EtIndonesia. Gelombang protes di Iran kembali meningkat tajam dan memasuki fase paling berbahaya sejak pecahnya aksi perlawanan rakyat terhadap rezim. Pada 14 Januari, warga di kawasan Ekbatana, Teheran, tetap bertahan di jalan-jalan meski menghadapi penindasan brutal dari aparat keamanan. Situasi ini berlangsung bersamaan dengan meningkatnya pergerakan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, yang memicu kekhawatiran luas akan kemungkinan pecahnya konflik berskala besar.
Demonstrasi Berlanjut di Tengah Penembakan Peluru Tajam
Pada 14 Januari waktu setempat, pasukan keamanan Iran dilaporkan melancarkan operasi penindasan besar-besaran di kawasan Ekbatana. Namun, alih-alih surut, para demonstran tetap bertahan. Rekaman video yang beredar luas di media sosial menunjukkan aparat rezim menembaki demonstran dari belakang saat mereka berusaha melarikan diri.
Sejumlah video lain memperlihatkan pasukan keamanan Iran melepaskan peluru tajam ke arah massa tak bersenjata, memperkuat tudingan bahwa rezim menggunakan kekuatan mematikan untuk meredam aksi protes.
Di tengah eskalasi tersebut, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyampaikan pernyataan dari Gedung Putih pada sore hari 14 Januari waktu Pantai Timur AS. Trump mengklaim menerima laporan bahwa pembunuhan di Iran “sedang melambat—bahkan telah berhenti”.
Dia juga menyebutkan bahwa sebagian korban tembakan diduga melakukan perlawanan balik, seraya menegaskan bahwa kondisi di lapangan sangat kompleks dan terus berubah.
Laporan Israel: Warga Mulai Dipersenjatai
Pernyataan Trump dinilai sejalan dengan laporan Channel 14 Israel pada hari yang sama. Media tersebut melaporkan bahwa sejumlah negara mulai mengirimkan senjata ke Iran dan membagikannya kepada warga yang terlibat dalam aksi protes.
Menurut laporan tersebut, inilah salah satu alasan utama mengapa pembantaian oleh aparat mulai mereda, karena warga kini memiliki kemampuan untuk melawan. Situasi ini disebut telah menciptakan efek gentar terhadap rezim Iran dan aparat keamanannya.
Iran Tutup Wilayah Udara, Aktivitas Militer AS Meningkat Drastis
Masih pada 14 Januari, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menyatakan bahwa tidak akan ada “aksi nekat” pada hari itu atau keesokan harinya. Namun, dia mengakui tidak dapat menjamin situasi pada hari Jumat.
Tak lama setelah pernyataan tersebut, situasi berubah drastis. Iran secara mendadak menutup seluruh wilayah udaranya, memaksa maskapai internasional mengalihkan rute atau membatalkan penerbangan. Pada waktu yang hampir bersamaan, wilayah udara Irak—yang berbatasan langsung dengan Iran—terpantau aktivitas jet tempur intensif. Video pesawat tempur yang terbang rendah di langit Irak pun beredar luas secara daring.
Berdasarkan informasi real-time di platform X serta konfirmasi berbagai media pada 14 Januari, kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan menerima perintah untuk bergerak dari Laut Cina Selatan menuju Timur Tengah, lengkap dengan kapal pengiring dan kesiapan tempur penuh.
Selain itu, delapan pesawat tanker udara AS dilaporkan lepas landas dari Pearl Harbor menuju kawasan sekitar Iran. Puluhan jet tempur Angkatan Udara AS kini berpatroli di langit Irak, didukung pesawat pengisian bahan bakar KC-135 dan KC-46 di wilayah perbatasan.
Para analis menilai pola pengerahan ini sangat mirip dengan persiapan Operasi “Midnight Hammer” pada Juni tahun lalu, yang kala itu mendahului aksi militer besar AS.
