JAKARTA, KOMPAS.com – Aktivitas parkir kendaraan di sekitar Stasiun Palmerah, Jakarta Barat, tampak lebih lengang dari biasanya pada Jumat (16/1/2026) siang.
Lahan parkir motor yang berada di dekat tangga naik stasiun itu terlihat tidak terlalu padat, berbeda dengan kondisi hari kerja pada umumnya yang kerap dipenuhi ratusan kendaraan.
Area parkir tersebut menempati halaman sebuah rumah yang disulap menjadi tempat penitipan motor. Cuaca yang cenderung teduh, dengan matahari sesekali tertutup awan, membuat suasana siang itu terasa lebih nyaman.
Baca juga: Truk Jeblos ke Got Saat Parkir di Depok, Lalu Lintas Sempat Tersendat
Saat sebuah motor memasuki area parkir, Agus (28) langsung beranjak dari kursinya. Dengan gerakan sigap, ia mengarahkan pengendara menuju petak kosong yang tersedia.
Setelah kendaraan berhenti, Agus menyerahkan kartu tanda parkir berwarna biru-putih yang telah dilaminasi.
Setiap sepeda motor yang dititipkan dikenai tarif parkir Rp 10.000. Biaya tersebut berlaku harian bagi pengguna yang memarkirkan kendaraannya untuk melanjutkan perjalanan menggunakan kereta rel listrik (KRL).
Tak hanya itu, Agus memastikan posisi motor terparkir rapi. Ia menggeser kendaraan sedikit dan menegakkan standar dua agar motor tidak miring.
“Kalau miring susah ngambilnya,” kata Agus singkat saat ditemui Kompas.com di lokasi.
Agus telah enam tahun bekerja sebagai petugas parkir di sekitar Stasiun Palmerah. Ia berjaga bersama satu rekannya dengan sistem bergantian setiap dua hari. Jam kerja dibagi dalam dua sif, mulai pagi hingga malam, menyesuaikan jam operasional lahan parkir.
Baca juga: Depan RSCM Dipadati Pedagang dan Parkir Liar, padahal Ada Spanduk Larangan
Menurut Agus, jumlah kendaraan yang parkir pada hari itu relatif sepi dibandingkan hari biasa. Ia menduga kondisi tersebut dipengaruhi oleh libur panjang akhir pekan.
“Ya, kalau siang gini enaknya sepi. Paling padat itu pagi, kadang dari sebelum buka sudah ada yang stand by di depan,” ujarnya.
Pada hari kerja, ratusan motor dapat memenuhi lahan parkir tersebut. Pengguna parkir datang silih berganti sejak pagi buta untuk mengejar jadwal keberangkatan KRL ke berbagai tujuan.
Agus mengaku telah hafal pola para pengguna parkir, mulai dari penumpang harian hingga mereka yang baru pertama kali menitipkan kendaraan di lokasi tersebut.
Meski bekerja di luar ruangan dan harus menghadapi panas maupun hujan, Agus mengaku menikmati pekerjaannya.
"Dinikmati aja kerjaannya. Kalau kami bilangnya berat sih masa gini doang berat. Harus disyukur juga," tutur Agus.
Bagi Agus, menjaga parkiran bukan sekadar mengatur kendaraan keluar masuk. Ia dituntut peka membaca situasi, sigap membantu pengendara, serta memastikan kendaraan tersusun rapi agar tidak menyulitkan siapa pun saat hendak pulang.
Baca juga: Jembatan Ancol ke JIS Siap Dibangun, Pramono Janji Atasi Masalah Parkir
"Kami juga harus inisiatif harus tinggi lah di sini. Jadi jangan ibaratnya jangan diminta tolong dulu. Jadi kita harus yang mulai gitu," jelasnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang




/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F01%2F16%2Fbc452ed8f6ac7846fbb6c625faf2c1fb-1001926453.jpg)