Ponorogo (beritajatim.com) – Jalan penghubung Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel, dengan Desa Wates, Kecamatan Jenangan, kembali berada di persimpangan kebijakan. Bukan karena rencana perbaikan tak pernah ada, melainkan lantaran keputusan anggaran di tingkat pusat yang belum kunjung final.
Ruas jalan yang rusak akibat bencana itu, sejatinya sudah masuk daftar perbaikan sejak tahun lalu. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo mengusulkan rehabilitasi melalui skema anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi (RR) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Untuk rehabilitasi itu, anggaran yang diusulkan senilai Rp 2,7 miliar. Pun usulan tersebut bahkan sempat mendapat lampu hijau.
“Tahun 2025 lalu sebenarnya sudah disetujui lewat anggaran RR BNPB,” kata Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Ponorogo, Masun, Kamis (15/1/2026).
Namun, anggaran itu akhirnya tidak bisa terealisasi di tahun tersebut. Sebab, Kementerian Keuangan melakukan peninjauan ulang sehingga perbaikan jalan tak bisa direalisasikan sesuai rencana. Harapan warga pun akhirnya kandas di meja evaluasi.
“Tahun ini sudah kami ajukan kembali, tapi karena ini anggaran RR, kemungkinan bisa dilakukan perbaikan akhir tahun kalau itu disetujui,” kata Masun.
Ketidakpastian itu membuat pemerintah daerah tak ingin berdiam diri. Pemkab Ponorogo memilih membuka jalur alternatif dengan menggandeng Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Rapat bersama DPRD Jatim dijadwalkan berlangsung hari ini, Kamis (15/1), guna membahas kemungkinan penggunaan belanja tidak terduga (BTT) provinsi.
Langkah tersebut dipilih sebagai jalan tengah agar warga tidak terus menunggu keputusan dari pusat. Pemerintah daerah menilai, kondisi di lapangan sudah mendesak dan tak memungkinkan penanganan ditunda terlalu lama.
“Kalau tidak bisa pakai RR atau perbaikan jalan permanen, minimal dengan BTT Provinsi, kami harapkan bisa ada jembatan,” jelas Masun.
.
Jalan Wagir Lor–Wates bukan sekadar jalur penghubung antardesa. Akses tersebut menjadi urat nadi aktivitas harian warga, mulai dari mobilitas ekonomi hingga jalur anak-anak menuju sekolah. Setiap hari, warga dari dua kecamatan bergantung pada ruas itu untuk menjangkau fasilitas umum dan layanan dasar.
Kerusakan jalan membuat aktivitas warga terganggu, bahkan berisiko keselamatan. Karena itu, pemerintah daerah menegaskan penanganan tidak boleh berlarut-larut, apa pun skema anggarannya.
“Ini vital jadi kami usahakan segera diperbaiki,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, ancaman keterisolasian membayangi warga Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel, Ponorogo. Longsor yang menggerus jalan utama penghubung ke Desa Wates, Kecamatan Jenangan, belum tertangani sejak akhir 2023. Jika akses itu putus total, warga tak punya pilihan, selain memutar hingga 20 kilometer untuk menuju pusat aktivitas dan layanan ke kota. (end/ted)
:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Darwis-orasi-Palopo.jpg)


