Jakarta, VIVA – Presiden Prabowo Subianto berencana menambah beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sebesar 80 persen, khususnya dalam bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).
"Beliau (Presiden Prabowo Subianto) memberikan arahan untuk alokasi peruntukan dari beasiswa LPDP untuk diperbanyak ke STEM ya. Tadi beliau sempat menyampaikan berharap mencapai di atas 80 persen," kata Mensesneg Prasetyo Hadi di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis, 15 Januari 2026.
- Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden
Prasetyo menjelaskan bahwa pemerintah ingin fokus mengejar ketertinggalan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. "Karena kita memang konsentrasi untuk mengejar ketertinggalan kita terlebih dahulu di dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi," kata dia.
Maka itu, Presiden Prabowo Subianto menambah alokasi dana riset dan inovasi untuk seluruh perguruan tinggi hingga Rp 4 Triliun.
Mulanya, dana riset itu hanya dialokasikan sebanyak Rp 8 triliun atau setara dengan 0,34 persen dari APBN kita. Dengan adanya tambahan itu, dana riset di Indonesia mencapai Rp12 triliun.
"Tadi di dalam pertemuan ada beberapa yang kemudian juga disampaikan kepada Bapak Presiden dan Bapak Presiden telah mengambil beberapa keputusan, salah satunya adalah dilaporkan bahwa dana riset di perguruan tinggi itu nilainya hanya 8 triliun, itu setara dengan 0,34 persen dari APBN kita," jelas Prasetyo.
Karena itu, Presiden menambah alokasi dana riset hingga Rp 4 triliun memperkuat riset-riset untuk seluruh universitas.
"Oleh karena itulah dalam forum tadi, Bapak Presiden langsung memutuskan untuk memberikan tambahan dana anggaran sebesar 4 triliun, yang harapannya ini dapat memperkuat riset-riset untuk seluruh universitas, termasuk bekerja sama dengan BRIN," ungkapnya.
- Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden
Ia menjelaskan riset-riset tersebut difokuskan untuk mengejar swasembada pangan, kemudian mengejar swasembada energi, yang ketiga mempersiapkan industrialisasi dan hilirisasi.
"Hilirisasi yang tahun ini akan mulai dilakukan groundbreaking besar-besaran yang tentunya membutuhkan sumber daya-sumber daya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi," imbuhnya.





