Mengulang Kata-kata Orang Lain

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Seorang pengusaha besar sangat piawai mengelola ratusan karyawan. Namun anehnya, dia sama sekali tak mampu mengendalikan anaknya sendiri. Hingga suatu hari, ketika dia mencoba mengulang kembali kata-kata yang diucapkan sang anak, segalanya pun berubah…

Mari kita simak kisah berikut ini.

Tuan Li adalah seorang pengusaha yang menjalankan pabrik pengolahan ekspor di Taichung. Pabrik dan perusahaannya mempekerjakan sekitar lima hingga enam ratus karyawan. Berkat keterlibatannya yang aktif—baik dalam urusan bisnis maupun manajemen—usahanya berjalan sangat sukses. Dalam mengambil keputusan, dia selalu tenang, mantap, dan penuh wibawa, layaknya seorang jenderal besar yang memimpin ribuan pasukan.

Namun, dia benar-benar tak berdaya menghadapi anaknya sendiri.

Kesenjangan generasi di antara mereka terasa selebar Selat Taiwan—mustahil diseberangi. Setiap kali bertemu, belum sampai tiga kalimat terucap, meja sudah dipukul, pintu dibanting, dan rumah pun berubah menjadi medan perang.

Hari itu pun sama. Gara-gara sang anak pulang larut malam, pertengkaran kembali meledak. Saat keduanya sudah memerah wajah dan meninggi suara, tiba-tiba sang anak terdiam. 

Lalu sang anak berkata dengan tenang : “Ayah, kalau terus bertengkar seperti ini juga bukan solusi. Bolehkah aku minta Ayah mengulang kembali kalimat yang barusan aku ucapkan?”

“Hah?!”

 Tuan Li benar-benar terkejut. Dia sama sekali tak menyangka akan menghadapi cara seperti itu.

“Kamu bilang… kamu bilang… sebagai ayah yang terlalu hebat, tentu saja memandang rendah anaknya!”

“Bukan! Coba Ayah pikirkan lagi. Apa aku benar-benar berkata seperti itu?”

“Dasar bocah! Kalau begitu, apa yang kamu katakan? Kenapa kamu sendiri tidak mengulanginya?”

Sang anak tiba-tiba tertawa:  “Nah, lihat kan! Dari awal sampai akhir, Ayah sama sekali tidak mendengarkan apa yang aku katakan. Itu semua hanya pikiran Ayah sendiri, bukan ucapanku.

Bukankah kita ingin berkomunikasi? Kalau begitu, apa yang aku katakan, Ayah ulangi dulu. Setelah itu giliran Ayah bicara, dan aku yang mengulang.”

“Hei! Mana ada waktu sebanyak itu untuk mengulang-ulang! Kamu benar-benar mau bikin Ayah mati emosi, ya?!”

“Ayah, mari kita coba saja. Kalau tidak, pertengkaran seperti ini tidak akan pernah selesai. Coba Ayah pikirkan lagi, sebenarnya tadi aku bilang apa?”

Tuan Li berpikir sejenak, lalu akhirnya mengakui : “Ayah benar-benar tidak ingat. Kamu ulangi saja.”

“Baik. Aku bilang begini: Ayah itu sangat hebat. Sebagai anak, aku di satu sisi sangat mengagumi Ayah, tapi di sisi lain aku takut tidak bisa menyamai Ayah, jadi dalam hati aku merasa tertekan.”

Tuan Li terdiam dan merenung. Ucapan itu terdengar masuk akal. Mengapa tadi dia bisa begitu emosional?

Malam itu, sesuatu yang tak terbayangkan pun terjadi—ayah dan anak bisa berbincang selama dua jam penuh tanpa bertengkar. Bahkan Tuan Li sendiri tak menyangka hasilnya bisa seefektif itu.

Keesokan paginya, meski kurang tidur, Tuan Li bangun dengan perasaan ringan dan segar. Dia berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya.

