Bisnis.com, JAKARTA – Data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang melandai pada Desember 2025 dinilai belum menjadi sentimen negatif bagi saham emiten konsumer untuk dikoleksi investor asing.
Kalangan analis menilai, kendati data IKK tersebut mengalami penurunan dibandingkan periode November 2025, tetapi hal itu hanya bersifat sentimen jangka pendek. Bahkan dalam fakta data IKK tersebut melandai pada periode high season.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai, data IKK pada Desember 2025 belum mampu secara signifikan mengubah fundamental kinerja emiten konsumer pada kuartal IV/2025. Hal itu lantaran belanja akhir tahun dinilai masih cenderung solid pada periode tersebut.
“[Melandainya data IKK] tidak signifikan mengubah fundamental kinerja di kuartal IV/2025 karena belanja akhir tahun tetap solid,” katanya kepada Bisnis, dikutip Kamis (15/1/2026).
Untuk diketahui, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) terbaru menunjukkan penurunan 0,5 poin, dari 124 pada November 2025 menjadi 123,5 pada Desember 2025. Penurunan IKK ini mengakhiri tren kenaikan yang terjadi dalam 2 bulan sebelumnya.
Lantaran masih berada di atas 120 poin, IKK Desember 2025 dinilai masih positif. Dengan begitu, data ini belum mampu memberikan sentimen jangka panjang terhadap saham-saham di sektor konsumer.
“Asing melihat data ini sebagai noise jangka pendek. IKK masih di level optimis. Pasar konsumsi Indonesia tetap menarik. Jadi, koreksi sekarang justru bisa menjadi entry point,” katanya.
Wafi menilai, penguatan lebih lanjut pada saham-saham di sektor konsumer akan sangat bergantung dari realisasi program Makan Bergizi Gratis, penurunan harga bahan baku seperti gandum atau gula, hingga potensi penurunan suku bunga acuan.
Senada, Junior Research Analyst Sinarmas Sekuritas Dipta Daniswara, menilai bahwa data IKK yang melandai tidak serta merta memberikan sentimen negatif berkepanjangan terhadap prospek emiten konsumer. Hal itu mengingat data penjualan ritel yang tumbuh.
Dipta menerangkan, data penjualan ritel telah tumbuh pada kuartal IV/2025 ke level 4,3–6,3%. Hal itu dinilai dapat menjadi fase awal pemulihan meski belum optimal.
“Dengan kondisi ini, potensi masuknya dana asing masih ada, tetapi cenderung selektif sambil menunggu sinyal pemulihan konsumsi yang lebih kuat,” katanya, dikutip Kamis (15/1/2026).
Menurutnya, penurunan data IKK belakangan lebih bersifat temporer lantaran dampak bencana Sumatra hingga belanja festive season yang tertahan. Ke depan, stabilitas ekonomi dan kebijakan pemerintah yang pro konsumsi dinilai dapat menjadi pendorong pulihnya daya beli masyarakat.
Sinarmas Sekuritas memberikan rekomendasi buy on weakness pada saham PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR), PT Cisarua Mountain Dairy Tbk. (CMRY), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT).
Sementar KISI Sekuritas memberikan rekomendasi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT), dan PT Mayora Indah Tbk. (MYOR).
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





