REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aktivitas investment banking di Asia melonjak tajam sepanjang 2025 dengan total nilai transaksi mencapai 933 miliar dolar AS, atau tumbuh 30 persen secara tahunan. Kinerja tersebut didorong pelonggaran suku bunga global dan menguatnya aktivitas merger dan akuisisi (M&A), khususnya di kawasan ASEAN.
Co-Head of Japan, Asia North and Australia (JANA) and Asia South Investment Banking Coverage Citigroup Jan Metzger mengatakan, perbaikan signifikan kondisi makroekonomi pada 2025 menjadi faktor kunci pemulihan aktivitas perbankan investasi di kawasan.
- Di Tengah Tekanan Ekonomi, KFC dan Pizza Hut di Negara Ini Sepakat Merger
- Menakar Risiko Merger BUMN
- Viral Kabar Purbaya Temukan Data Uang Jokowi Ribuan Triliun di Bank China, Kemenkeu Beri Klarifikasi
“Jika melihat kembali ke tahun 2025, kami menyaksikan perbaikan kondisi makroekonomi yang signifikan, yang mendorong pemulihan aktivitas investment banking,” ujarnya dalam Asia South Investment Banking Outlook 2026 yang diselenggarakan secara daring oleh Citi, Kamis (15/1/2026) lalu.
Ia menuturkan, pelonggaran suku bunga sepanjang tahun lalu turut menurunkan biaya modal dan memulihkan kepercayaan pasar, serta membuat pembiayaan ulang, ekspansi, dan aktivitas merger dan akuisisi menjadi lebih memungkinkan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Secara regional, Asia dinilai menjadi penggerak utama aktivitas global, dengan Asia Selatan sebagai salah satu episentrumnya. “Kami memandang Asia secara keseluruhan, dan khususnya Asia Selatan, sebagai penggerak utama aktivitas global,” ujarnya.
Dari sisi struktur transaksi, dana yang dihimpun melalui penerbitan saham dan instrumen terkait ekuitas pada 2025 meningkat 38 persen menjadi 260 miliar dolar AS. Sementara itu, penerbitan obligasi primer tumbuh 23 persen menjadi 278 miliar dolar AS.
Metzger menjelaskan, aktivitas transaksi sempat tertahan pada paruh pertama 2025 akibat volatilitas pasar, namun meningkat tajam sejak kuartal ketiga hingga akhir tahun. Di ASEAN, merger dan akuisisi menjadi pendorong utama bisnis perbankan investasi, seiring menguatnya sejumlah tema struktural.
“Merger dan akuisisi menjadi penggerak utama bisnis kami di ASEAN, yang juga didukung oleh tema-tema besar seperti pembangunan pusat data dan penciptaan kekayaan sepanjang 2025,” kata Metzger.
Sepanjang 2025, Citi membantu klien-klien Asia menghimpun lebih dari 250 miliar dolar AS dari pasar modal global. Ia optimistis momentum tersebut berlanjut pada 2026, seiring menguatnya agenda transaksi di berbagai sektor.
“Pipeline kami saat ini merupakan salah satu yang terkuat yang pernah kami lihat di kawasan dalam waktu yang lama,” ujar Metzger. Ia menambahkan, aktivitas M&A diperkirakan tetap solid, khususnya di sektor teknologi, media, dan telekomunikasi (TMT), konsumer, serta kesehatan.
/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fphoto%2Fori%2F2020%2F11%2F03%2Ffacae010-73a2-4acd-8e54-790d1a5ec4f5.jpg)