Sekitar pukul 16:00 waktu Pantai Timur AS, sistem komunikasi strategis AS dilaporkan mengirimkan pesan berkode prioritas tinggi yang dikenal sebagai “Sky Master Messages”, sebuah level perintah yang hanya satu tingkat di bawah perintah peluncuran senjata nuklir.
Ledakan di Teheran dan Insiden Laut Iran
Sumber-sumber yang belum terverifikasi menyebutkan bahwa ledakan besar terdengar di Teheran tak lama setelah Iran menutup wilayah udaranya dan melarang penerbangan sipil. Hingga kini, otoritas Iran belum memberikan penjelasan resmi terkait sumber ledakan tersebut.
Pada sore hari waktu AS, sebuah insiden lain dilaporkan terjadi di laut. Kapal Iran bernama Rona, yang disebut digunakan untuk mengangkut senjata ke Rusia, dilaporkan diserang dan tenggelam di laut lepas.
Iran kemudian memperpanjang penutupan wilayah udaranya hingga pukul 07 : 00 pagi waktu setempat, dengan pengecualian penerbangan yang telah mendapat izin khusus. Teheran juga mengeluarkan peringatan keras kepada militer AS agar tidak memasuki wilayah udaranya tanpa izin.
Namun, laporan lain menyebutkan bahwa dua penerbangan Mahan Air dari Guangzhou dan Shenzhen tetap memasuki wilayah udara Iran yang dibatasi. Hal ini memicu spekulasi bahwa Tiongkok mulai terlibat secara tidak langsung dalam dinamika krisis ini.
Sinyal Serangan: Bocoran Reuters dan Target IRGC
Menurut laporan Reuters, seorang pejabat militer Barat menyatakan bahwa serangan AS terhadap Iran akan segera dimulai, dengan detail operasi yang dirahasiakan dan dilaksanakan secara mengejutkan.
Keyakinan akan aksi militer semakin menguat setelah terjadinya kebocoran data besar-besaran. Menyusul seruan Trump pada 13 Januari agar rakyat Iran mencatat nama para pelaku kekerasan, data sekitar 1.250 anggota pasukan keamanan dan milisi rezim dilaporkan bocor ke publik. Data tersebut mencakup informasi sangat rinci, mulai dari identitas keluarga, unit militer, hingga status dinas.
Media Daily Mail melaporkan bahwa Amerika Serikat juga memegang daftar sekitar 50 target bernilai tinggi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), termasuk pusat komando utama di Teheran dan sejumlah basis strategis. Analisis menyebutkan bahwa fokus AS tertuju pada elit rezim, bukan warga sipil. Bahkan, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei disebut-sebut sebagai salah satu target potensial.
Elit Iran Diduga Kabur, Dana Miliaran Dipindahkan
Masih pada 14 Januari, televisi Israel melaporkan bahwa elit Iran diduga telah memindahkan sekitar 1,5 miliar dolar AS ke Dubai melalui mata uang kripto. Salah satu putra Khamenei disebut terlibat dalam pemindahan dana sekitar 328 juta dolar AS.
Lima bank besar Iran juga dilaporkan mulai menolak pencairan dana, menandakan tekanan berat terhadap sistem keuangan nasional dan meningkatnya kepanikan di lingkaran kekuasaan.
AS Bertemu Oposisi Iran: “Bantuan Sedang Dalam Perjalanan”
Pada sore hari waktu AS, Senator Lindsey Graham dilaporkan bertemu dengan Putra Mahkota Iran, Reza Pahlavi. Usai pertemuan tersebut, Graham menyatakan secara singkat namun tegas:
“Saya yakin bantuan sedang dalam perjalanan.”
Pernyataan ini semakin memperkuat spekulasi bahwa Amerika Serikat telah memasuki fase akhir persiapan untuk menghadapi rezim Iran, sementara krisis di dalam negeri Iran sendiri terus bergerak menuju titik balik yang menentukan.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5474804/original/008014000_1768536617-KPK-periksa-Wakil-Ketua-DPRD-Jabar-Ono-Surono-150126-fah-5.jpg)