Memaknai Pesan Thom Haye Usai Laga Persib vs Persija

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Sepak bola adalah bahasa universal yang aneh; di satu sisi ia adalah tarian fisik yang penuh estetika, namun di sisi lain ia bisa berubah menjadi drama kolosal yang membuat tensi darah naik melebihi batas wajar.

Baru saja kita menyaksikan bagaimana Stadion Gelora Bandung Lautan Api menjadi saksi bisu kemenangan tipis nan krusial 1-0 Persib atas Persija pada tanggal 11 Januari 2026. Sebagai pendukung Persib, ada rasa hangat yang menjalar di dada melihat angka di papan skor, sebuah kepuasan batin yang sulit dijelaskan.

Namun, kemenangan ini membawa kita pada sebuah refleksi yang lebih dalam, yang dipicu oleh keresahan seorang Thom Haye melalui unggahan media sosialnya dalam bahasa inggris yang artinya:

Thom, dengan gaya bahasanya yang lugas, seolah menyiramkan air es ke tengah euforia kita, mengingatkan bahwa di balik kemeriahan "El Clasico" Indonesia ini, ada luka-luka kecil yang jika dibiarkan bisa menjadi infeksi kronis bagi kesehatan sepak bola kita secara nasional.

Mari kita bicara tentang "potensi" dan "atmosfer" yang disebut Thom dengan nada penuh kagum sekaligus getir. Secara ilmiah, atmosfer stadion di Indonesia adalah fenomena sosiologis yang luar biasa. Ribuan manusia berkumpul, menyanyikan lagu yang sama, dan memiliki detak jantung yang sinkron selama sembilan puluh menit.

Ini adalah bentuk modal sosial yang sangat besar. Namun, masalahnya muncul ketika energi kinetik di tribun berubah menjadi energi negatif di lapangan hijau maupun di kolom komentar.

Thom menyoroti bagaimana kualitas permainan sering kali tergerus oleh "pelanggaran yang tidak perlu." Jika kita bedah secara teknis, sepak bola modern menuntut efisiensi dan kecerdasan posisi, namun di liga kita, sering kali "otot" berbicara lebih keras daripada "otak."

Ada kecenderungan bahwa menjatuhkan lawan dianggap sebagai bentuk sportivitas yang salah kaprah, seolah-olah semakin keras benturannya, semakin besar rasa cinta pada klub. Padahal, secara logika olahraga, setiap pelanggaran yang tidak perlu adalah pemborosan waktu yang justru menurunkan standar tontonan yang kita cintai ini.

Keunikan—atau mungkin keganjilan—sepak bola kita adalah respon balik saat ada yang mencoba memberikan kritik membangun. Thom menyebutkan bahwa saat seseorang mencoba berbicara tentang perbaikan kualitas, respon yang diterima justru keinginan untuk "berkelahi" lebih jauh.

Dalam ilmu psikologi massa, ini sering disebut sebagai defensivitas kolektif, di mana kritik dianggap sebagai serangan terhadap identitas, bukan sebagai saran untuk evaluasi. Kita sering kali merasa bahwa mencintai klub berarti harus menutup mata dari kekurangan yang ada.

Ketika ia merasa sedih melihat kualitas permainan yang rusak karena emosi sesaat, itu adalah sinyal bahwa ada yang salah dengan cara kita menikmati kompetisi ini. Kita ingin liga kita naik kelas, namun kadang kita sendiri yang menarik kakinya ke bawah dengan perilaku yang tidak perlu.

Bagian paling menyedihkan dari catatan Thom adalah tentang "pesan kematian" dan ancaman terhadap keluarga. Ia menuliskan:

Di sinilah jenakanya berubah menjadi getir. Bayangkan, seseorang menendang bola melewati garis gawang, lalu di dunia maya, ada orang-orang yang merasa memiliki hak untuk mengancam nyawa anggota keluarganya.

