TRANSFORMASI Kecerdasan Buatan (AI) di dunia kerja kini bukan lagi sekadar tren teknologi, melainkan tantangan kesiapan sumber daya manusia (SDM). Persoalan utama dalam adopsi teknologi ini bukan terletak pada kecanggihan sistemnya, melainkan pada kemampuan manusia untuk mengoperasikannya secara optimal.
Patricia Setyadjie, Director BTI Executive Search (Persol Group), mengungkapkan bahwa masuknya AI ke dalam proses kerja sering kali memicu kekhawatiran sekaligus memperlebar celah keterampilan (skill gap) di kalangan karyawan.
“Tantangan terbesarnya bukan teknologinya, tapi lebih ke orangnya. Pada saat AI masuk ke proses kerja, banyak karyawan pasti mulai bertanya sampai mana otomatisasinya akan terjadi, dan di saat yang sama muncul skill gap,” tutur Patricia di Jakarta, Kamis (16/1).
Baca juga : 8 Pengusaha Ini Resmi Jadi Miliarder di 2025, Berkat Kecerdasan Buatan
Menurutnya, banyak organisasi telah mengalokasikan investasi besar untuk digitalisasi, namun hasilnya belum maksimal. Hal ini terjadi karena karyawan belum siap secara kompetensi untuk menjalankan sistem tersebut.
MI/HO--Director BTI Executive Search (Persol Group) Patricia Setyadjie“Banyak yang investasi mahal-mahal, tapi ujung-ujungnya orangnya tidak ready sehingga tidak terpakai maksimal,” tambahnya.
Baca juga : Menyongsong 2026: Ini 5 Keterampilan Teknologi Krusial yang Wajib Dikuasai
Pentingnya Soft Skill dan Kemampuan PromptingPatricia menekankan bahwa menghadapi otomatisasi tugas rutin, tenaga kerja tidak harus serta-merta berubah menjadi ahli IT. Kunci utama daya saing justru terletak pada kemampuan komunikasi melalui prompting, yakni teknik memberikan instruksi yang jelas dan terstruktur kepada AI.
“AI itu sebenarnya ilmu prompting yang kembali lagi ke cara komunikasi,” jelasnya.
Selain itu, keterampilan seperti berpikir kritis (critical thinking), kemampuan menulis, ketelitian proses, serta pemahaman komersial menjadi sangat vital bagi pekerja di era ini.
Mengelola Kekhawatiran Melalui KomunikasiUntuk meredam rasa tidak aman karyawan, perusahaan disarankan untuk lebih transparan dan melibatkan pekerja dalam proses transisi. Patricia menilai AI tidak bisa dibendung, namun perusahaan wajib menjelaskan alasan di balik adopsi teknologi tersebut.
“AI tidak bisa dibendung, tetapi perusahaan bisa menjelaskan dulu why-nya dan apa yang dilakukan untuk mempersiapkan tenaga kerjanya,” kata Patricia.
Dengan keterlibatan aktif, transformasi AI akan dipandang sebagai peluang peningkatan produktivitas, bukan ancaman PHK.
Implementasi Pelatihan yang TerukurDalam hal peningkatan kemampuan (upskilling), Patricia mengingatkan agar perusahaan melakukan pendekatan yang terukur melalui talent mapping dan observasi, bukan sekadar pelatihan formal satu kali.
Ia juga menyoroti peran AI di bidang HR melalui Human Resource Analytics System (HRAS) yang mengefisiensikan pekerjaan administratif.
Meski demikian, ia memberikan catatan penting mengenai etika dan bias AI. Keputusan strategis seperti rekrutmen tetap memerlukan pengawasan manusia untuk menjaga keadilan.
“Tidak semuanya bisa ditangani AI. AI bias itu ada dan berdampak pada fairness terhadap kompetensi seseorang. Decision making dan problem solving tetap harus human,” tegas Patricia.
Sebagai penutup, ia mengingatkan agar kebijakan internal perusahaan tetap berorientasi pada keamanan data dan keseimbangan antara teknologi dan sisi kemanusiaan. (Z-1)





