Josman Siregar (35) berkonsentrasi penuh di depan conveyor belt pembawa sampah yang baru keluar dari mesin pencacah. Matanya menatap tajam setiap sampah yang lewat di depannya. Tangannya dengan sigap mengambil batu dan botol kaca yang terselip di antara cacahan sampah. Josman yang baru bekerja sebagai pegawai Saringan Sungai TB Simatupang (SSTBS) selama empat bulan terkahir ini sudah dengan mudah membedakan antara benda-benda yang boleh masuk ke dalam mesin pemisah sampah (dump screen) dan yang harus dibuang.
Sementara itu, di emplasemen (area terbuka), Fadly Maulana sedang mengoperasikan ekskavator material handler dari dalam ruang kemudi. Ia memindahkan sampah besar yang terbawa arus Sungai Ciliwung ke dalam mesin pencacah sampah, termasuk batang kayu dan kasur spring bed. Semua masuk ke mesin buatan Jerman itu.
Seperti itulah gambaran kesibukan setiap hari di SSTBS, sebuah fasilitas pengelolaan sampah Sungai Ciliwung di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, milik Pemerintah Provinsi Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Menurut Adhitya Oktabery (35), pengawas SSTBS, fungsi SSTBS yang mulai beroperasi Agustus 2023 itu adalah sebagai penyaring sampah yang terbawa arus Sungai Ciliwung agar tidak masuk ke Jakarta. Selain sebagai penyaring, fungsi lainnya sebagai pengelola dan pengolah sampah dengan teknologi modern.
Menurut Adith, sampah dari Sungai Ciliwung diolah di lokasi itu agar seminimal mungkin masuk ke Bantargebang. ”Dengan mesin asal Jerman itu, sampah kita cacah dan kemudian dipilah menjadi kompos dan bahan baku RDF”, lanjutnya. Refuse-derived fuel (RDF) adalah bahan bakar alternatif yang berasal dari sampah yang telah dikeringkan dan dicacah, seperti plastik, kertas, dan kain.
Sekitar 100 pegawai dikerahkan untuk mengelola sampah di SSTBS ini. Mereka terbagi dalam tugas masing-masing, seperti petugas saringan sampah, pemilah sampah, operator alat berat, penimbang sampah, keamanan, dan pengemudi truk sampah.
SSTBS mengelola sampah Sungai Ciliwung rata-rata 20-25 ton per hari. Beda lagi kalau Ciliwung sedang siaga. ”Pada Maret 2025, saat Jakarta dilanda banjir akibat meluapnya Ciliwung, dalam tiga hari kami mengangkut sampah dari sungai hingga sekitar 3.500 ton. Sampah itu kita pilah, olah, dan dapat beres dalam seminggu,” tuturnya.
Sejak beroperasi pada Agustus 2023 hingga akhir Desember 2025, SSTBS berhasil mengelola sekitar 10.000 ton sampah kali. Sebanyak 5.000 ton menjadi RDF, 4.500 ton berubah menjadi pupuk kompos, dan sisanya atau sekitar 350 ton berupa residu yang dikirim ke Bantargebang.
RDF yang dihasilkan kemudian dikirim ke pihak ketiga untuk dijadikan bahan bakar alternatif. Untuk kompos, selain untuk memupuk taman-taman di Jakarta, juga dibagikan secara gratis kepada warga yang memerlukan.
Keberadaan SSTBS ini menjadikan Jembatan Ciliwung Kalibata dan Pintu Air Manggarai terbebas dari tumpukan sampah seperti yang selalu terlihat sebelumnya ketika Sungai Ciliwung banjir.




