Bumi Lewati Ambang Batas Kritis, 2025 Resmi Jadi Tahun Terpanas Ketiga dalam Sejarah

republika.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSELS -- Krisis iklim global telah mencapai titik balik yang mengkhawatirkan. Data terbaru yang dirilis Copernicus Climate Change Service (C3S) menunjukkan, tahun 2025 secara resmi menempati urutan ketiga sebagai tahun terpanas dalam catatan sejarah global.

C3S mencatat periode 2023 hingga 2025 menjadi periode tiga tahun pertama ketika suhu rata-rata global secara konsisten melampaui ambang batas kritis 1,5 derajat Celsius di atas masa praindustri. Meski laporan yang dirilis European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) ini juga mengungkap adanya fenomena pendinginan parsial di beberapa wilayah tropis, tren pemanasan jangka panjang akibat aktivitas manusia terus berlanjut tanpa tanda-tanda melambat.

Baca Juga
  • Masdar UEA Berencana Perluas Investasi Panas Bumi di Indonesia
  • Kapasitas Naik Jadi 727 MW, PGE Agresif Kembangkan Panas Bumi
  • 2025 Tercatat Jadi Tahun Terpanas, Picu Cuaca Ekstrem

Berdasarkan data satelit dan pemantauan darat, tahun 2025 tercatat hanya terpaut tipis, yakni 0,01 derajat Celsius lebih dingin dibandingkan 2023 dan 0,13 derajat Celsius lebih dingin dibandingkan 2024 yang masih memegang rekor sebagai tahun terpanas sepanjang masa. Namun, signifikansi statistik dari perbedaan kecil ini mempertegas fakta yang lebih luas: 11 tahun terakhir merupakan 11 tahun terpanas yang pernah tercatat dalam sejarah modern.

“Fakta sebelas tahun terakhir merupakan tahun-tahun terpanas yang pernah tercatat memberikan bukti lebih lanjut tentang tren tak terbantahkan bumi menuju iklim yang lebih panas,” kata Direktur Layanan Perubahan Iklim Copernicus Carlo Buontempo dalam laporan tersebut, Kamis (15/1/2026) lalu.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Buontempo menegaskan, hampir dapat dipastikan suhu bumi akan melewati batas 1,5 derajat Celsius di atas masa praindustri sebagaimana ditetapkan dalam Perjanjian Paris. Kini, tambahnya, dunia harus menentukan cara mengelola kenaikan suhu tersebut beserta konsekuensinya terhadap masyarakat dan alam.

Laporan C3S mengungkapkan peningkatan suhu pada 2025 tidak terjadi secara merata. Wilayah daratan global mencatat suhu tahunan tertinggi kedua. Sementara itu, wilayah kutub menunjukkan kondisi ekstrem; Antartika mengalami suhu tahunan terpanas yang pernah tercatat, sedangkan Arktik mencatat rekor terpanas kedua.

Para ilmuwan dari berbagai organisasi terkemuka dunia, termasuk NASA, NOAA, UK Met Office, Berkeley Earth, dan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), yang mengoordinasikan perilis data ini, mengidentifikasi dua faktor utama penyebab panas ekstrem selama tiga tahun terakhir.

Faktor pertama dan paling dominan adalah akumulasi gas rumah kaca di atmosfer. Emisi dari pembakaran bahan bakar fosil, ditambah melemahnya kemampuan penyerap karbon alami seperti hutan dan lautan dalam menyerap karbon dioksida, telah menciptakan efek selimut yang memerangkap panas di bumi.

Faktor kedua berkaitan dengan suhu permukaan laut yang mencapai tingkat sangat tinggi di seluruh samudra. Hal ini dikaitkan dengan peristiwa El Niño yang kuat pada periode sebelumnya serta variabilitas samudra lainnya yang diperkuat oleh perubahan iklim antropogenik. Perubahan jumlah aerosol, tutupan awan rendah, serta variasi sirkulasi atmosfer juga memberikan kontribusi tambahan terhadap anomali suhu tersebut.

Berbeda dengan 2023 dan 2024 yang sangat dipengaruhi fenomena El Nino kuat, yang berdampak pada pemanasan suhu global tahun 2025 ditandai kondisi ENSO-netral atau La Nina lemah di ekuator Pasifik.

La Nina secara historis memberikan efek pendinginan sementara. Hal ini menjadi alasan suhu di wilayah tropis, termasuk Samudra Atlantik tropis dan Samudra Hindia, tidak seekstrem 2024. Namun, pendinginan di wilayah tropis tersebut hampir sepenuhnya dikompensasi oleh lonjakan suhu di wilayah kutub dan beberapa wilayah lainnya.

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
PIHPS: Harga cabai rawit merah Rp57.150/kg, telur ayam Rp36.000/kg
• 2 jam laluantaranews.com
thumb
Tiang Monorel Rasuna Said Dibongkar, Senayan Masih Menggantung
• 5 jam lalukompas.com
thumb
Seskab Teddy Bertemu Basuki, Update Perkembangan Pembangunan IKN
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Heri Sudarmanto Bisa Terima Uang Pemerasan TKA Meski Sudah Pensiun
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
4 Kegiatan Non Akademik Buat Anak Rekomendasi teman kumparanMOM
• 15 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.