Mengapa Januari 2026 Disebut Sebagai Puncak Risiko Bencana? Analisis Mendalam Faktor Hidrometeorologi

mediaindonesia.com
13 jam lalu
Cover Berita

PADA Januari 2026 menandai periode krusial bagi wilayah Indonesia dalam menghadapi tantangan alam. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bulan ini secara konsisten mencatatkan intensitas curah hujan tertinggi di sebagian besar wilayah Indonesia. Namun, mengapa Januari 2026 secara spesifik disebut sebagai puncak risiko bencana? Jawabannya terletak pada kombinasi unik antara fenomena atmosfer skala global dan kondisi lingkungan lokal.

1. Dominasi Monsun Asia yang Mencapai Puncak

Faktor utama yang menjadikan Januari sebagai bulan paling basah adalah aktivitas Monsun Asia. Angin yang bertiup dari benua Asia menuju Australia ini membawa massa uap air dalam jumlah besar saat melintasi Laut Natuna dan Laut Tiongkok Selatan. Pada Januari 2026, aliran Monsun ini mencapai kecepatan dan kepadatan uap air maksimal, yang kemudian terkonsentrasi di atas pulau-pulau besar seperti Sumatra, Jawa, dan Kalimantan.

Interaksi antara massa udara dingin dari utara dengan suhu permukaan laut Indonesia yang hangat menciptakan awan-awan konvektif (Cumulonimbus) yang masif. Hal inilah yang memicu hujan lebat dengan durasi panjang yang menjadi pemicu utama banjir dan tanah longsor.

Baca juga : Kalimantan Selatan Bentuk Kawasan Siaga Bencana

2. Pengaruh La Nina dan Anomali Suhu Laut

Pada awal 2026, Indonesia masih merasakan pengaruh fenomena La Nina, meskipun dalam intensitas lemah hingga moderat. La Nina menyebabkan suhu permukaan laut di wilayah Indonesia tetap hangat, sehingga penguapan terjadi lebih intensif. Tambahan suplai uap air dari La Nina ini memperparah kondisi yang sudah dipicu oleh Monsun Asia. Ketika dua fenomena ini bertemu, risiko curah hujan ekstrem meningkat hingga 40% di atas normal.

3. Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO)

People Also Ask: Apa peran MJO dalam bencana Januari 2026? MJO adalah gangguan awan, hujan, dan angin yang bergerak ke timur di sepanjang ekuator. Ketika fase basah MJO melintasi wilayah Indonesia (Maritime Continent) bersamaan dengan puncak musim hujan, intensitas hujan harian bisa meningkat secara drastis dalam waktu singkat, memicu banjir bandang di wilayah hilir.

4. Kondisi Geografis dan Kerentanan Wilayah

Selain faktor langit, kondisi bumi Indonesia juga menentukan besarnya risiko. Januari 2026 menjadi puncak risiko karena daya serap tanah biasanya sudah mencapai titik jenuh setelah diguyur hujan sejak November dan Desember. Tanah yang sudah basah kuyup tidak lagi mampu menyerap air hujan tambahan, sehingga air langsung mengalir di permukaan (run-off) menuju sungai-sungai yang kapasitasnya sudah terbatas akibat sedimentasi.

Baca juga : Klaten Waspadai Ancaman Bencana Hidrometeorologi

Daftar Wilayah dengan Risiko Tertinggi Wilayah Jenis Risiko Utama Penyebab Dominan Pesisir Utara Jawa Banjir Rob & Genangan Pasang laut tinggi & curah hujan ekstrem Sumatra & Sulawesi Tanah Longsor Topografi curam & kejenuhan tanah Kalimantan Tengah Banjir Luapan Sungai Drainase alam yang terhambat Langkah Mitigasi: Apa yang Harus Dilakukan?

Menghadapi puncak risiko di Januari 2026, langkah mitigasi harus dilakukan secara berlapis, mulai dari level individu hingga pemerintah daerah:

  • Pantau Peringatan Dini: Selalu cek aplikasi InfoBMKG untuk mendapatkan data real-time mengenai cuaca di sekitar Anda.
  • Bersihkan Drainase: Pastikan saluran air di lingkungan rumah tidak tersumbat sampah untuk mencegah genangan lokal.
  • Siapkan Tas Siaga Bencana: Pastikan dokumen penting, obat-obatan, dan pakaian darurat sudah siap dalam satu tas yang mudah dijangkau.
  • Kenali Jalur Evakuasi: Bagi warga di lereng bukit atau bantaran sungai, ketahui titik aman tertinggi sebelum air naik atau tanah bergerak.
FAQ: Pertanyaan Sering Diajukan Apakah puncak musim hujan selalu di bulan Januari?

Secara klimatologis, sebagian besar wilayah Indonesia mengalami puncak hujan pada Januari dan Februari. Namun, perubahan iklim terkadang menggeser waktu puncak ini, meski Januari tetap menjadi periode dengan frekuensi cuaca ekstrem tertinggi.

Apa perbedaan banjir biasa dengan banjir bandang?

Banjir biasa terjadi perlahan akibat luapan sungai, sedangkan banjir bandang terjadi sangat cepat, biasanya membawa material lumpur, batu, dan kayu, seringkali dipicu oleh jebolnya bendungan alami di hulu sungai.

Kesimpulan

Januari 2026 disebut sebagai puncak risiko bencana bukan tanpa alasan. Perpaduan antara Monsun Asia, fenomena La Nina, dan kondisi hidrologis tanah yang sudah jenuh menciptakan "badai sempurna" bagi potensi bencana hidrometeorologi. Dengan memahami faktor-faktor ini, kita diharapkan dapat lebih waspada dan proaktif dalam melakukan langkah penyelamatan mandiri demi keselamatan bersama.

(P-3)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Apa Arti Plenger? Bahasa Gaul yang Lagi Viral
• 3 jam laluinsertlive.com
thumb
Harga Emas Melejit, Penjualan Emas BSI Tembus 2 Ton
• 20 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Menlu RI Peringatkan Multilateralisme dalam Ancaman Serius, Serukan Perubahan
• 5 jam laluokezone.com
thumb
Mendes Yandri Tegaskan Desa Jadi Subjek Utama Pembangunan Nasional di Era Presiden Prabowo
• 3 jam lalupantau.com
thumb
Menikmati Jakarta Sambil Cek Kebugaran, Ternyata Begini Tren Wellness Urban!
• 20 jam laluherstory.co.id
Berhasil disimpan.