FAJAR, JAKARTA– Buku Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah ditulis aktris Aurelie Moeremans yang menjadi salah satu topik hangat di kalangan pembaca awal tahun ini.
Kehadiran buku ini dinilai berbeda dengan karya selebritas Tanah Air pada umumnya karena ditulis dengan pendekatan personal dan jujur, sehingga banyak pembaca merasa memiliki kedekatan emosional dengan cerita yang disampaikan.
Meski demikian, banyak juga yang kontra dengan isi buku tersebut.
Sinopsis Buku Broken Strings
Broken Strings bercerita tentang perjalanan hidup Aurelie sejak usia remaja tahun di Belgia. Lingkungan tempat tinggalnya saat itu digambarkan tidak ramah, bahkan cenderung keras.
Ia kerap mengalami perundungan, namun tetap berusaha tampil sebagai sosok yang baik dan berprestasi.
Pada usia 15 tahun, Aurelie berkenalan dengan seorang pria dewasa yang usianya terpaut cukup jauh darinya. Kemudian pria ini menjadi figur manipulatif dalam hidupnya.
Pria tersebut disebut dengan nama samaran Bobby di dalam buku, yang awalnya tampak penuh perhatian. Hubungan mereka pun berkembang menjadi kisah romansa yang tampak indah, diwarnai ungkapan cinta dan janji-janji manis.
Namun kemudian berubah menjadi sumber kekerasan emosional, fisik, dan bahkan seksual.
Apa yang semula tampak sebagai cinta perlahan bergeser menjadi bentuk kontrol. Aurelie dijauhkan dari lingkungan pertemanannya, mengalami penghinaan verbal, hingga kekerasan fisik dan seksual.
Pengalaman tersebut membuat Aurelie terpuruk secara mental. Ia menyadari bahwa dirinya menjadi korban child grooming, sebuah bentuk kekerasan yang sering kali tidak disadari oleh korban maupun lingkungan sekitar.
Aurelie secara jujur menggambarkan proses manipulasi yang sering kali tak terlihat oleh orang di luar hubungan tersebut, serta dampak psikologis yang berlarut setelahnya.
Ia menuliskan pengalaman ini tanpa banyak polesan editorial karena Broken Strings diterbitkan secara mandiri oleh dirinya sendiri. Keputusan ini menjadikan buku tersebut sangat personal, sekaligus menjadi ruang aman untuk menyampaikan kebenaran hidup yang sering tersembunyi.
Lewat buku ini, Aurelie menuliskan memoar sebagai bagian dari proses pemulihan dirinya. Ia menegaskan bahwa Broken Strings tidak ditulis untuk menyerang siapa pun. Nama, tempat, dan detail peristiwa disamarkan demi menjaga privasi semua pihak.
Melalui pengalaman pribadinya, Aurelie juga membuka ruang diskusi tentang isu yang sering kali dianggap tabu atau terabaikan. Broken Strings mengajak pembaca untuk memahami bahwa apa yang tampak sebagai “perhatian” dalam hubungan bisa jadi bermotif manipulatif dan berbahaya.
Pesan moral dari Broken Strings bukan hanya tentang kekuatan seorang individu untuk bertahan dari kisah buruk, tetapi juga tentang pentingnya kesadaran tentang hubungan yang sehat, dukungan sosial, dan kekuatan untuk berbicara ketika mengalami sesuatu yang tidak semestinya.
Kisah seperti ini juga membantu menyadarkan publik bahwa trauma bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan, melainkan dipahami dan diatasi bersama. (bs)




