JAYAPURA, KOMPAS - Gelombang tinggi 2,5 meter hingga 4 meter melanda sejumlah kawasan di perairan Papua. Tidak hanya di laut tapi juga sungai. Hal ini sangat rawan menganggu pelayaran kapal kecil hingga bertonase besar.
Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Jayapura Heri Purnomo mengatakan, cuaca ekstrem dalam beberapa hari terakhir ini merupakan dampak tidak langsung bibit siklon tropis 91W. Bibit siklon ini terbentuk pada 12 Januari 2026 di Samudra Pasifik atau sebelah utara Papua Barat Daya.
Akibatnya, perairan utara Papua turut dihantam gelombang tinggi hingga 2,5 meter. Bahkan, di beberapa wilayah tercatat gelombang tinggi hingga 4 meter.
Adapun kecepatan angin berkisar 4-30 knot atau 7-56 km per jam. Kecepatan angin tertinggi tercatat di perairan sekitar Biak, Jayapura, Serui-Waropen, serta Sarmi-Mamberamo.
“Hingga hari ini, gelombang dan kecepatan angin masih tinggi. Meskipun bibit siklon 91W mulai menjauh ke arah Filipina, dampaknya masih lumayan signifikan,” ujar Heri, Kamis (15/1/2026).
Berdasarkan peringatan harian Stasiun Meteorologi Maritim Jayapura, hingga 18 Januari 2026, gelombang setinggi 1,25-2,5 meter masih berpotensi terjadi perairan utara Papua.
Sejauh ini, dampak cuaca ekstrem ini telah menghambat aktivitas pelayaran di Papua. Pada Selasa (13/1/2026), misalnya, kapal milik Pelni, KM Sinabung, menunda keberangkatan dari Pelabuhan Biak, Kabupaten Biak Numfor menuju Pelabuhan Jayapura, Kota Jayapura.
Penyebabnya, kemunculan angin dengan kecepatan hingga 30 knot dan gelombang setinggi 3-4 meter. Setelah tertunda 13 jam, kapal berbobot belasan ribu gross ton ini baru diberangkatkan pada Rabu (14/1/2025).
Sementara itu, di Jayapura, Kantor Kesyahbandaran Otoritas Pelabuhan (KSOP) setempat mengeluarkan imbauan larangan berlayar untuk kapal perintis. Imbauan dikeluarkan sejak 12 Januari 2026 berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)
“Hari ini kami mendapat informasi dari BMKG, situasi gelombang dan angin mulai melandai. Pelayaran untuk perintis juga seharusnya sudah bisa dibuka kembali,” ucap Kepala Seksi Lalu Lintas Angkutan Laut dan Usaha Kepelabuhanan KSOP Jayapura Samuel Yabes.
Cuaca yang sempat menghambat pelayaran kapal besar itu jelas sangat rawan mengancam perahu nelayan dan kapal kecil. Oleh karena itu, otoritas pelabuhan di Papua memantau ketat pelayaran perahu dan kapal itu.
Otoritas pelabuhan dan BMKG selalu mengimbau, kapal nelayan tidak dianjurkan berlayar jika kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,25 meter. Bila nekat, bukan tidak mungkin terjadi kecelakaan yang tidak diinginkan semua pihak.
Pada Selasa (13/1/2026), insiden perahu motor (speedboat) terbalik terjadi di perairan Kabupaten Waropen. Kapal bermuatan sembilan orang ini dihantam gelombang tinggi saat hendak berangkat dari Kampung Demba, Distrik Demba menuju ke pusat ibu kota Waropen.
Beruntung semua penumpang berhasil diselamatkan warga dan aparat kepolisian setempat. Namun, kerugian akibat kecelakaan ditaksir sekitar Rp 128 juta, termasuk harta benda milik penumpang.
Di Asmat, Papua Selatan perahu ketinting juga terbalik di muara Kali Asue, Distrik Atsj, Selasa (13/1). Kapal bermuatan tujuh penumpang dihantam gelombang tinggi.
Sebanyak enam penumpang berhasil diselamatkan. Adapun satu penumpang bernama Abraham Aitu (50) masih dalam pencarian.
“Di sekitar lokasi kejadian angin masih bertiup cukup kencang dengan gelombang 0,5-1 meter. Sementara itu, saat air pasang di muara sungai, ketinggian gelombang bisa mencapai 2 meter,” ujar koordinator Pos SAR Asmat, Wagianto.


:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-01-13-Sumatra-Utara-menduduki-urutan-pertama-dengan-tingkat-kejahatan-tertinggi.jpg)

