JAKARTA, KOMPAS.com - Suku Dinas (Sudin) Lingkungan Hidup Jakarta Timur memastikan pengangkutan gunungan sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, telah rampung setelah menjadi sorotan publik dan viral di media sosial.
Kepala Satuan Pelaksana Lingkungan Hidup (Satpel LH) Kecamatan Kramat Jati, Dwi, mengatakan pengangkutan sampah dilakukan secara intensif dalam beberapa hari terakhir.
Ia menjelaskan, Pasar Induk Kramat Jati setiap hari menghasilkan sekitar 180 hingga 200 ton sampah.
"Kemarin kita sudah mengangkutkan (sampah harian) sebanyak kurang lebih 11 truk pengangkutan sampah. Hari ini kita akan upaya lagi sekitar 10 sampai 12 truk yang kita rencanakan untuk pengangkutan," jelas Dwi saat ditemui, Rabu (14/1/2026).
Selain pengangkutan, Sudin Lingkungan Hidup juga mendorong pihak pengelola pasar untuk mulai melakukan pengolahan sampah secara mandiri, khususnya sampah organik.
Baca juga: Sejarah dan Penyebab Tiang Monorel Jakarta Mangkrak Selama 20 Tahun
"Maka nanti ke depannya, kami di Sudin LH hanya akan mengambil dalam hal perbantuan pengangkutan sampah yang jenisnya residu, atau sisa-sisa yang sudah tidak bisa terolah kembali," ungkapnya.
Menurut Dwi, pengelolaan sampah dari sumbernya menjadi langkah penting agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.
"Sedangkan untuk fresh waste (sampah baru), kami akan mendorong untuk dilakukan pengelolaan, baik melalui composting, dengan maggot, ataupun pemanfaatan sampah-sampah organik lainnya," jelasnya.
Dwi memastikan, tumpukan sampah yang sempat viral telah selesai diangkut dalam waktu lima hari. Total sampah yang diangkut selama periode tersebut mencapai ribuan ton.
"Iya, hari Senin tanggal 12 (terakhir), pokoknya di 5 hari itu ada sekitar 3.012 ton," jelas Dwi.
Baca juga: Jeritan PJLP Usia 56 Tahun Dirumahkan: Rumah Tangga Saya Terancam Berantakan
Sampah Menggunung dan Dikeluhkan WargaSebelumnya, tumpukan sampah menggunung di Pasar Induk Kramat Jati dikeluhkan warga pada Rabu (7/1/2026).
Sampah yang menumpuk di tempat penampungan sementara (TPS) pasar tersebut menimbulkan bau busuk menyengat hingga mencemari lingkungan sekitar.
Berdasarkan pemantauan Kompas.com di lokasi, sampah tampak menggunung di area TPS dengan ketinggian diperkirakan lebih dari enam meter, bahkan melampaui tinggi truk pengangkut sampah yang melintas di kawasan pasar.
Selain bau tak sedap, kondisi jalan di sekitar TPS terlihat becek dan licin. Air bercampur sisa-sisa sampah mengalir dan menggenangi badan jalan, membuat lingkungan pasar tampak kumuh.
Baca juga: Pedagang Cangcimen Jakarta Terus Bertahan di Celah Kota yang Semakin Tertata
Di lokasi, terlihat satu truk sampah berukuran besar serta sebuah alat berat yang tengah melakukan pengangkutan.
Namun, saat itu upaya tersebut dinilai belum cukup untuk mengatasi volume sampah yang terus bertambah.
Penelusuran Kompas.com di area luar pasar yang berbatasan langsung dengan TPS juga mendapati kondisi yang memprihatinkan.
Tembok pembatas di belakang TPS tampak jebol, diduga akibat tekanan tumpukan sampah yang melebihi kapasitas.
Akibatnya, sejumlah bagian tembok dan tiang runtuh dan masuk ke dalam saluran air yang berada tepat di balik TPS.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



