Herlina Hartanto dalam kesempatan yang sama menyampaikan, inisiatif kolaborasi pengelolaan sumber daya alam di Bentang Alam Wehea-Kelay, sudah dilakukan sejak tahun 2015. Kawasan ini ditentukan mengikuti sebaran orangutan Kalimantan, yaitu sungai-sungai besar seperti Sungai Kelay, Sungai Wehea, dan sebagian kecil hulu Sungai Telen.
Selain menjadi habitat satwa langka, Wehea-Kelay merupakan hulu penting bagi Sungai Mahakam dan Sungai Segah. Lebih dari 5.000 km daerah aliran sungai mengalir ke Kabupaten Berau dan Kutai Timur, memberikan jasa lingkungan seperti fungsi hidrologis dan udara bersih. Sekitar 80 persen dari luas Wehea-Kelay masih berupa hutan yang berpotensi menyimpan 191 juta ton CO₂ equivalen, sehingga berperan besar dalam mitigasi perubahan iklim. Sejak 2015 Pemprov Kaltim bersama YKAN mengajak berbagai pihak untuk mengelola kawasan tersebut.
“Studi terakhir menunjukkan ada penambahan temuan jenis flora dan fauna dari pendataan awal. Artinya pengelolaan kolaboratif di Wehea-Kelay telah memberikan dampak positif di mana kepentingan ekonomi, lingkungan dan sosial budaya dapat berjalan secara bersama-sama dengan menjaga nilai biodiversitas. Salah satunya habitat orangutan yang berada di luar kawasan konservasi,” ujar Herlina.
Selain fokus pada perlindungan ekosistem, pengelolaan kawasan juga mencakup pemanfaatan hasil hutan bukan kayu melalui inovasi bioprospeksi. Kajian terhadap 60 jenis tumbuhan hutan yang terinspirasi dari pakan orangutan menemukan bahwa 11 di antaranya berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi, seperti kandungan fitokimia untuk kesehatan, antidiabetes, antikanker, dan sitotoksisitas.
“Jenis-jenis tumbuhan yang telah diteliti dan memiliki potensi medisinal serta nutrisi ini tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan manusia, tetapi juga mendukung pengembangan ekonomi masyarakat dengan mengoptimalkan potensi bioprospeksi,” tuturnya.
Direktur Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences IPB University, Prof. Damayanti Buchori, menyampaikan praktik di Wehea-Kelay layak menjadi rujukan bagi pengelolaan hutan di wilayah lain di Indonesia, seiring dengan tingginya tuntutan untuk alih fungsi lahan. “Pendekatan kolaboratif berbasis bukti ini menunjukkan bahwa konservasi bisa berjalan beriringan dengan kepentingan ekonomi. Model ini perlu diterapkan di wilayah-wilayah lain,” pungkas Damayanti.



