Bisnis.com, SOLOK - Kementerian Pertanian (Kementan) mulai melakukan rehabilitasi 10.000 hektare lahan sawah yang terdampak bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Sumatra Barat.
Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pertanian, Sam Herodian mengatakan mengawali tahun ini Mentan Amran Sulaiman memutuskan untuk memulai melakukan rehabilitasi lahan sawah di Sumatra yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
“Khusus di Sumbar saya datang langsung ke Kabupaten Solok ini, data yang kami terima total kerusakan lahan sawah di seluruh daerah di Sumbar mencapai 6.451 hektare. Rehabilitasi ini akan kami lakukan secara bertahap,” katanya, Kamis (15/1/2026).
Dia menjelaskan dari 6.451 hektare lahan sawah yang terdampak itu, terdapat rusak ringan 2.802 hektare, rusak sedang 822 hektare, dan rusak berat 2.827 hektare. Untuk tahapan I ini rehabilitasi lahan ditargetkan untuk sawah yang rusak ringan dengan luas 1.247 hektare, dan hal ini ada di Kabupaten Solok.
“Kabupaten Solok memiliki lahan sawah yang terluas terdampak bencana alam dibandingkan kabupaten dan kota lainnya. Jadi, secara bertahap rehabilitasi ini untuk Tahap I dimulai untuk 1.247 hektare,” jelasnya.
Menurutnya pendataan lahan sawah terdampak bencana alam ini, belum merupakan angka final, karena masih ada di sejumlah daerah masih melakukan pendataan dan verifikasi di lapangan, serta melengkapi administrasi lainnya, sehingga data jumlah kerusakan lahan sawah ini akan terus diperbarui.
Baca Juga
- Banjir Sumatra Rusak 11.000 Hektare Lahan, Kementan Siap Cetak Sawah Baru
- Panen di Sumatra Tetap Aman meski 11.000 Hektare Sawah Rusak, Amran: Sangat Kecil
- Prabowo Mau Papua Swasembada Pangan dalam 3 Tahun, Cetak Sawah dan Bangkitkan Sagu
Sam Herodian juga menyebutkan untuk lahan sawah yang direhabilitasi ini ada beberapa proses yang dilakukan, mulai dari pengerukan pasir yang masuk ke lahan sawah yang ketebalannya mencapai 50 cm, hingga nanti melakukan membajak sawah kembali.
“Jadi kondisi lahan sawah yang dipenuhi tanah dan pasir ini, kami keruk dulu. Nanti tanahnya diolah lagi dengan cara dibajak sampai ke lumpur. Dengan hal ini, ketika ditanami padi kembali, insyaallah kualitas tanaman padi tetap bagus,” tegasnya.
Sementara itu, Dirjen Lahan dan Irigasi Pertanian Kementan Hermanto menyampaikan dari sisi pembiayaan untuk rehabilitasi lahan sawah ini, Kementerian Pertanian telah menyiapkan alokasi anggaran eksisting rehabilitasi lahan sawah nasional seluas 10.000 hektare dengan nilai Rp148,53 miliar.
Dikatakannya anggaran tersebut akan direvisi dan dialokasikan untuk menangani rehabilitasi lahan sawah dengan tingkat kerusakan sedang di wilayah terdampak bencana di tiga provinsi di Sumatra, termasuk di Sumbar.
“Selain itu, tersedia anggaran kegiatan optimasi lahan di tiga provinsi sebesar Rp310 miliar untuk menangani rehabilitasi dengan tingkat kerusakan ringan,” ujarnya.
Menurutnya kegiatan rehabilitasi lahan sawah tersebut meliputi perapihan pematang, normalisasi saluran irigasi tersier, primer, dan sekunder, perbaikan bangunan irigasi seperti pintu air dan box bagi, serta pekerjaan olah lahan.
Sebagai bagian dari dukungan konkret, Kementan juga menyalurkan berbagai bantuan sarana produksi pertanian, mulai dari pupuk, benih, alat dan mesin pertanian, hingga bantuan sembako.
“Jadi sesuai arahan dari Mentan Amran, kami perlu memastikan seluruh bantuan yang dijanjikan kepada pemerintah daerah telah direalisasikan secara tepat sasaran,” sebutnya.
Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sumbar Arry Yuswandi mengatakan adanya kegiatan rehabilitasi lahan sawah oleh Kementan ini, diharapkan dapat mendongkrak pergerakan perekonomian daerah. Terlebih, di Kabupaten Solok merupakan penghasil beras premium yakni Beras Solok terbesar di Sumbar.
“Tahap awal ini Kementan melakukan rehabilitasi untuk lahan sawah yang rusak ringan, sembari nanti pendataan lahan sawah terus diperbarui,” katanya.
“Kami dari pemerintah daerah tentu menaruh harapan yang besar adanya rehabilitasi lahan sawah dari Kementan ini, agar perekonomian petani kembali bergairah. Karena yang dilakukan Kementan ini tidak hanya melakukan pemulihan lahan, tapi juga turut memberikan bantuan untuk kebutuhan pertanian,” sambung Arry.
Menurutnya melihat dari adanya kepedulian dari Kementan yang dilengkapi dengan bantuan mulai dari pupuk, benih, alat dan mesin pertanian, hingga bantuan sembako itu, turut membuat petani bersemangat untuk mengolah lahan sawah kembali pascabencana ini.
“Wilayah Nagari/Desa Salayo ini juga terdampak bencana alam pada Desember 2025. Selain ada belasan rumah yang terdampak, lahan sawah juga ikut terdampak, bahkan yang terluas lahan sawah rusak itu ya di Kabupaten Solok ini, ungkapnya.
Oleh karena itu, Arry berharap petani turut mendukung kegiatan rehabilitasi lahan sawah yang dilakukan Kementan ini, sehingga target rehabilitasi lahan sawah ini bisa terealisasi dengan baik.



/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2023%2F04%2F09%2Fe81b59fc-e4a5-498c-a173-6375e7ead986_jpg.jpg)

