Jakarta: Mata uang resmi Republik Islam Rial adalah Rial Iran atau IRR. Pada awal 2026, masalah IRR kembali mencuri perhatian dunia setelah anjlok ke rekor terendah. Kejatuhan ini memicu kekhawatiran akan hiperinflasi dan dampak luas lainnya bagi ekonomi Iran hingga pasar Global. Berikut penjelasan lengkap seputar krisis mata uang iran dilansir dari Blog Amikom.
Situasi yang terjadi pada mata uang Iran
Memasuki Januari 2026, Rial Iran (IRR) mengalami penurunan nilai yang sangat drastis hingga disebut 'terjun bebas'. Di pasar bebas (open market) kini USD1 setara dengan IRR1,47 juta.
Sebelumnya pada awal 2025, nilai kurs masih berada di kisaran IRR817,5 ribu per dolar. Angka saat ini merupakan dua kali lipat dibandingkan pada 2025, sehingga penurunan nilai lebih dari 70 persen dalam setahun ini telah menghancurkan daya rakyat Iran. Situasi ini juga menyebabkan Gubernur Bank Sentral Iran mengundurkan diri pada akhir 2025 lalu.
Penyebab krisis mata uang Iran
Penurunan tajam nilai mata uang Iran disebabkan oleh beberapa faktor, sebagai berikut:
1. Kembalinya sanksi PBB (snapback) Faktor terbesar anjloknya nilai IRR adalah karena aktifnya kembali sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak September 2025 lalu. Hal tersebut membuat Iran terisolasi secara global. Berbeda dengan sanksi sepihak Amerika Serikat (AS), sanksi PBB bersifat mengikat semua negara, sehingga hampir seluruh mitra dagang menghentikan transaksi dan akses Iran ke sistem perbankan internasional pun terputus.
2. Anjloknya ekspor minyak ke Tiongkok Faktor berikutnya adalah terjadinya penurunan ekspor minyak lebih dari 50 persen ke Tiongkok yang menyebabkan hilangnya sumber devisa utama Iran. Hilangnya pendapatan dolar dari sektor energi membuat cadangan devisa menipis dan kemampuan pemerintah menahan kejatuhan Rial semakin lemah.
3. Terbongkarnya jaringan 'Perbankan Bayangan' Faktor ketiga adalah pemberian sanksi AS terhadap jaringan keuangan rahasia Iran yang memutus jalur pemindahan dana hasil ekspor. Tanpa akses tersebut pasar kehilangan suplai dolar saat kepanikan terjadi, sehingga nilai tukar Rial jatuh semakin dalam.
4. Kombinasi tekanan internal dan eksternal Ketiga faktor tersebut terjadi hampir bersamaan sehingga menciptakan polikrisis yang mempercepat kejatuhan mata uang dan memicu krisis kepercayaan terhadap sistem keuangan Iran.
Krisis ini menunjukkan betapa rapuhnya rial ketika tekanan internal dan sanksi internasional bertemu. Hal ini juga yang akhirnya menciptakan ketidakstabilan pada sistem keuangan negara.
Baca juga: Trump Sebut Eksekusi Pedemo Iran Dihentikan karena Ancaman Serangan AS
(Protes di Iran. Foto: West Asia News Agency)
Nilai tukar IRR ke rupiah
Krisis mata uang di Iran pada awal 2026 ini menunjukkan perbedaan yang sangat lebar dalam nilai tukar rupiah dan IRR. Berikut merupakan gambaran nilai tukar IRR ke dalam bentuk rupiah berdasarkan asumsi kurs Rp116.800 per dolar AS dan kurs pasar bebas Iran sebesar IRR1,47 juta per dolar AS:
- Rp1 (IDR) setara dengan sekitar IRR87–88.
- Sedangkan IRR1 hanya bernilai sekitar Rp0,011.
Sehingga secara teori Rp2 ribu dapat ditukar menjadi sekitar IRR175 ribu di pasar bebas. Sebagai catatan, angka ini mungkin berbeda dengan hasil konversi di Google atau bank karena keduanya masih mengacu pada kurs resmi pemerintah Iran, yang tidak lagi mencerminkan kondisi pasar sebenarnya.
Dampak krisis mata uang Iran bagi perekonomian Iran
Kejatuhan nilai tukar IRR membawa bencana bagi rakyat Iran terutama dalam bidang perekonomian, di antaranya sebagai berikut:
1. Hiperinflasi pangan Terjadi lonjakan inflasi pangan hingga 75,4 persen yang membuat harga bahan makanan pokok seperti daging, telur, dan susu naik drastis. Kondisi ini memaksa banyak keluarga mengurangi porsi dan kualitas konsumsi harian mereka.
2. Krisis akses obat-obatan Penghapusan subsidi nilai tukar untuk impor barang esensial menyebabkan harga obat-obatan vital melonjak, sehingga semakin sulit dijangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah.
3. Kenaikan pajak yang menekan dunia usaha Target kenaikan pajak sebesar 62 persen dalam Anggaran 2026 diterapkan untuk menutup defisit negara. Kebijakan ini justru memperparah kondisi usaha kecil dan menengah, memicu kebangkrutan serta meningkatkan angka pengangguran.
Krisis mata uang Iran bagi dunia
Krisis mata uang Iran tidak hanya berdampak di dalam negeri, tetapi juga membawa implikasi luas bagi politik dan perekonomian global, di antaranya sebagai berikut:
1. Efektivitas sanksi ekonomi Krisis Iran membuktikan sanksi multilateral PBB mampu melumpuhkan ekonomi negara dalam waktu singkat.
2. Ancaman stabilitas energi global Ketidakstabilan di negara produsen minyak besar seperti Iran berisiko mengganggu pasokan energi dunia.
3. Potensi perubahan politik Tekanan ekonomi memicu protes besar-besaran, termasuk dari pedagang tradisional, hal ini menandakan melemahnya dukungan terhadap pemerintah.
Keterpurukan mata uang Iran pada awal 2026 mencerminkan kegagalan struktural akibat isolasi internasional yang ketat dan pengelolaan ekonomi domestik yang tidak efektif. Kejadian ini dapat dijadikan pelajaran bagi bangsa Indonesia untuk memahami betapa pentingnya menjaga stabilitas makro ekonomi serta kesiapan menghadapi tekanan global. (Alfiah Ziha Rahmatul Laili)



