Pantau - Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares, menyatakan bahwa hingga kini belum ada rincian konkret dari rencana penyelesaian konflik Ukraina yang sedang disusun oleh "koalisi negara-negara yang bersedia".
Albares menegaskan bahwa pembahasan masih berada di tahap awal dan belum menghasilkan dokumen atau kesepakatan yang solid.
"Koalisi yang bersedia saat ini masih dalam proses menyusun sebuah proyek yang dapat menjadi rencana penyelesaian di masa depan. Sejauh ini belum ada sesuatu yang konkret. Sulit untuk mendefinisikan sesuatu yang masih sebatas gagasan," ungkapnya.
Ia juga menyampaikan keyakinan bahwa Spanyol akan ikut serta dalam proses perundingan mendatang.
Namun, saat ditanya soal kemungkinan keterlibatan militer Spanyol di Ukraina, Albares enggan memberikan komentar.
Rusia Tuduh Koalisi Rencanakan PendudukanPada Desember 2025, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyatakan bahwa negara-negara yang tergabung dalam "koalisi sukarela" justru sedang merancang skenario pendudukan Ukraina.
Menurut Rusia, inisiatif tersebut bukanlah upaya penyelesaian damai, melainkan bagian dari strategi memperpanjang konflik.
Rusia juga menilai bahwa pernyataan beberapa negara NATO mengenai kemungkinan pengerahan pasukan ke Ukraina sebagai tindakan provokatif yang berpotensi memperburuk situasi.
Kementerian Luar Negeri Rusia menegaskan bahwa pengerahan pasukan NATO ke Ukraina tidak dapat diterima dan bisa memicu eskalasi tajam.
Pertemuan Tingkat Tinggi di ParisPada 6 Januari, koalisi negara-negara yang bersedia menggelar pertemuan tingkat tinggi di Paris.
Pertemuan itu membahas berbagai isu penting, termasuk jaminan keamanan untuk Ukraina dan kemungkinan pembentukan pasukan multinasional.
Utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner, turut hadir dalam pertemuan tersebut.
Usai pertemuan, para pemimpin koalisi menandatangani deklarasi yang menyatakan niat untuk mengerahkan pasukan ke Ukraina jika kesepakatan damai berhasil dicapai.
Namun, surat kabar Politico melaporkan bahwa Amerika Serikat tidak menandatangani deklarasi tersebut.
Sebelumnya, pada akhir November, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan bahwa Komisi Eropa dan "koalisi yang bersedia" akan terus bekerja sama dengan Ukraina dalam upaya mengakhiri konflik.
Rencana koalisi Eropa tersebut mencuat setelah media memberitakan versi rencana serupa yang disusun oleh Amerika Serikat.



