REPUBLIKA.CO.ID, CALIFORNIA -- Ilmuwan menemukan kerusakan lautan melipatgandakan kerugian ekonomi yang ditimbulkan perubahan iklim. Hal ini terungkap setelah untuk pertama kalinya kerusakan lautan dimasukkan ke dalam indikator dampak ekonomi perubahan iklim.
Para ilmuwan di Scripps Institution of Oceanography, Universitas California San Diego, menemukan kerusakan lautan menaikkan kerugian yang ditimbulkan karbon dioksida terhadap masyarakat hampir dua kali lipat. Kerugian yang ditimbulkan dari kerusakan lautan ini disebut biaya sosial karbon “biru”.
- Inovasi Sampah Desa Jadi Indikator Kinerja Lingkungan Daerah
- 374.839 Pohon untuk Negeri, PNM Tegaskan Komitmen Pelestarian Lingkungan
- Perubahan Iklim Ganggu Siklus Nitrogen, Ancaman Baru Ketahanan Pangan dan Lingkungan
Dalam hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Climate Change, para peneliti mengungkapkan bahwa dengan dimasukkannya kerusakan laut, maka kerugian yang ditimbulkan karbon dioksida bertambah 46,2 dolar AS per ton karbon dioksida. Dengan demikian, totalnya menjadi 97,2 dolar AS per ton karbon dioksida, naik sekitar 91 persen.
Global Carbon Budget mencatat emisi karbon dioksida di atmosfer pada 2024 lalu sekitar 41,6 miliar ton. Artinya, hampir 2 triliun dolar kerugian yang ditimbulkan kerusakan laut pada tahun tersebut tidak tercatat dalam penghitungan kerugian ekonomi akibat perubahan iklim.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Para peneliti dari Scripps Institution of Oceanography mengatakan sebelumnya kerusakan laut tidak pernah dimasukkan dalam indikator dampak ekonomi perubahan iklim. Laut kerap terabaikan dalam penghitungan standar kerugian karbon dioksida terhadap masyarakat.
Meski demikian, kerusakan laut seperti degradasi ekosistem terumbu karang, berkurangnya ikan untuk ditangkap, dan kerusakan infrastruktur di wilayah pesisir telah “terdokumentasi dengan baik” serta berdampak pada jutaan orang di seluruh dunia.
Penelitian itu menyoroti dampak kerusakan laut yang “sangat tidak merata” di seluruh dunia. Negara-negara kepulauan dan ekonomi kecil akan menanggung beban jauh lebih berat karena sangat bergantung pada hasil laut untuk nutrisi dan pendapatan ekonomi.
Ekonom lingkungan National Autonomous University of Mexico sekaligus ketua penelitian ini, Bernardo Bastien-Olvera, mengatakan ia dan timnya merasa penting untuk memberikan “label harga” atau nilai ekonomi pada kerusakan laut agar para pengambil kebijakan memiliki data yang akurat.
Dengan mengetahui biaya nyata dari kerusakan tersebut, para pengambil keputusan dapat melakukan analisis biaya-manfaat yang lebih tepat dalam menyusun regulasi lingkungan.
“Lautan merupakan potongan yang hilang dari model-model yang menghitung dampak perubahan iklim pada manusia,” kata Bastien-Olvera seperti dikutip ABC News, Jumat (16/1/2026).
A post shared by ESG Now (@esg.now)
Para peneliti dari Scripps Institution of Oceanography menjelaskan perubahan iklim yang diakibatkan aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil, meningkatkan suhu lautan dan mengubah susunan kimianya. Perubahan ini kemudian menggeser distribusi spesies dan merusak berbagai ekosistem seperti terumbu karang, mangrove, rumput laut, dan padang lamun.
Perubahan iklim juga menaikkan muka air laut yang pada akhirnya merusak infrastruktur pesisir seperti pelabuhan pengiriman. Meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir serta badai turut mengancam infrastruktur pesisir.
Bastien-Olvera menjelaskan biaya sosial karbon merupakan metrik ekonomi yang digunakan dalam kebijakan iklim untuk mengestimasi kerusakan yang diakibatkan setiap satu ton karbon dioksida yang dihasilkan manusia. Untuk menghitung angka tersebut, para peneliti menggunakan model penilaian terpadu yang mensimulasikan berbagai skenario masa depan terkait perilaku manusia dan ekonomi selama satu abad ke depan.



