Pakar Ekonomi Pertanian UIN Dorong Restorasi Ekologis Aktif Pascabencana Aceh

jpnn.com
2 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Bencana banjir dan longsor Aceh pada akhir 2025 tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik dan korban jiwa, tetapi juga memicu krisis ekologi yang mengancam ketahanan pangan hingga ekonomi masyarakat.

Dampak banjir Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menyebabkan kerusakan luas pada sektor pertanian dan perikanan, meningkatkan risiko gagal panen serta melemahkan ekonomi rakyat pascabencana.

BACA JUGA: Bea Cukai Lhokseumawe Menyalurkan Bantuan Bagi Warga Terdampak Banjir di Aceh Utara

Kondisi ini menegaskan pentingnya restorasi ekologi pascabencana berbasis nature-based solutions sebagai upaya pemulihan lingkungan, perlindungan ekosistem, dan keberlanjutan pembangunan Aceh.

Guru Besar Ekonomi Pertanian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Achmad Tjachja Nugraha menegaskan bahwa rekonstruksi Aceh pascabencana harus dilakukan melalui pendekatan restorasi ekologis yang aktif dan terencana, bukan semata pemulihan fisik.

BACA JUGA: Banjir Akibat Cuaca Ekstrem Melanda 3 Desa di Lombok Tengah

“Kerusakan lingkungan di Aceh sudah berada pada skala yang tidak bisa dibiarkan pulih secara alami. Negara harus hadir melalui restorasi ekologis aktif, terutama pada sektor pertanian dan perikanan yang menjadi tumpuan hidup rakyat,” ujar Prof. Achmad.

Dia menjelaskan restorasi ekologi bertujuan memulihkan integritas dan fungsi ekosistem secara menyeluruh agar kembali produktif, mandiri, dan memiliki ketahanan terhadap bencana di masa depan.

BACA JUGA: Tol Arah Bandara Soetta Masih Tergenang Banjir, Lalin Tersendat

Pendekatan ini mencakup rehabilitasi tanah, pemulihan daerah aliran sungai, penguatan ekosistem pesisir, serta pemanfaatan nature-based solutions sebagai infrastruktur hijau yang berkelanjutan.

Berdasarkan pengamatan foto udara dan laporan pemerintah daerah, lahan pertanian yang terdampak banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat diperkirakan mencapai sekitar 40.000 hektare, mencakup sawah, tanaman pangan, dan hortikultura.

Sebagian besar sawah dilaporkan terendam air dalam waktu lama, tertimbun lumpur, serta mengalami gangguan masa tanam hingga gagal panen.

Di tingkat daerah, dampak tersebut terlihat nyata. Di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, misalnya, kerusakan lahan pertanian dilaporkan mencapai sekitar 3.245,11 hektare, sementara di sejumlah kabupaten di Aceh kerusakan sawah dan lahan pangan tercatat mencapai ratusan hektare.

Pemerintah pusat juga menyatakan akan melakukan pencetakan ulang sekitar 11.000 hektare sawah yang rusak parah akibat banjir di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sebagai bagian dari upaya pemulihan ketahanan pangan.

Sektor perikanan turut mengalami dampak signifikan. Berdasarkan kajian awal Kementerian Kelautan dan Perikanan, luas area budidaya perikanan atau tambak di Aceh yang terdampak banjir diperkirakan mencapai sekitar 38.875 hingga 40.000 hektare.

Kerusakan tambak tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomi bagi pembudidaya, tetapi juga berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem pesisir.

Dalam kesempatan tersebut, sebagai Ketua Umum Keluarga Alumni Sosial Ekonomi Pertanian Agribisnis Indonesia (KASAI), Achmad juga mengapresiasi langkah aktif Presiden yang sejak awal bencana memberikan dukungan penanganan darurat hingga membentuk satuan tugas khusus untuk mempercepat koordinasi lintas kementerian dan daerah.

“Langkah cepat Presiden dalam mendukung penanganan bencana dan membentuk Satgas menunjukkan kehadiran negara di saat krisis, sekaligus memberi kepastian bagi masyarakat terdampak,” katanya.

Dia juga memberikan apresiasi terhadap Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dinilai sigap dalam penanganan darurat dan koordinasi lapangan.

Menurutnya, keterlibatan BNPB bersama pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat menjadi simbol kebersamaan seluruh anak bangsa dalam menghadapi bencana.

“Respons aktif BNPB dan solidaritas nasional yang terbangun memberikan harapan bahwa pemulihan Aceh tidak dilakukan sendiri, tetapi menjadi tanggung jawab bersama,” ujar Achmad.

Meski demikian, dia menegaskan bahwa pemulihan hunian dan infrastruktur harus diiringi pemulihan ekosistem dan mata pencaharian masyarakat.

Tanpa restorasi ekologi yang terencana dan berkelanjutan, risiko kerentanan ekonomi serta bencana berulang akan tetap tinggi.

Dalam konteks nasional, dia menilai Aceh berpeluang menjadi model rekonstruksi pascabencana yang tidak hanya membangun kembali fisik wilayah, tetapi juga memulihkan ekosistem, memperkuat ketahanan pangan, dan mewujudkan pembangunan berkelanjutan. (cuy/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tebing di Gunung Papandayan Longsor, Pendakian Pos 7 Tak Bisa Dilalui


Redaktur & Reporter : Elfany Kurniawan


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Menlu Sebut Geopolitik Global di Zona Abu-abu, Perdamaian dan Konflik Makin Bias
• 2 jam laluidxchannel.com
thumb
Tidak Hanya di Bireuen, Bantuan Korban Banjir dan Longsor Juga Menumpuk di Gedung Nasional Taput
• 6 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Ki Saur Panjaitan Harap SMA Taruna Nusantara Malang Perkuat Nasionalisme dan pendidikan Karakter dengan Asah Asih Asuh
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
Putar Otakmu Carrick! Tidak Ada Uang Belanja dari MU Januari Ini
• 2 jam laluharianfajar
thumb
Ditemukan Mayat Anak Laki-laki di Pelabuhan PELNI
• 5 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.