Pembiayaan Mobil Baru di Industri Multifinance Lesu, Ini Penyebabnya

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Minimnya peluncuran model mobil baru yang menarik dinilai menjadi salah satu faktor utama kontraksi pembiayaan mobil baru oleh industri multifinance sebesar 4,65% secara tahunan (year-on-year/YoY) per November 2025.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menuturkan, setelah pasar dibanjiri produk Low Cost Green Car (LCGC), belum terlihat inovasi signifikan yang mampu kembali menarik minat konsumen, khususnya dari kalangan kelas menengah, untuk membeli mobil baru.

“Selain hal itu, ada juga faktor daya beli masyarakat di kelas menengah yang sebagian uangnya digunakan untuk membiayai kebutuhan pokok di luar dari cicilan kendaraan bermotor,” paparnya kepada Bisnis, Rabu (14/1/2026).

Bhima menambahkan, tren pemutusan hubungan kerja (PHK) yang menimpa sekitar 88.000 pekerja sepanjang 2025 turut menekan permintaan pembiayaan mobil baru.

“Jadi mencari pekerjaan pun jadi lebih sulit, berpengaruh pada pendapatan untuk kemampuan membayar cicilan, membayar uang muka, Itu juga jadi berkurang di kredit kendaraan bermotor,” tuturnya.

Untuk mendorong pemulihan pasar, Bhima menyarankan pabrikan menghadirkan model-model baru yang lebih inovatif dan relevan dengan kebutuhan konsumen, terutama pada segmen mobil keluarga seperti SUV dan MPV.

Baca Juga

  • BRI Finance Ungkap Dua Tantangan Pembiayaan Mobil Baru 2026
  • Dukung Penyaluran KUR, Jamkrindo Perkuat Tata Kelola dan Manajemen Risiko
  • OJK: Pembiayaan Mobil Bekas Tumbuh 0,42%, Mobil Baru Turun 4,65% per November 2025

Di sisi lain, dia menilai kebijakan insentif juga perlu dievaluasi. Sepanjang 2025, insentif besar justru lebih banyak diberikan kepada mobil hybrid yang menyasar segmen menengah atas.

“Nah jadi banyak insentif yang kemudian tidak dirasakan ke pembeli mobil-mobil yang tipe medium,” sebut Bhima.

Adapun, Bhima melihat peluang pertumbuhan justru lebih terbuka pada segmen mobil niaga dan logistik, baik baru maupun bekas. Hal ini seiring dengan pembukaan kawasan industri baru dan ekspansi pembangunan ke wilayah Indonesia bagian timur.

“Itu juga membuka potensi untuk penjualan mobil-mobil niaga, baik baru maupun bekas. Nah ini yang harusnya didorong untuk ekspansi ke pasar-pasar baru,” ucapnya.

Sejalan dengan pelemahan pembiayaan mobil baru, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan mobil bekas oleh industri multifinance justru tumbuh 0,42% YoY. Menurut Bhima, pertumbuhan tersebut mencerminkan penurunan daya beli masyarakat.

Dia menyebut mobil bekas yang diminati masih didominasi kendaraan berbahan bakar bensin, terutama LCGC dan SUV. Sementara itu, pasar mobil listrik bekas dinilai belum terbentuk secara optimal.

“Sementara untuk yang kendaraan listrik, pasar mobil bekasnya memang belum terbentuk. Masih banyak yang khawatir soal kualitas, kualitas dari baterainya, kemudian juga harga jual mobil listrik bekas memang belum terbentuk di pasaran,” jelasnya.

Sementara itu, praktisi dan pengamat industri pembiayaan Jodjana Jody menilai pasar otomotif pada 2026, khususnya mobil baru dan segmen LCGC, masih berada dalam tekanan.

Dia mencatat rasio kredit bermasalah (non-performing financing/NPF) pembiayaan kendaraan bermotor masih relatif tinggi di kisaran 2,7%. Kondisi tersebut mendorong perusahaan pembiayaan bersikap lebih selektif dalam menyalurkan kredit, sehingga menekan pertumbuhan pembiayaan mobil baru.

“Sementara itu, mobil bekas pun sebenarnya tumbuh terbatas karena ukuran pasarnya yang lebih besar sekitar dua kali mobil baru. Sehingga masih memberikan ruang untuk tumbuh walaupun sedikit,” ujarnya ketika dihubungi, Rabu (14/1/2026).

Dengan kondisi tersebut, Jodjana memperkirakan pembiayaan mobil pada 2026 cenderung stagnan, dengan pertumbuhan kredit kendaraan bermotor yang terbatas di level satu digit. Untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi, industri multifinance dinilai perlu melakukan diversifikasi ke sektor lain.

“Jadi, strategi bertumbuh yaitu memperkuat penetrasi segmen otomotif yang layak, expand ke segmen nonotomotif, dan prudent acquisition strategy,” pungkasnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Menlu Sugiono Pantau Tiap Jam soal Nasib 2 WNI Diculik Bajak Laut di Gabon
• 8 jam laludetik.com
thumb
Ketua DPD RI: Biaya Politik Indonesia Termahal di Dunia, Pilkada Langsung Perlu Dievaluasi
• 4 jam laludisway.id
thumb
Hasan Nasbi Sebut Pandji Sindir Pemerintah untuk Bertahan Hidup, Umar Hasibuan Beri Balasan Tak Terduga
• 13 jam lalufajar.co.id
thumb
OJK Rilis 2 Aturan Baru Bikin Kuat Industri Asuransi dan Dana Pensiun
• 3 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
PM Jepang Berencana Adakan Pemilu Dini, Guncang Pasar Saham-Obligasi
• 19 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.