jpnn.com - JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto berdialog dengan para guru besar dan rektor perguruan tinggi negeri dan swasta di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (15/1) pagi.
Menurut Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dialog kali ini digelar tertutup.
BACA JUGA: Presiden Prabowo Akhirnya Bicara Percepatan Pembangunan IKN
"Mohon maaf, kali ini memang agendanya tertutup, karena banyak hal yang memang mau dibicarakan secara teknis oleh Bapak Presiden dengan para rektor dan para guru besar," ujar Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis.
Prasetyo menyampaikan agenda tersebut merupakan bagian dari peran presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan untuk berdiskusi serta memberikan pandangan mengenai kondisi negara, situasi geopolitik, dan rencana besar yang akan dijalankan.
BACA JUGA: Prabowo Umumkan Swasembada Beras, Eli Salomo: Indonesia Kembali Berdiri
Dia mengatakan dialog tersebut diikuti sekitar 1.200 undangan yang terdiri dari rektor dan guru besar dari berbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta.
Prasetyo menjelaskan pemerintah menempatkan pendidikan sebagai salah satu fokus utama, mengingat pendidikan dipandang sebagai pondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia.
BACA JUGA: Prabowo Sebut Indonesia Mencapai Swasembada Pangan, Eli Salomo Sinaga Merespons
Upaya tersebut berjalan seiring dengan target swasembada pangan dan swasembada energi, serta penguatan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.
"Pendidikan adalah salah satu faktor kunci. Jadi, selain mengejar dan bekerja keras mencapai swasembada pangan, swasembada energi, maka salah satu pondasi utamanya adalah sumber daya manusia, baik sekarang maupun ke depan menuju Indonesia Emas 2045," ujarnya.
Prasetyo menyebutkan sejumlah pembahasan yang menjadi bagian dari dialog, antara lain upaya percepatan pemenuhan kebutuhan tenaga dokter yang saat ini masih mengalami kekurangan lebih dari 100.000 orang.
Selain itu, turut dibahas peningkatan kualitas lembaga pendidikan tinggi, termasuk kualitas dosen dan sarana prasarana. (antara/jpnn)
Redaktur & Reporter : Mufthia Ridwan