Secara kriminologi dan etika digital, ini adalah degradasi moral yang sangat jauh. Sepak bola adalah permainan, sebuah simulasi perang yang dimulai dan berakhir saat peluit panjang berbunyi. Ketika permusuhan itu dibawa pulang ke rumah, ke ruang privat keluarga pemain, maka esensi dari olahraga itu sendiri sudah mati.

Kita sering lupa bahwa di balik jersey yang berkeringat itu, ada manusia yang punya ibu, istri, dan anak yang tidak punya urusan dengan skor 1-0. Mengancam keluarga pemain bukan menunjukkan seberapa besar nyali kita sebagai suporter, melainkan menunjukkan seberapa kecil kapasitas empati yang kita miliki sebagai manusia.

Kemenangan Persib kemarin seharusnya menjadi perayaan tentang taktik yang berhasil, tentang disiplin lini belakang yang rapat, atau tentang bagaimana gol tunggal itu tercipta melalui proses yang indah. Atau mungkin bagi Persija yang dapat melihat ini sebagai ruang evaluasi teknis yang sehat.

Namun, narasi pra maupun pasca pertandingan justru teralihkan pada masalah perilaku. Ini adalah kerugian bagi kita semua, baik sporter Persib maupun Persija. Kita terjebak dalam lingkaran setan di mana "respect" atau rasa hormat dianggap sebagai barang yang mahal harganya.

Padahal, tanpa rasa hormat, sepak bola hanyalah dua puluh dua orang yang memperebutkan bola tanpa tujuan yang mulia. Kita harus mulai memahami bahwa rivalitas sejati adalah tentang saling memaksa untuk menjadi lebih baik, bukan saling menjatuhkan hingga ke liang lahat.

Persija yang kuat akan memaksa Persib untuk menjadi lebih kuat lagi, dan sebaliknya. Tanpa lawan yang tangguh dan lingkungan yang kondusif, kemenangan kita akan terasa hambar karena diraih dalam liga yang standar kualitasnya rendah.

Akhirnya, pesan Thom Haye adalah sebuah undangan untuk kita semua melakukan kalibrasi ulang. Menjadi suporter yang fanatik tidak harus berarti menjadi suporter yang buta logika.

Kita bisa tetap bangga dengan kemenangan tim kebanggaan kita tanpa harus merusak mental pemain lawan atau mengintimidasi keluarga mereka. Sepak bola Indonesia memiliki segalanya untuk menjadi besar: gairah yang meluap, dukungan finansial yang lumayan, dan talenta pemain yang tidak kalah bersaing. Yang kita butuhkan sekarang hanyalah sedikit kedewasaan untuk menjaga agar gairah itu tidak membakar rumah kita sendiri.

Mari kita nikmati kemenangan dan kekalahan ini dengan kepala tegak namun hati yang dingin, sembari berjanji bahwa di pertandingan berikutnya, bukan hanya skor yang kita perbaiki, tapi juga cara kita memperlakukan kemanusiaan di dalam dan di luar lapangan.

Karena pada akhirnya, saat lampu stadion dipadamkan, kita semua hanyalah sesama manusia yang ingin melihat sepak bola Indonesia tumbuh menjadi kebanggaan, bukan sekadar sumber keributan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
3 Bek Kelas Dunia yang Bisa Didatangkan Persib Jika Barba Out, Nomor 1 Sergio Ramos
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Demi Rebut Bek Andalan Persib, Media Italia Mendadak Bahas Masa Lalu Federico Barba di Empoli
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
Hilang Sejak 27 Desember 2025, Pendaki Gunung Slamet asal Magelang Ditemukan Meninggal Dunia
• 20 jam lalumerahputih.com
thumb
Video: Pembangunan MRT Jakarta Lintas Timur-Barat Jadi PSN 2026
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Kursi Panas Menteri Agama dalam Pusaran Kuota Haji
• 9 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.