EtIndonesia. Krisis nasional di Iran pada Selasa, 13 Januari 2026, memasuki fase paling menentukan sejak rezim teokrasi berkuasa hampir setengah abad lalu. Negara itu kini berada di ambang keruntuhan, di tengah gelombang protes nasional, pembantaian massal warga sipil, serta sinyal konfrontasi terbuka dari Amerika Serikat.
Situasi yang berkembang cepat ini dipicu oleh satu pernyataan keras dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang diunggah pada pagi hari, pukul 09 : 43 waktu Washington, dan langsung mengguncang peta politik global.
Unggahan tersebut dinilai oleh banyak pengamat internasional sebagai isyarat paling jelas menuju konfrontasi langsung antara Amerika Serikat dan rezim Iran.
Unggahan Trump yang Mengubah Arah Sejarah
Pada Selasa pagi itu, Trump secara terbuka menyerukan perlawanan rakyat Iran melalui media sosial.
Dalam pesannya, dia menulis: “Para patriot Iran, teruslah berjuang. Rebut kembali institusi kalian. Catat nama para pembunuh dan pelaku kekerasan—mereka akan membayar harga yang sangat mahal. Sebelum pembantaian keji terhadap para demonstran ini dihentikan, saya telah membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran. Bantuan sedang dalam perjalanan. MEGA — Make Iran Great Again.”
Pernyataan ini dipandang luas sebagai deklarasi politik paling agresif AS terhadap Iran sejak Revolusi Islam 1979, bahkan disamakan oleh sejumlah analis sebagai “terompet perang” terhadap para mullah garis keras di Teheran.
Pembantaian Massal 8–9 Januari: Titik Balik Krisis
Laporan independen dari media oposisi Iran International mengungkap fakta mengejutkan terkait eskalasi kekerasan di dalam negeri Iran.
Berdasarkan data rumah sakit, kesaksian medis, sumber internal pemerintah, dan saksi mata, pada 8 dan 9 Januari 2026, Iran mengalami pembantaian warga sipil terbesar di masa damai.
- Sedikitnya 12.000 orang tewas hanya dalam dua hari
- Korban termasuk perempuan dan anak-anak
- Luka-luka yang ditemukan bersifat luka perang, akibat senjata otomatis berpeluru tajam
Sumber intelijen yang diklaim telah diverifikasi menyebutkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, secara langsung mengeluarkan perintah tembak yang dikirim ke tiga lembaga utama negara. Fakta ini memperkuat tudingan bahwa kekerasan tersebut merupakan kejahatan negara yang terorganisir dan direncanakan.
Tentara Bayaran Asing dan Sniper di Atap Gedung
Ketika sebagian aparat militer dan kepolisian Iran menolak menembak rakyatnya sendiri, rezim dilaporkan mengambil langkah ekstrem.
Di sejumlah kota, termasuk Dezful, warga melaporkan kehadiran kelompok bersenjata bertopeng yang:
- Tidak berbicara bahasa Persia
- Menggunakan bahasa Arab
- Diduga berasal dari milisi Irak
Dalam beberapa hari terakhir, penembak jitu bayaran ditempatkan di atap gedung untuk menembak demonstran secara acak. Video yang beredar juga menunjukkan sisa-sisa milisi pro-rezim Suriah dan Lebanon menyatakan kesiapan membantu Teheran menekan rakyatnya sendiri.
Reaksi Dunia: Barat Pecah Diam
Selama dua hari terakhir, sikap internasional terhadap Iran berubah drastis.
- Kanselir Jerman Olaf Scholz menyatakan bahwa rezim Iran telah kehilangan seluruh legitimasi dan memasuki hari-hari terakhirnya.
- Menteri Luar Negeri Australia menegaskan bahwa pemerintahan yang bertahan dengan membunuh rakyatnya sendiri tidak memiliki legitimasi apa pun.
- Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy bahkan menulis pernyataan dalam bahasa Arab, menyebut bahwa pemberontakan di Iran menjadi sinyal memburuknya posisi Rusia secara global.
Bayang-bayang Perang: Pengerahan Militer AS
Di kawasan Teluk Persia, pengerahan militer Amerika Serikat kian masif dan sistematis:
- Jet tempur siluman F-35 siaga di Arab Saudi
- Pembom strategis B-52H dan B-2 Spirit berada dalam status siap lepas landas
- Pesawat angkut militer terus mengalirkan persenjataan berat ke Timur Tengah
Secara paralel, Israel—yang baru saja mendekati akhir konflik dengan Hamas—dipandang siap menjadi sekutu tempur utama AS jika operasi terhadap Iran dilancarkan. Keunggulan intelijen Israel dinilai menjadi faktor kunci dalam skenario “serangan dari luar dan dalam” terhadap Teheran.
Sanksi Ekonomi: Serangan dari Dalam
Selain tekanan militer, Washington juga melancarkan serangan ekonomi mematikan.
Nilai tukar rial Iran terhadap euro sempat menyentuh angka nol, sebuah fenomena langka yang mencerminkan runtuhnya kepercayaan total terhadap rezim.
Trump kemudian mengumumkan kebijakan tegas:
Mulai 13 Januari 2026, negara mana pun yang tetap berbisnis dengan Republik Islam Iran akan dikenai tarif 25% atas seluruh transaksi dagang dengan Amerika Serikat.
Kebijakan ini bersifat final dan mengikat.
Data perdagangan menunjukkan mitra utama Iran meliputi:
- Tiongkok (22–32%)
- Uni Emirat Arab
- Irak
- Turki
- India
- Pakistan
Langkah ini menempatkan mitra-mitra tersebut pada dilema strategis besar.
Kesaksian Medis: Rumah Sakit Jadi Medan Perang
Seorang dokter bedah di Teheran bersaksi bahwa sejak awal pekan kedua Januari, kekerasan meningkat drastis:
- Garda Revolusi dan milisi Basij menggunakan senapan otomatis
- Peluru tajam digunakan tanpa peringatan
- Rumah sakit dipenuhi jenazah
- Tenaga medis kewalahan menangani korban
“Ini bukan lagi operasi keamanan. Ini perang terhadap rakyat sendiri,” ujarnya.
Rakyat Bertahan di Tengah Kegelapan
Di tengah pembantaian, semangat perlawanan rakyat Iran tidak padam. Seorang demonstran mengatakan: “Sekalipun kami dibantai, kami tidak akan mundur. Kami harus merebut kembali negara kami.”
Banyak pengamat menilai, jika perubahan akhirnya terjadi, itu bukan semata hasil tekanan luar, melainkan karena rakyat Iran sendiri telah menyalakan api perlawanan di saat paling gelap dalam sejarah mereka.
Penutup: Dunia Menanti Babak Akhir
Per 13 Januari 2026, revolusi paling mengguncang di Timur Tengah abad ini telah memasuki pertempuran penentuan.
Apakah Iran akan runtuh melalui tekanan internal, intervensi eksternal, atau kombinasi keduanya—dunia kini menahan napas menunggu jawabannya.
Namun satu hal kian diyakini oleh banyak pihak: Iran tidak akan pernah kembali seperti sebelumnya.




