Perry Warjiyo dan Bos Bank Sentral Dunia Bersatu Dukung Powell dari Tekanan Politik Trump

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Bos bank sentral dari berbagai negara secara kolektif menyatakan dukungan mereka kepada Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome H Powell sekaligus mengecam tekanan politik yang dilakukan Presiden AS Donald Trump terhadap bank sentral AS. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjadi otoritas pertama di Asia Tenggara yang secara terbuka ikut membela Powell.

Pernyataan bersama itu dirilis pada Selasa (13/1/2025) oleh 16 para pimpinan bank sentral dari berbagai negara, termasuk Perry Warjiyo. Daftar gubernur bank sentral yang akan ikut memberi dukungan masih akan terus bertambah.

"Kami berdiri dalam solidaritas penuh dengan Sistem Federal Reserve dan Ketua Jerome H Powell. Independensi bank sentral adalah pilar utama yang menjaga stabilitas harga, finansial, dan ekonomi demi kepentingan warga negara," demikian bunyi pernyataan tersebut seperti dikutip dari situs resmi European Central Bank.

Para bos bank sentral menegaskan pentingnya menjaga independensi bank sentral dengan penghormatan penuh terhadap supremasi hukum dan akuntabilitas sistem demokrasi.

"Ketua Powell telah menjalankan tugasnya dengan penuh integritas, berfokus pada mandat yang diembannya, serta komitmen penuh pada kepentingan publik. Bagi kami, dia adalah kolega yang kami hargai dan dia dihormati oleh orang-orang yang pernah bekerja dengannya."

Baca JugaIndependensi Bank Sentral Terancam

Perry berada dalam daftar penandatangan pernyataan dukungan secara daring untuk Powell. Sejauh ini, Bank Indonesia belum merespon permintaan komentar terkait hal itu. Selain Ferry, bank sentral dunia lain yang menandatangani pernyataan dukungan kepada Powell antara lain Bank Sentral Eropa, Inggris, Australia, Kanada, Korea Selatan, Afrika Selatan, dan Selandia Baru.

Dukungan kepada Powell menyusul ancaman Trump untuk menuntut The Fed dengan tuntutan kriminal. Dukungan secara terbuka seperti itu bukannya tanpa risiko. Kementerian Luar Negeri Selandia Baru, misalnya, mengkritik Gubernur Bank Sentral Selandia Baru karena menandatangani pernyataan bersama itu. Menurut Kemenlu Selandia Baru, tidak seharusnya bank sentral melibatkan diri dalam urusan politik domestik AS.

Perseteruan Powell dan Trump sudah terjadi setidaknya sejak 2018. Trump beberapa kali menyerang Powell yang telah ia angkat sebagai ketua The Fed lantaran dianggap lambat memangkas suku bunga. Trump juga pernah menghina Powell dengan sebutan “si bodoh”.

Perseteruan memanas pekan ini ketika Powell mengaku dirinya menjadi sasaran penyelidikan kriminal oleh Departemen Kehakiman AS. Powell menyebut tindakan itu sebagai intimidasi yang belum pernah terjadi sebelumnya terkait kebijakan moneter.

“Saya ditekan karena The Fed menetapkan suku bunga berdasarkan penilaian terbaik demi kepentingan pubilik, bukan demi keinginan Presiden,” ujar Powell.

Baca Juga"Cawe-cawe" Politik, Independensi BI Kembali Dipertaruhkan

Trump dalam wawancara, Selasa (13/1/2026), ditanya oleh CBS Evening News jika penyelidikan Departemen Kehakiman AS terhadap Ketua The Fed Jerome Powell adalah bentuk balas dendam politik lantaran Powell berulang kali menolak tekanan Trump untuk menurunkan suku bunga.

Trump menjawab, “Powell kalau bukan koruptor, ya, tidak kompeten (sebagai Ketua The Fed).” Ketika dikejar tentang kemungkinan balas dendam politik, Trump berkata, “Saya tidak bisa mengubah pandangan orang terhadapnya.” (AP)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Komisi III DPR Mulai Bahas RUU Perampasan Aset
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Profil Ketua DPRD Palopo Darwis Terang-terangan Orasi Pembentukan Luwu Raya, Kader Nasdem
• 18 jam lalutribuntimur.com
thumb
Guru SMKN 3 Tanjabtim Diduga Dikeroyok Murid, Ini Penyebabnya
• 25 menit lalurealita.co
thumb
KPK Ingatkan Risiko Korupsi Terkait Kebijakan Penugasan Energi Pertamina ke AS
• 13 jam lalukompas.com
thumb
Fenomena Peristiwa Isra dan Mi’raj
• 13 jam lalufajar.co.id
Berhasil disimpan.