Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan kuota produksi nikel pada 2026 berkisar di angka 250-260 juta ton. Jumlah ini turun 31-34% dibandingkan target produksi 2025 yang mencapai 379 juta ton.
“(Target produksi) nikel kami sesuaikan dengan kapasitas produksi dari fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter). Kemungkinan 250-260 juta ton,” kata Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Tri Winarno saat ditemui di Kementerian ESDM Rabu (14/1).
Selain untuk menyesuaikan dengan kapasitas produksi smelter, pemangkasan target produksi nikel juga bertujuan untuk mengerek harga komoditas. Saat ini harga nikel berada di kisaran US$ 18.000 per metrik ton kering (dmt), meningkat jauh dibandingkan 2025 yang harganya hanya mencapai US$ 14.800 per dmt.
Hingga saat ini Kementerian ESDM masih mengevaluasi persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) nikel untuk perusahaan-perusahaan tambang. Tri mengatakan persetujuan ini akan diberikan pemerintah setelah perusahaan memenuhi seluruh persyaratan, baik teknis, lingkungan, dan lainnya.
RKAB kini diajukan melalui aplikasi yang disediakan khusus oleh Kementerian ESDM. “Ada beberapa perusahaan yang memasukkan angkanya tidak pas,” ujarnya.
Meski pemerintah masih mengevaluasi, namun sebagian perusahaan yang memiliki RKAB eksisting atau perpanjangan hingga 2026 masih bisa menambang. Rincian besarannya 25% dari kuota produksi yang ditetapkan tahun ini hingga Maret nanti.
Sebelumnya, Kementerian ESDM juga memangkas jumlah produksi batu bara tahun ini menjadi sekitar 600 juta ton. Hal ini dilakukan melalui revisi RKAB perusahaan batu bara.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan hal ini bertujuan untuk menjaga harga komoditas bagus. Indonesia pada 2025 telah memproduksi 790 juta ton batu bara dengan komposisi 65% untuk ekspor dan 32% dialokasikan kebutuhan domestik.
Jumlah batu bara yang diperdagangkan di seluruh dunia berjumlah 1,3 miliar ton. Dari jumlah tersebut Indonesia menyuplai 43% atau 514 juta ton. Hal ini berakibat pada ketidakseimbangan permintaan dan penawaran sehingga harga batu bara turun.
“Produksi kami turunkan agar harga bagus dan tambang bisa diwariskan kepada generasi selanjutnya. Mengelola sumber daya alam tidak harus semuanya habis saat ini,” kata Bahlil dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (8/1).

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5345161/original/016616100_1757510873-WhatsApp_Image_2025-09-10_at_15.12.30.jpeg)

