REPUBLIKA.CO.ID, SURAKARTA-Sejak akhir 2025, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kota Surakarta mengembangkan ruang metaverse sebagai bagian dari inovasi layanan digital.
Memasuki awal 2026, inisiatif ini mulai diperkenalkan lebih luas kepada publik sebagai upaya memperkuat akses literasi dan arsip melalui pendekatan teknologi imersif.
- 3 Negara Islam Ini Riang Gembira dengan Keputusan Amerika tentang Ikhwanul Muslimin
- Pakar Inggris Sebut Trump akan Menyesal Selamanya Jika Serang Iran
- Iran: Kami Siap Perang dengan Amerika Serikat, Lebih Siap Dibandingkan Perang Sebelumnya
Kehadiran metaverse ini menjadi salah satu langkah Dispersip dalam merespons perubahan cara masyarakat, khususnya generasi muda, dalam mengakses informasi dan pengetahuan.
Menurut Plt Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surakarta, Adityo Setyawarman, metaverse dipandang sebagai ruang baru untuk memperluas jangkauan layanan literasi dan kearsipan tanpa menggantikan layanan fisik yang sudah ada.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Platform ini dirancang sebagai pelengkap, sekaligus penguat, dari berbagai layanan perpustakaan dan kearsipan yang selama ini telah berjalan, baik secara luring maupun daring.
Melalui metaverse, Dispersip ingin menghadirkan layanan informasi yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi, namun tetap berakar pada kebutuhan masyarakat.
Adityo menjelaskan bahwa pengembangan metaverse ini sejalan dengan misi Dispersip Kota Surakarta dalam meningkatkan minat baca, literasi informasi, serta pemahaman masyarakat terhadap arsip dan sejarah daerah.
Dengan pendekatan ruang virtual yang interaktif, masyarakat dapat mengakses konten literasi, arsip digital, dan layanan edukasi dengan cara yang lebih kontekstual dan menarik.
"Akses tersebut tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu, sehingga diharapkan mampu menjangkau kelompok masyarakat yang lebih beragam," kata dia, dalam keterangannya, Rabu (14/1/2026).
Dalam pengembangannya, Adityo menuturkan bahwa Dispersip menekankan tiga nilai utama, yakni aksesibilitas, edukasi, dan keberlanjutan.
Metaverse ini tidak dimaksudkan sebagai sekadar etalase teknologi, melainkan sebagai sarana pembelajaran yang inklusif.
Melalui platform ini, Dispersip berupaya memperluas kesempatan masyarakat untuk belajar sekaligus menjaga keberlanjutan pengetahuan dan arsip daerah dalam format yang relevan dengan perkembangan zaman.
Adityo mengungkapkan bahwa latar belakang pengembangan metaverse ini tidak terlepas dari tantangan perubahan pola konsumsi informasi masyarakat. Generasi muda cenderung lebih akrab dengan medium digital yang visual dan interaktif.
Di sisi lain, masih terdapat keterbatasan akses fisik terhadap layanan perpustakaan dan kearsipan, baik karena jarak, waktu, maupun mobilitas.
Metaverse dipilih sebagai salah satu solusi inovatif untuk menjembatani tantangan tersebut dan memperluas jangkauan layanan Dispersip.
“Penguatan daya saing layanan perpustakaan kami diarahkan pada kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi informasi yang terus berubah, mencakup penguatan hardware, software, dan manware," tutur dia.
Metaverse menjadi salah satu rintisan strategis, tidak hanya untuk layanan literasi, tetapi juga sebagai ruang pengembangan ide lintas sektor menuju Surakarta sebagai smart city, sekaligus mengantisipasi pemanfaatan kecerdasan buatan dalam peningkatan layanan perpustakaan.
