Langkah Halimah Batu Bara (80 tahun) masih pasti di antara mobil-mobil yang berhenti di persimpangan lampu merah Lapangan Merdeka, Kota Medan. Kendati sudah tua, Nenek Halimah masih gesit berpindah dari satu mobil ke mobil lainnya menjajakan keripik, peyek hingga tisu di lampu merah tersebut.
Meski kondisi ekonomi sedang sulit, si nenek tak patah arang. Mesk hanya mendapat upah Rp 1.000 per bungkus, ia tetap yakin akan rejeki yang datang padanya.
Nenek Halimah sudah berjualan keripik sejak 2017. Saban hari, ia berjualan dari pukul 09.00 WIB hingga 18.00 WIB, dengan berjalan kaki berpindah-pindah tempat dari Lapangan Merdeka Kota Medan, Mal Podomoro hingga Masjid Sungai Deli. Semua itu dilakukan nenek Halimah untuk membantu perekonomian keluarga.
Nenek Halimah mempunyai lima anak dan sudah berkeluarga. Suaminya sudah meninggal dunia dan sekarang nenek Halimah menumpang di rumah anaknya, rumah sewa di Kecamatan Medan Tembung.
Anak-anak nenek Halimah juga dalam ekonomi yang tidak bagus. Nenek Halimah tidak mau merepotkan anaknya dan tetap berjuang sendiri mencari uang. Ia ingin membantu anaknya dalam membayar uang sewa rumah.
Ia juga berbagi kepada orang yang membutuhkan dan juga percaya rezeki akan diganti yang lebih baik. Kadang, keripiknya ia bagi cuma-cuma ke orang lain.
"Iya (ikhlasin). Kadang nenek tawarin juga ke pengamen-pengamen. Kalau kita kasih orang kaya, sama kayak nuang air se-ember ke laut. Tapi, kalau nyiram air se-ember ke tanaman jadi subur," kata Halimah, saat berbincang dengan kumparan di Lampu Merah Lapangan Merdeka, Medan, Kamis (15/1).
Nenek Halimah mengatakan, keripik-keripik dan peyek yang ia jual berasal dari kelompok nenek-nenek yang dibentuk di lingkungan rumahnya.
"Ini kelompok nenek-nenek yang buat. Ketimbang di rumah," ucap Nenek Halimah.
Nenek Halimah mengatakan bahwa dirinya tidak mendapatkan bantuan apa pun dan dari siapa pun.
"Engga ada bantuan darimana-mana," kata Nenek Halimah.
Nenek Halimah kadang juga diusir oleh Satpol PP ketika sedang berjualan. Ia sadar, itu adalah risikonya berjualan.
"Nenek mulai jualan keliling-keliling. Kadang diusir sama Satpol PP. Namanya nenek mencari makan gitu, anak nenek susah," ucap nenek Halimah.
Nenek Halimah sudah bekerja semenjak ia masih muda. Ia pernah mengerjakan semua pekerjaan mulai dari menjadi perawat, guru TK, penjahit hingga sekarang berjualan keripik.
"Nenek biasa kerja. Dari muda sudah kerja, semua dikerjain dari perawat, tukang jahit dan guru TK," kata nenek Halimah.
Ini adalah pilihan nenek Halimah sendiri, sebab anak-anaknya tahu bahwa ia lebih memilih bekerja ke luar. Sementara di rumah, anak-anaknya lah yang mengerjakan pekerjaannya.
"Tahu anak-anak kalau nenek kerja. Nenek di rumah enggak pernah kerja apa pun. Nyuci baju dikerjain cucu sama anak," ucap nenek Halimah.
"Nenek enggak mau mencampuri mereka. Karena kehidupan mereka pun pas-pasan. Inilah jalan hidup, namanya kita usaha," tutup nenek Halimah.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5263259/original/087344900_1750812854-wamen_1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5473315/original/022120600_1768406550-Bupati_Bogor.jpg)