Fakta-fakta Pembentukan BUMN Tekstil dengan Modal Rp 101 T

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Pemerintah menggaungkan wacana pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khusus tekstil. Perusahaan tersebut akan diberikan modal dari Danantara Indonesia senilai USD 6 miliar atau setara Rp 101 triliun.

Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pembentukan BUMN tekstil tersebut merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto dalam rapat pada Minggu (11/1) di Hambalang, Bogor.

“Bapak Presiden mengingatkan kita pernah mempunyai BUMN tekstil dan ini akan dihidupkan kembali. Sehingga pendanaan USD 6 miliar nanti akan disiapkan oleh Danantara,” kata Airlangga ditemui di Hotel Mulia, Jakarta Selatan pada Rabu (14/1).

Saat ditanya terkait apakah BUMN yang dimaksud adalah menghidupkan BUMN tekstil yang sudah ada, Airlangga menegaskan bahwa BUMN itu merupakan perusahaan baru.

“Akan membentuk BUMN baru khusus tekstil, tidak menghidupkan kembali,” jelas Airlangga.

Ketika rapat di Hambalang, Airlangga menjelaskan salah satu bahasannya adalah terkait sektor terdepan yang paling berisiko terkena tarif resiprokal dari Amerika Serikat (AS). Sektor tekstil dan produk tekstil merupakan sektor yang memiliki risiko tinggi, seperti halnya sepatu, garmen, dan elektronik.

Prabowo meminta skema defensif untuk menghadapinya. Selain itu, Airlangga juga mengungkap pemerintah sudah membuat roadmap terkait peningkatan ekspor tekstil, dengan target ekspor tekstil meningkat dari USD 4 miliar menjadi USD 40 miliar dalam 10 tahun.

Danantara Menyambut Wacana BUMN Tekstil

CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, buka suara soal rencana Danantara membuat BUMN tekstil dengan investasi USD 6 miliar. Dia menyambut baik investasi dengan penciptaan lapangan kerja yang besar meskipun keuntungannya rendah seperti sektor tekstil.

"Kita terbuka untuk menerima misalnya investasi yang secara return mungkin lebih rendah dari parameter kita apabila penciptaan lapangan pekerjaan lebih tinggi. Mungkin tekstil kan salah satu yang dari segi pencapaian kita lapangan pekerjaan itu sangat besar," jelasnya usai konferensi pers Realisasi Investasi Triwulan IV 2025, Kamis (15/1).

Rosan, yang juga menjabat Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, menyatakan bahwa pemerintah melihat potensi industri tekstil meskipun banyak aset bermasalah (distressed aset).

Meskipun demikian, dia tidak menjelaskan lebih lanjut kaitannya dengan rencana pemerintah menyelamatkan proses restrukturisasi PT Sri Rejeki Isman (Sritex) yang sudah ditetapkan pailit.

"Kita melihat potensi-potensi yang ada saja, apalagi kalau itu sudah termasuk dalam distressed asset. Kita lihat, selama kita yakin bahwa nanti kita bisa turn around perusahaan itu melakukan restrukturisasi secara maksimal," jelas Rosan.

Sepinya Permintaan Pasar Tekstil

Industri tekstil tengah menghadapi lesunya permintaan dari masyarakat. Hal ini terlihat salah satunya di Pasar Tekstil Cipadu, Tangerang, Banten. Pusat perdagangan tekstil terbesar di Tangerang itu sempat menjadi primadona bagi masyarakat yang mencari produk tekstil.

Pantauan kumparan di Pusat Tekstil Cipadu pada Kamis (15/1), menunjukkan suasana pasar yang lengang tanpa kehadiran pembeli. Area pasar lebih banyak diisi pedagang yang menghabiskan waktu dengan aktivitas lain, seperti menyeruput kopi, merokok, atau sekadar berbincang dengan sesama pedagang, ketimbang menawarkan dagangan.

Salah satu pedagang yang telah berjalan di sana sejak tahun 2005, Edison, mengatakan suasana pasar kini jauh berbeda dibandingkan masa lalu. Ia menilai penurunan aktivitas perdagangan mulai terasa sejak 2022 atau usai pandemi COVID-19 dan berlangsung secara signifikan.

“Untuk saat ini toko aja sekarang banyak yang kosong nih. Memang susah pasar sekarang itu kalau lihat dari kondisi ini kan, paling laris aja Rp 10 ribu, Rp 15 ribu, Rp 20 ribu. Kita bertahan saja di sini,” tutur Edison.

Untuk tetap bertahan, Edison juga mencoba menjajal penjualan secara daring meski dalam skala terbatas. Ia mengungkapkan pasokan barang dagangannya berasal dari industri rumahan dan pabrik garmen, tetapi banyak produsen kecil tersebut kini telah berhenti beroperasi.

Menjelang Lebaran 2026, Edison tidak melihat adanya lonjakan permintaan seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia menilai lesunya pasar dipicu oleh melemahnya aktivitas produksi, sehingga kebutuhan bahan baku ikut menurun.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Rekap Hasil India Open 2026: Indonesia Sisakan Dua Wakil di Babak Perempat FInal
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
Wacana Kepala Daerah Dipilih DPRD, Ketua DPRD DKI: Mayoritas Rakyat Pilih Pilkada Langsung
• 23 jam laluliputan6.com
thumb
Dokter Tifa Bantah Tuduh Jokowi Palsukan Ijazah, Soroti Arah Laporan Hukum | ROSI
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Emosional, Rieke Diah Pitaloka Singgung Kasus Child Grooming dalam Buku "Broken Strings" Aurelie Moeremans: Selama Ini Kita Diam
• 17 jam lalutvonenews.com
thumb
Panduan Lengkap Cara Unduh dan Main TheoTown, Game Simulasi Kota yang Viral di Indonesia
• 22 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.