Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdampak bagus ke perekonomian Indonesia. Ketua Umum Kadin, Anindya Novyan Bakrie, menyebut program itu bisa mendorong pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).
"Secara ekonomi, ini berpotensi menambah pertumbuhan PDB hingga 3,5 persen. Angka ini bukan angka kecil dan bisa menjadi salah satu motor pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Anindya melalui keterangan tertulis, Kamis (15/1).
Anindya mengungkapkan pemerintah menargetkan pembangunan 30.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG. Ia mengatakan Kadin sudah berpartisipasi dengan membangun sekitar 1.000 dapur MBG yang didukung kontribusi anggota Kadin dengan total nilai investasi mencapai Rp 1,5 sampai Rp 2 triliun.
Anindya menjelaskan hingga saat ini mayoritas dapur MBG masih dijalankan dengan pendanaan mandiri. Jika satu dapur menyerap sekitar 50 tenaga kerja, maka dengan target 30.000 dapur, program ini berpotensi menyerap sekitar 1,5 juta tenaga kerja di seluruh RI.
Anindya menuturkan program MBG menjadi pintu masuk strategis bagi penguatan ketahanan pangan nasional. Kepastian permintaan dari program ini dinilai mendorong hilirisasi sektor pertanian dan peternakan.
"Dengan MBG, kebutuhan pangan sangat nyata. Dari 52 juta penerima hari ini menuju 82 juta, artinya dibutuhkan sekitar 52 juta butir telur per hari, selain ayam, ikan, sayur-mayur, dan komoditas lainnya," jelas Anindya.
Selain itu, kata Anindya, program MBG juga membuka peluang ekonomi di daerah karena setiap wilayah memiliki potensi sumber protein unggulan masing-masing.
Sementara itu, Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola Badan Gizi Nasional (BGN), Tigor Pangaribuan, menekankan pentingnya menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan agar MBG berjalan berkelanjutan.
"Target paling menantang bagi BGN adalah mencegah inflasi dan kelangkaan bahan pangan. Kami berharap pelaku usaha, khususnya di sektor pertanian dan peternakan, dapat memperbesar kapasitas produksi," kata Tigor.




