Pasar otomotif nasional tahun 2025 mengalami defisit cukup signifikan dibandingkan periode 2024 lalu. Hal ini turut dirasakan Honda, pabrikan Jepang dengan logo ‘H’ tegak yang kini sedang lesu.
Pengamat otomotif sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Pasaribu mengatakan, Honda gagal bersaing di pasar. Terlebih masifnya merek China dengan penawaran harga serta inovasi yang memikat preferensi konsumen.
”Penurunan penjualan Honda di Indonesia pada 2025 bisa dibaca sebagai hasil interaksi yang saling memperburuk antara ketidakselarasan Honda terhadap model elektrifikasi terjangkau dan agresivitas EV China di segmen harga yang mirip,” buka Yannes kepada kumparan, Rabu (14/1/2026).
Yannes menambahkan, minat konsumen saat ini yang didominasi oleh generasi milenial dan Gen Z sudah tidak lagi relevan dengan arah produk Honda.
Sebab, mereka tak lagi loyal terhadap merek, melainkan mencari yang lebih value for money, atau bisa dibilang mendapatkan fitur dan kelengkapan semaksimal mungkin dengan harga yang masuk akal.
”Mereka mengejar teknologi yang terasa canggih, fitur lengkap, desain modern, dan kenyamanan harian dengan dana terbatas. Sementara, Honda belum mampu memasok kombinasi nilai itu secara kuat” sambungnya.
Bukan hanya dari perspektif konsumen, Honda juga terjepit pagu harga merek China. Alhasil, berbagai segmentasi Honda termakan, mulai dari LCGC hingga compact SUV.
Ambil contoh kelas Honda Brio yang saat ini memiliki rentang harga dari Rp 170-258 juta dengan kelengkapan seadanya. Di lain sisi, BYD Atto 1 menawarkan harga serupa namun ditanamkan fitur-fitur canggih yang mampu memenuhi hasrat konsumen masa kini.
“Honda semakin sulit tampil kompetitif ketika ada BEV murah. Atto 1 dengan harga mulai Rp 199 juta hadir dengan fitur asistensi mengemudi, Blade Battery, dan biaya operasional rendah,” katanya.
Kemudian, salah satu volume maker Honda yakni HR-V, mulai terusik eksistensinya. Terlebih ketika serbuan datang di segmen paling gemuk, mulai dari BYD Atto 3, Jaecoo J5 EV, hingga Chery Omoda E5. Semua itu menawarkan teknologi inovatif sekaligus biaya kepemilikan yang rendah.
“Pada akhirnya, keterlambatan Honda di elektrifikasi murah membuka celah dan agresivitas China, mengisinya dengan inovasi serta harga yang sangat kompetitif,” ujarnya.
”Sehingga, Honda bukan hanya tertinggal dari sisi elektrifikasi, tetapi juga kalah pada metrik utama yang kini paling menentukan keputusan pembelian, yakni value for money,” pungkas Yannes.
Performa 4 tahun ke belakangPerforma Honda di Indonesia gagal menunjukkan capaian positif hingga akhir 2025 lalu. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan wholesales (distribusi dari pabrik ke diler) Honda anjlok hingga 40,4 persen.
Tarik mundur ke tahun 2022 pasca pandemi Covid-19, Honda mencatatkan angka wholesales tahunan sebanyak 131.280 unit dengan meraih pangsa pasar tertinggi ketiga sebesar 12,5 persen.
Kemudian, torehan market share naik menjadi 13,8 persen dengan mendulang wholesales 138.967 unit pada 2023. Pada masa itu, Honda Brio jadi tulang punggung dengan menawarkan konsumsi BBM irit, harga terjangkau, dan tetap membawa kesan premium Honda.
Memasuki 2024, tantangan industri otomotif kian berat. Total penjualan nasional anjlok 13,9 persen. Honda jadi salah satu pabrikan Jepang dengan depresiasi tertinggi hingga 31,8 persen, dari 138.967 unit menjadi 94.742 unit dengan pangsa pasar 10,9 persen
Gejolak otomotif 2025 turut menekan Honda. Invasi jenama China hingga daya beli lesu jadi faktor utama. Tercatat penjualan minus 40,4 persen menjadi 56.500 hingga akhir tahun 2025, menggesernya ke posisi kelima dari posisi ketiga sejak 2022 lalu.



