jpnn.com, LAMPUNG TIMUR - Masjid Batu yang ada di pelosok Kabupaten Lampung Timur, dibongkar oleh beberapa orang. Usut punya usut, pembongkaran itu diprakarsai Muhammad Suryo, CEO Surya Grup sekaligus pimpinan Perusahaan rokok HS yang berkantor pusat di Yogyakarta.
Sebagian besar masjid itu telah dibongkar sejak beberapa waktu lalu. Masjid akan dibangun ulang dengan total anggaran Rp 1 miliar yang seluruhnya dibiayai Suryo.
BACA JUGA: PSI Desak Penyidik Segera Tahan Roy Suryo Cs demi Kepastian Hukum dan Ketertiban Umum
"Dengan izin takmir masjid dan warga, kami bangun ulang dan perluas. Semoga semakin bermanfaat dan menambah kenyamanan warga dalam beribadah," kata Suryo saat peletakan batu pertama pembangunan masjid An Nur, Jumat (16/1).
Masjid Batu atau bernama resmi Masjid An Nur terletak di Dusun 7 Marga, Desa Sadar Sriwijaya, Kecamatan Bandar Sribhawono, Lampung Timur. Peletakan batu pertama dilaksanakan menjelang salat Jumat. Suryo didampingi Distributor HS wilayah Sumatra, Danang Setia. Hadir juga Camat Bandar Sribhawono, Kapolsek, Danramil, dan Kades Sadar Sriwijaya.
BACA JUGA: Gelar Konser Slank di Bali, Bos HS Donasikan Keuntungan Tiket dan Lelang Vespa Kaka untuk Sumatra
Bukan tanpa sebab, Suryo membangun masjid di dusun terpecil itu. Meski tinggal jauh di Yogyakarta, dia sebenarnya warga asli Desa Sadar Sriwijaya.
Empat puluh satu tahun silam, Suryo lahir di dusun 7, sebelum dibawa orang tuanya bermigrasi ke Bengkulu. Di halaman depan masjid itu lah, Suryo kecil setiap hari bermain bersama teman-temannya. Di masjid itu pula, Suryo kali pertama belajar agama.
BACA JUGA: Percepatan Pascabencana, BNI Bersihkan Masjid Darul Aman di Agam
Masjid itu juga menyimpan kenangan Suryo pada sosok kakeknya, Suparman. Warga desa mengenal kakek Suryo itu sebagai salah satu perintis bangunan masjid yang berdiri pada 1970-an itu.
“Mbah kakung saya, Mbah Parman. Mbah putri, Mbah Tum. Keduanya dimakamkan di dusun ini,” kenangnya.
Ketua Takmir Masjid An Nur, Imam Romaji menceritakan, masjid itu dibangun Suparman dan warga lainnya di atas lahan wakaf seluas 5.000 meter persegi.
Namun karena keterbatasan dana, lahan yang dibangun hanya 11 x 11 meter. Seluruh dinding masjid tersusun dari batu kali yang diangkut warga dari sungai sekitar. Sebagian batu dibelah, sebagian dibiarkan utuh. Hingga kini, masjid itu dikenal warga sebagai "Masjid Batu", bangunan ikonik yang menyimbolkan gotong royong masyarakat setempat.
Sebab ikatan sejarah yang kuat itulah, Suryo meminta izin pada warga dan pengurus untuk membangun ulang masjid itu. Warga pun menyambut antusias. Masjid Batu memang sudah waktunya direnovasi. Mereka bersyukur, salah satu warganya yang menjadi pengusaha sukses masih ingat pada tanah kelahiran dan masjid tempatnya belajar.
Namun warga mengajukan satu syarat penting yaitu dinding batu dan kubah masjid tidak boleh dihilangkan.
"Saya setuju dinding batu dan kubah dipertahankan, sebab itu ikon. Jejak perjuangan para sesepuh,” kata Suryo.
Menurut Suryo, pembangunan masjid ini bukan hanya karena kakeknya. Melainkan bentuk pengabdian pada tanah kelahiran. Sekaligus penghormatan pada sejarah kampung dengan warganya yang berjuang bersama dalam segala keterbatasan.
Dia berharap masjid yang telah direnovasi nantinya tidak hanya berdiri megah, tetapi juga melahirkan manfaat nyata. “Kalau masjidnya makmur, masyarakatnya ikut makmur,” harapnya.
Ketua Panitia Pembangunan Masjid, Waris Afandi mengatakan, Masjid Batu bukan sekadar tempat ibadah. Namun juga pusat kegiatan sosial, belajar mengaji, musyawarah warga, kegiatan pemuda, dan aktivitas sosial lainnya. “Kurang lebih 150 kepala keluarga memanfaatkan masjid ini,” katanya. (cuy/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Tidak Lagi Dibiayai Pemprov, Masjid Raya Bandung Andalkan Infak untuk Operasional
Redaktur & Reporter : Elfany Kurniawan




