Kata DLH Kabupaten Magelang Soal Randu Alas Borobudur Keluar Getah Mirip Darah

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Kepala Bidang Pengelolaan Keanekaragaman Hayati dan Kearifan Lokal (PKKLH) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magelang, Joni Budi Hermanto, angkat bicara soal getah menyerupai darah ketika pemangkasan ranting pohon randu alas raksasa di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.

"Bukan darah, itu yang namanya randu alas, itu memang getahnya merah," kata Joni melalui sambungan telepon, Rabu (14/1).

Joni mengatakan dahulu, getah randu alas bahkan digunakan untuk mewarnai pakaian.

"Bahkan getah randu alas itu sering dipakai buat pewarna kain. Seperti apa ecoprint atau apa itu," katanya.

"Dan itu bisa sebagai obat juga, antara lainnya sebagai obat kumur, kemudian obat pengganti betadin segala macam," katanya.

Joni meminta hal ini jangan digoreng media sosial dengan dikaitkan kepada hal mistis.

"Memang getahnya warnanya merah, jadi jangan digoreng, terus ada bau mistis," katanya

Sebelumnya Joni mengatakan berdasarkan hasil pengamatan DLH, 80 persen tidak ada tanda-tanda kehidupan di pohon yang diperkirakan berusia ratusan tahun itu.

"Setelah kami checking di lapangan, sesuai dengan kemampuan dan batasan pengetahuan kami, kami melihat memang sebetulnya 80 persen itu tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi," kata Joni.

Hal ini ditandai dengan semua kulit luar pohon sudah mengelupas. Kambiumnya sudah tidak ada.

"Kambiumnya sudah tidak ada, dari bawah sampai atas itu kan sudah mengelupas nih. Kemudian, awalnya kami akan coba beberapa titik untuk melihat apakah ada kehidupan atau tidak. Itu kita tunggu beberapa saat, apakah keluar getah ataupun keluar cairan yang sebetulnya nutrisi untuk nyuplai sampai ke atas. Tapi waktu itu sudah dipotong satu dahan baru separuh sudah roboh," katanya.

Lanjut Joni, struktur bawah hampir separuh lebih sudah mati.

"Jadi emang menurut apa yang kami tahu, yang pernah kami baca dari literasi, bahwa pelapukan pohon mati itu berawal dari sisi luar. Karena sisi luar kena sinar matahari dan hujan secara langsung. Dia akan melapuk, kemudian menjalar dari bawah sampai ke atas, kemudian dari sisi luar itu ke dalam. Jadi, memang butuh waktu proses untuk itu sampai istilahnya kering semuanya," katanya.

Pengamatan sementara tak ada tanda-tanda kehidupan dari mulai empat meteran atau tiga meter ke atas. Informasi dari Kepala Desa beberapa dahan pohon juga sudah sering patah dan ketika jatuh langsung hancur.

Di sisi lain, di pohon itu sebelumnya sempat terpasang reklame, paku, hingga besi di batang bagian bawah yang dahulu untuk tenda PKL. Pihaknya langsung mencabutnya.

"Itu penyebabnya, salah satunya itu, tapi ya mungkin ada faktor lain, kami belum meneliti lebih lanjut," katanya.

Joni mengatakan Bupati Magelang akan mengecek langsung pohon. Setelah pengecekan itu baru akan diputuskan tindakan selanjutnya.

"Pak Bupati sangat konsen dengan lingkungan hidup, peduli dengan pohon, itu beliau sangat konsen sekali. Eman (sayang) sekali sebenarnya. Jangan sampai apa yang beliau putuskan itu ternyata kurang pas. Beliau akan cek langsung," katanya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Menlu Tegaskan Diplomasi Ekonomi Jadi Inti Diplomasi Indonesia
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Hujan Deras Picu Longsor di Ponorogo, Jalan Poros Wates–Wagir Lor Terancam Putus
• 8 jam lalurealita.co
thumb
Pemprov Jabar Utang ke Kontraktor Rp621 Miliar, Gaya Kepemimpinan KDM Dikritik
• 6 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Sinopsis Drama China Summer Again, Kisah Ballerina Tomboy Ni Ke Xin yang Jatuh Cinta pada Dewa Manga Chen He Yi
• 31 menit lalugrid.id
thumb
Terungkap, Inara Rusli dan Insanul Fahmi Tak Bisa Sahkan Pernikahan Siri karena Aturan Ini
• 23 jam laluinsertlive.com
Berhasil disimpan.