Kisah Uut, Ibu 3 Anak yang Jadi Fotografer Jalanan di Depan KBS Surabaya

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Uut (44 tahun), perempuan warga Sidoarjo, tampak sibuk mondar-mandir sambil menenteng kamera di depan Kebun Binatang Surabaya (KBS). Setiap kali ada pengunjung datang, ia berusaha menawarkan jasa foto sambil menunjukkan hasil jepretannya.

“Mau difoto kak? Murah kok, cuma Rp 10 ribu sudah dapat print dan kirim ke hp,” ujar Uut kepada pengunjung KBS, Jumat (16/1).

Uut telah melakoni jasa foto di depan KBS hampir setiap hari selama tiga tahun terakhir. Ia berangkat dari Sidoarjo sejak pukul 07.00 WIB dan pulang sekitar pukul 17.00 WIB.

“Kalau fotografer di sini masih tiga tahun. Cuma kalau berkecimpung di dunia fotografi sudah lama,” ujarnya.

“Tarif foto itu tergantung cetakan. Biasanya harga Rp 10 ribu dapat foto plus file-nya. Kalau ukuran segini Rp 20 ribu, nanti juga dapat file,” imbuhnya.

Ia bercerita, awalnya bekerja sebagai marketing di salah satu perusahaan di Surabaya. Namun, pekerjaan tersebut tidak membuatnya nyaman. Ketertarikannya pada fotografi muncul setiap kali ia melintas di depan KBS.

“Awalnya di marketing dulu. Sampai gimana caranya bisa kerja gitu. Kalau dulu kan cari kerja segampang mungkin. Awal-awal kerja ya gitu, ada aja yang enggak cocok, inilah, itulah,” ucapnya.

“Terus yang bikin jadi inspirasi aku jadi fotografer itu setiap lewat sini rasanya gimana gitu ya. Kok orang-orang bisa ya gitu. Berarti aku juga harus bisa,” lanjutnya.

Hingga akhirnya, sekitar tahun 2020, Uut membeli kamera DSLR seharga kurang lebih Rp 2 juta. Ia kemudian belajar memotret secara otodidak dengan mengambil gambar suasana di KBS.

Hasil fotonya ia tunjukkan kepada teman-temannya untuk mendapat masukan, sebelum akhirnya memberanikan diri menawarkan jasa foto kepada para pengunjung.

“Iya (otodidak). Ya belajarnya itu kita potret-potret sendiri. Kalau menurut kita kurang bagus, nanti ditunjukin ke teman. Gimana ini kurang apa, kurang apa gitu,” ujar dia.

Meski demikian, Uut mengaku banyak suka duka menjalani profesi sebagai fotografer jalanan, terutama penghasilan yang tidak menentu.

Uut kini menjadi tulang punggung keluarga dengan tiga anak, setelah berpisah dengan suaminya.

“Kalau libur panjang sih ramai-ramai saja. Kalau penghasilan masih di atas rata-rata. Cuma kalau hari-hari biasa ya kembali setelan awal,” ujarnya.

“Nah, suka dukanya itu pahit. Kan aku sudah pisah sama suami, terus anakku masih kecil-kecil semua. Tapi aku enggak langsung terjun ke dunia ini. Jualan dulu aku di Unesa Wiyung. Terus lama-lama di sana waktu (pandemi) Corona kena lockdown. Jadi gimana caranya aku bertahan hidup sama anak-anak. Ya cari inspirasi kerjaan lain, kok akhirnya cocok sampai sekarang,” tambahnya.

Selain kemampuan memotret, Uut menilai sikap ramah menjadi kunci agar pelanggan merasa nyaman menggunakan jasanya.

“Ya kita harus bisa bicara bagus sama customer, bisa murah senyum, bisa menghibur,” kata dia.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
HP Badak Redmi Note 15 Series Siap Masuk RI: Baterai Awet, Tahan Air & Benturan
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Target Tinggi Timnas Indonesia di Tengah Sambutan Dingin Suporter: John Herdman Harus Buktikan di FIFA Series dan Piala AFF 2026
• 13 jam lalubola.com
thumb
KPK Tak Lagi Pamerkan Foto Tersangka Korupsi, Jaksa Agung dan Novel Baswedan Beri Respons Berbeda
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
Perkuat Akses Makassar–Sinjai, Gubernur Sulsel Ground Breaking Paket 5 di Poros Tanabatue–Palattae Bone
• 7 jam laluharianfajar
thumb
GMNI Tegaskan Bencana Lingkungan Adalah Masalah Keadilan, Bukan Takdir!
• 16 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.