Hari itu, dia harus memimpin rapat pembelian penting untuk menentukan mesin senilai sepuluh juta yang akan dibeli—apakah buatan Amerika atau Jepang. Menurut bagian pembelian, mesin Jepang lebih murah dan kualitasnya cukup baik. Namun para insinyur bersikeras memilih produk Amerika.

Dalam rapat, Tuan Li mempersilakan kepala insinyur menyampaikan pendapat. Secara lahiriah itu tampak sopan, tetapi sang insinyur tahu betul: pemilik perusahaan yang sudah lama berkuasa biasanya cenderung mengambil keputusan sendiri. Pengalamannya berkata, pertanyaan bos sering kali hanya formalitas—lagipula, siapa yang tak ingin menghemat biaya?

Pilihan bos sudah bisa ditebak, maka dia pun berbicara dengan lesu. Belum sampai lima menit, dia berkata bahwa dirinya tidak punya pendapat lain.

Jika biasanya, Tuan Li akan langsung mengambil alih pembicaraan dan menikmati rasa berkuasa itu. 

Namun hari ini, dia justru berkata: “Pak Insinyur, izinkan saya mengulang poin utama Anda. Tolong koreksi jika ada yang tidak tepat.

Mesin buatan Jepang memang lebih murah dan kualitasnya tidak buruk. Namun, jika di kemudian hari terjadi kerusakan, masalah akan muncul. Tim mereka kesulitan berkomunikasi langsung karena kendala bahasa. Penerjemah yang dibawa pun sering kali tidak memahami mesin presisi. Kita jadi tidak benar-benar tahu di mana letak masalahnya. Jika masalah yang sama terulang, kita harus kembali memanggil teknisi mereka, dan ini bisa menghambat produksi. Jika dihitung secara keseluruhan, justru membeli mesin buatan Amerika akan lebih menguntungkan.”

Seiring Tuan Li mengulang penjelasan itu, mata kepala insinyur mulai berbinar. Dia kembali bersemangat dan menambahkan beberapa poin. Satu orang berbicara, yang lain menanggapi—diskusi pun mengalir lancar dan penuh antusiasme.

Saudara-saudari sekalian, jika tujuan kita adalah bertengkar, maka cukup sibuk menyerang balik lawan bicara. Namun jika tujuan kita adalah menyelesaikan masalah, kita harus sungguh-sungguh memahami pemikiran pihak lain.

Mengulang kata-kata lawan bicara, di satu sisi membuat mereka merasa didengarkan dan yakin bahwa tidak ada kesalahpahaman. Di sisi lain, hal itu memberi kita waktu untuk mencerna makna ucapannya sebelum membantah atau mengambil keputusan.

Sering kali, pada titik itulah kita menyadari: pertengkaran tak lagi menjadi pertengkaran, melainkan komunikasi yang aktif dan membangun.

Renungan Redaksi

Mendengarkan perkataan orang lain barulah disebut komunikasi. Terus-menerus menyampaikan pendapat sendiri tanpa mau mendengarkan pihak lain hanyalah pertengkaran.

Komunikasi dan pertengkaran sebenarnya adalah dua sisi dari koin yang sama—semuanya tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Ketika pendapat kita berbenturan dengan orang lain, ingatlah cerita ini. Tenangkan diri, dengarkan dengan sungguh-sungguh apa yang ingin disampaikan pihak lain. Hanya setelah benar-benar memahami makna ucapannya, barulah kita bisa menolak atau menyetujuinya—dan membuat mereka mengerti alasan kita.(jhnyn)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Potret Crane Kereta Cepat Ambruk Timpa Gerbong Penumpang, 31 Tewas
• 13 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
RKAB 2026 Disetujui ESDM, Vale (INCO) Ngebut Operasi & Investasi
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Foto: Seragam Baru Yamaha XMAX 250 Connected
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Kasus Korupsi LPEI Berkembang, Kejati DKI Tetapkan 4 Tersangka Baru dan Sita Aset Rp566 Miliar
• 21 jam lalusuara.com
thumb
Polisi Bagi Air Mineral dan Snack ke Massa Buruh yang Demo di DPR
• 4 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.