Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menarget perbaikan Wisma Karanggayam tuntas pertengahan tahun 2026.
Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya menyebut, kawasan itu akan menjadi pusat pembinaan sepak bola usia dini hingga remaja di Kota Surabaya.
“Alhamdulillah (lapangan) Karanggayam yang dulu (seperti) hutan sudah berubah total, hari ini (pembangunan) lapangan selesai. Sehingga nanti InsyaAllah kita tinggal melanjutkan (pembangunan) mess, dan nanti ada tambahan bangunan yang terkait ruang ganti pakaian, terus toilet yang ada di sebelahnya dari mess (wisma) tadi,” ujarnya, Jumat (16/1/2026).
Seluruh fasilitas pendukung, termasuk ruang ganti dan bangunan wisma, ditargetkan rampung pertengahan tahun 2026 bertepatan dengan momentum peringatan hari jadi Persebaya.
“Nanti pembangunan-pembangunan yang dilakukan terkait dengan tempat ganti dan lain-lain, InsyaAllah bangunan ini akan selesai di bulan Mei atau Juni (2026). Sehingga pada waktu ulang tahunnya Persebaya, sudah selesai. Bangunan sekaligus lapangannya, termasuk museum yang ada di GBT (Gelora Bung Tomo),” jelasnya.
Ia memaparkan, skema pembinaan akan menyasar anak-anak berprestasi dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, hingga SMA/SMK.
“Jadi nanti anak yang di tingkat SD, SMP, SMA yang dia terbaik dari pertandingan-pertandingan yang kita lakukan, bisa kita kumpulkan di sini (Lapangan Karanggayam), lalu di-coaching klinik dengan pemain-pemain Persebaya,” tuturnya.
Pembinaan akan dibuat berjenjang agar talenta muda Surabaya memiliki jalur pengembangan yang jelas.
“Jadi mereka (anak-anak) tidak hanya terputus di Liga Kampung, tapi dari Liga Kampung, nanti kita akan lakukan itu antar kampung, yang dari Kampung lolos masuk ke mess (Karanggayam), yang masuk mess akan diberikan coaching klinik oleh Persebaya selama seminggu atau dua minggu,” ujarnya.
Selain pembinaan teknis, Eri menyampaikan, Wisma Karanggayam juga akan dikembangkan sebagai pusat latihan fisik dan pembentukan tubuh atlet.
“Yang berikutnya di Karanggayam ini kita juga akan mengembangkan tempat-tempat untuk pelatihan. Selain coaching clinic, tapi bagaimana membentuk body,” katanya.
Pemkot Surabaya juga akan menyediakan tribun penonton bersifat portable.
“Ada tribun yang tapi nggak full, hanya portable. Jadi pada waktu latihan ada tribun yang memang dia bisa ditarik, bisa dipasang, tapi tidak permanen. Tapi dia portable, sehingga (penonton) bisa melihat,” ujarnya.
Wisma Karanggayam akan diposisikan sebagai ikon sepak bola Surabaya yang melekat dengan Persebaya dan Bonek.
“Maka nanti yang meresmikan, saya berharap juga teman-teman Bonek yang meresmikan ini. Karena ini juga akan menjadi milik Bonek, menjadi kebanggaan pride-nya Bonek, termasuk museum nanti yang ada di GBT,” terangnya.
Sekaligus akan menjadi ruang dokumentasi sejarah Persebaya dan Bonek, termasuk perjalanan suporter dari masa ke masa.
“Jadi nanti di tempat wisma ini tidak hanya ada sejarah terkait Persebaya menjadi juara, tapi sejarah bagaimana Bonek juga mulai awal sampai hari ini itu dengan suka dukanya, dengan jatuh bangunnya Persebaya, Bonek masih setia. Sehingga saya ingin membuat sejarah itu,” katanya.
Ia berharap, kehadiran pusat pelatihan Wisma Karanggayam tersebut dapat memberikan efek ganda, terutama dalam menggerakkan ekonomi bagi masyarakat sekitar.
“Jadi bagaimana Wisma Karanggayam ini tidak hanya mengenang atau membangkitkan jiwa Bonek kita, tapi bisa menggerakkan ekonomi dari sepak bola,” tutupnya. (lta/ily/ipg)



