Tiongkok Masuk Dalam Daftar Puncak  Sebagai Target Tarif Trump Terkait Iran

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

Tiongkok adalah pembeli terbesar minyak Iran, mencakup lebih dari 80 persen dari total pembelian.

EtIndonesia. Sebagai mitra dagang terbesar Iran dan pembeli minyak terbesarnya, Tiongkok menempati posisi teratas dalam daftar negara yang berpotensi menghadapi tarif tambahan sebesar 25 persen setelah pengumuman Presiden AS Donald Trump pada  Senin 12 Januari .

Trump menulis di Truth Social bahwa semua negara yang berbisnis dengan Iran akan dikenakan tarif 25 persen atas seluruh transaksi bisnis dengan Amerika Serikat, beberapa jam setelah ia memberi sinyal bahwa serangan udara atau langkah-langkah lain terhadap Iran sedang dipertimbangkan.

Gedung Putih hingga kini belum menerbitkan perintah eksekutif yang merinci tarif baru tersebut, dan Trump juga belum memberikan detail tambahan.

Menurut data Bank Dunia, Tiongkok menyumbang 27,72 persen dari total perdagangan Iran, sementara Iran juga membeli 26 persen barang impornya dari Tiongkok.

Tiongkok adalah pembeli terbesar minyak Iran, mencakup lebih dari 80 persen dari total pembelian. Pasar Iran sendiri sudah terbatas akibat sanksi AS yang bertujuan membatasi pengembangan nuklir Iran, sehingga Tiongkok dapat memperoleh minyak Iran dengan harga diskon. Minyak tersebut sering dikirim ke Tiongkok melalui apa yang oleh Departemen Keuangan AS disebut sebagai “armada bayangan”—kapal-kapal yang mengibarkan bendera palsu dan melakukan pemindahan kargo berisiko untuk menghindari sanksi.

Menurut perusahaan analitik perdagangan global Kpler, Tiongkok membeli 1,38 juta barel per hari minyak Iran dalam enam bulan pertama tahun 2025, dibandingkan 1,48 juta barel per hari sepanjang 2024.

Rezim Tiongkok dan Iran telah menjadi sekutu dekat selama beberapa dekade, dengan Tiongkok memberikan bantuan penting bagi Iran dalam pengembangan nuklirnya. Kedua rezim menandatangani perjanjian penelitian nuklir rahasia pada 1985 dan 1990, yang rinciannya baru diketahui pada tahun-tahun berikutnya, menurut laporan U.S.–China Security Review Commission tahun 2013.

Di bawah tekanan Amerika Serikat, pada 1995 Tiongkok setuju menghentikan penjualan reaktor nuklir kepada Iran, namun masih terlibat dalam kegiatan pengembangan nuklir lainnya—seperti pengembangan fasilitas konversi uranium—menurut laporan Kongres tersebut. Setelah beberapa putaran negosiasi tingkat tinggi, pada 1997 Tiongkok sepakat tidak lagi terlibat dalam proyek-proyek nuklir baru dengan Iran.

Tiongkok juga telah menjadi pemasok senjata utama bagi Iran selama beberapa dekade. Pada 1990, Tiongkok menandatangani perjanjian pertukaran teknologi militer 10 tahun dengan Iran, namun diyakini telah menjual senjata kepada Iran melalui negara perantara jauh sebelum perjanjian tersebut, menurut laporan itu.

Entitas-entitas Tiongkok beberapa kali dijatuhi sanksi sejak 2002 karena menyediakan barang terkait rudal kepada Iran, dan selama bertahun-tahun terdapat puluhan laporan mengenai bantuan Tiongkok dalam pembangunan fasilitas-fasilitas terkait rudal di Iran.

Pada Maret 2021, Tiongkok dan Iran menandatangani perjanjian kerja sama 25 tahun, yang menuai kritik internasional.

Laporan riset staf U.S.–China Economic and Security Review Commission tahun 2021 menemukan bahwa Iran memandang Tiongkok sebagai salah satu dari sedikit kekuatan dunia yang dapat memberinya penyangga terhadap Amerika Serikat, sementara pandangan Tiongkok lebih bersifat oportunistis—karena pada saat-saat tertentu Tiongkok juga mendukung para pesaing Iran di kawasan.

Iran juga merupakan anggota Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative) andalan Tiongkok serta Organisasi Kerja Sama Shanghai, sebuah blok internasional yang didirikan untuk menandingi pengaruh Barat.

Menurut laporan tersebut, Tiongkok diuntungkan oleh fokus Amerika Serikat yang tersedot ke Iran dan Timur Tengah, karena hal itu memberi Beijing waktu untuk memperluas pengaruhnya di Indo-Pasifik.

Namun, potensi konflik antara Iran dan Amerika Serikat menjadi faktor pembatas utama dalam kemitraan ini, karena dapat membahayakan keamanan energi Tiongkok—sebuah skenario yang kini mungkin sedang mulai terwujud.

Mitra dagang Iran lainnya termasuk Uni Emirat Arab, Turkiye, India, Jerman, Korea Selatan, dan Jepang.

Reuters berkontribusi dalam laporan ini.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
DPRD Tak Diberi Laporan Ide Sekolah Maung Dedi Mulyadi, Baru Diketahui di Medsos
• 5 jam lalugenpi.co
thumb
Ayo Ikut! Batas Submission Apresiasi Konektivitas Digital 2026 Diperpanjang
• 25 menit laludetik.com
thumb
Cek Harga Toyota Avanza 2005, Mulai Rp50 Jutaan
• 16 jam lalumedcom.id
thumb
Konflik Ketua DPRD Soppeng dan ASN BKPSDM Berbuntut Panjang, Sama-sama Ngotot
• 15 jam lalutribuntimur.com
thumb
Hadiri Golden Disc Awards ke-40, ENHYPEN Tampil Modis dalam Balutan Prada
• 2 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.