REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto menyoroti ketertinggalan Indonesia dari Malaysia hingga Vietnam dalam konsumsi listrik per kapita. Kondisi tersebut dinilai menghambat daya saing industri sekaligus menahan laju pembangunan nasional.
Sugeng menilai konsumsi listrik per kapita menjadi salah satu indikator penting kemajuan sebuah negara. Indonesia, kata dia, masih berada di papan bawah di kawasan ASEAN, bahkan tertinggal dari negara-negara dengan basis industri yang kini tumbuh agresif.
Baca Juga
PLN Akui Realisasi Pemanfaatan Biomassa Masih di Bawah Target
Suram, Rupiah Diprediksi Merosot ke Rp17 Ribu pada Pekan Depan, Kenapa Ya?
Optimalisasi Fungsi KHDTK, Pertamina Teken MoU dengan Kemenhut
“Konsumsi listrik per kapita kita sekarang baru sekitar 1.400 kilowatt jam per kapita,” ujar Sugeng dalam acara Ombudsman RI di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Ia membandingkan capaian tersebut dengan negara-negara tetangga. Brunei Darussalam telah mencapai sekitar 8.000 kilowatt jam per kapita, Singapura 7.200 kilowatt jam per kapita, dan Malaysia sekitar 3.800 kilowatt jam per kapita. Thailand dan Vietnam juga berada jauh di atas Indonesia dalam pemanfaatan listrik untuk mendukung aktivitas ekonomi.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Ketertinggalan ini, menurut Sugeng, bukan sekadar persoalan statistik. Rendahnya konsumsi listrik per kapita mencerminkan melemahnya basis industri nasional, terutama sektor manufaktur yang membutuhkan pasokan listrik stabil dan memadai.
“Dari 10 negara ASEAN, kita berada di peringkat lima terbawah. Kita hanya lebih baik dari Timor Leste, dan dengan Kamboja pun berpotensi segera tersusul,” kata legislator Partai Nasdem itu.