Jakarta (ANTARA) - Persatuan Insinyur Indonesia (PII) memandang penyediaan jalur evakuasi yang merupakan upaya penyelamatan dan keselamatan publik menjadi salah satu unsur penting dalam pengurangan risiko bencana.
"Salah satu bentuk penyelamatan publiknya adalah penyiapan ruang-ruang terbuka, fasilitas jalur evakuasi, dan fasilitas bangunan evakuasinya," ujar Ketua Badan Kebencanaan dan Perubahan Iklim PII Prof. I Wayan Sengara dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.
Guru Besar Bidang Rekayasa Geoteknik Institut Teknologi Bandung (ITB) itu kemudian menyarankan agar jalur evakuasi dan bangunan dapat menjadi bagian dari program pembangunan infrastruktur di Indonesia.
Terlebih, untuk kawasan yang memiliki risiko bencana yang tinggi, maka fasilitas tersebut sebaiknya tersedia dan disosialisasikan kepada masyarakat yang berpotensi terdampak bencana.
Kemudian bila jalur dan bangunan evakuasi belum tersedia, kata dia, maka masyarakat diharapkan dapat bersiap siaga terhadap potensi bencana yang telah diperkirakan dan diberi peringatan oleh pemerintah maupun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
"Masyarakat diharapkan dapat mengidentifikasi jalur dan tempat evakuasi yang berbasis komunitas setempat," katanya
Walaupun demikian, dia mengatakan pengurangan risiko bencana tetap perlu berlandaskan pada pemetaan bahaya dan tingkat risiko bencananya.
"Pemetaan ini diharapkan tersedia dari instansi terkait, termasuk pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah,” ujarnya.
"Salah satu bentuk penyelamatan publiknya adalah penyiapan ruang-ruang terbuka, fasilitas jalur evakuasi, dan fasilitas bangunan evakuasinya," ujar Ketua Badan Kebencanaan dan Perubahan Iklim PII Prof. I Wayan Sengara dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.
Guru Besar Bidang Rekayasa Geoteknik Institut Teknologi Bandung (ITB) itu kemudian menyarankan agar jalur evakuasi dan bangunan dapat menjadi bagian dari program pembangunan infrastruktur di Indonesia.
Terlebih, untuk kawasan yang memiliki risiko bencana yang tinggi, maka fasilitas tersebut sebaiknya tersedia dan disosialisasikan kepada masyarakat yang berpotensi terdampak bencana.
Kemudian bila jalur dan bangunan evakuasi belum tersedia, kata dia, maka masyarakat diharapkan dapat bersiap siaga terhadap potensi bencana yang telah diperkirakan dan diberi peringatan oleh pemerintah maupun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
"Masyarakat diharapkan dapat mengidentifikasi jalur dan tempat evakuasi yang berbasis komunitas setempat," katanya
Walaupun demikian, dia mengatakan pengurangan risiko bencana tetap perlu berlandaskan pada pemetaan bahaya dan tingkat risiko bencananya.
"Pemetaan ini diharapkan tersedia dari instansi terkait, termasuk pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah,” ujarnya.



