FAJAR, BANDUNG — Persib Bandung kembali menegaskan statusnya sebagai kekuatan utama sepak bola nasional. Seperti musim lalu, Maung Bandung sukses menyalip para rival dan menutup paruh musim Super League di puncak klasemen. Dengan raihan 38 poin dari 12 kemenangan, dua hasil imbang, dan tiga kekalahan, Persib menjadi favorit kuat peraih gelar juara.
Namun, posisi di puncak klasemen ternyata belum cukup membuat pelatih Bojan Hodak merasa puas. Di balik konsistensi hasil, Hodak melihat masih ada celah yang bisa—dan harus—diperbaiki jika Persib ingin melangkah lebih jauh, bukan hanya di level domestik, tetapi juga di panggung Asia.
“Saya senang kami nomor satu di liga. Tapi di sisi lain, kami sebenarnya masih bisa lebih baik,” ujar Hodak, dikutip dari laman resmi I-League.
Salah satu sorotan utama Hodak adalah inefektivitas di momen krusial, terutama saat mengeksekusi penalti. Dalam beberapa laga penting, kegagalan memanfaatkan peluang dari titik putih berdampak langsung pada hilangnya poin.
“Kami beberapa kali gagal memanfaatkan penalti. Ada lima penalti yang terbuang tanpa gol,” kata pelatih asal Kroasia tersebut.
Selain itu, Persib juga dinilai masih rapuh dalam menjaga konsentrasi hingga peluit akhir. Gol-gol yang bersarang di menit-menit akhir kerap mengubah hasil pertandingan—masalah klasik yang menurut Hodak harus segera dibenahi pada putaran kedua.
“Kami kebobolan di menit akhir di beberapa pertandingan dan itu membuat kami kehilangan poin. Walaupun di sisi lain, kami juga beberapa kali menang di menit akhir,” imbuhnya.
Situasi inilah yang menjadi latar kuat di balik agresivitas Persib di bursa transfer, termasuk ketertarikan terhadap pemain-pemain berlabel naturalisasi. Bagi manajemen Persib, penambahan pemain bukan sekadar untuk menjaga dominasi di Super League, melainkan demi meningkatkan kualitas, kedalaman, dan mental bertanding di level Asia.
Ambisi itu tak terlepas dari kiprah Persib di AFC Champions League 2 (ACL 2). Setelah lolos dari fase grup, Beckham Putra dan kawan-kawan kini bersiap menghadapi Ratchaburi di babak 16 besar. Target Persib pun tidak lagi sebatas “ikut serta”.
“Sejauh ini kami bermain dengan baik dan berada di posisi nomor satu di liga dan fase grup ACL 2. Ini pertanda bagus, tapi tetap masih bisa lebih baik,” tegas Hodak.
Masuk ke fase gugur ACL 2 membuat kebutuhan Persib semakin spesifik. Pengalaman internasional, ketenangan dalam laga besar, serta kualitas individu di momen krusial menjadi faktor pembeda—hal yang kerap kali dimiliki pemain naturalisasi dengan jam terbang tinggi.
Karena itu, wacana mendatangkan pemain naturalisasi bukan sekadar proyek jangka pendek. Ini adalah bagian dari strategi besar Persib untuk bersaing dengan klub-klub Asia yang lebih matang secara taktik dan pengalaman. Target realistis pun mulai mengerucut: menembus empat besar ACL 2, sebuah pencapaian yang akan mengangkat kembali pamor Persib dan sepak bola Indonesia di level kontinental.
Di kompetisi domestik, Hodak tetap mengingatkan skuadnya agar tak lengah. Persaingan Super League masih sangat ketat, dengan Persija Jakarta, Borneo FC, hingga Malut United siap menekan kapan saja.
“Sekali kalah atau seri, posisinya bisa langsung berubah. Jadi kami harus meminimalkan kekalahan,” pesannya.
Persib akan membuka putaran kedua Super League dengan menjamu PSBS Biak di Stadion Gelora Bandung Lautan Api pada 25 Januari. Kemenangan bukan hanya penting untuk menjaga posisi puncak, tetapi juga menjadi modal psikologis sebelum Maung Bandung kembali mengalihkan fokus ke pentas Asia—tempat ambisi mereka kini melampaui sekadar gelar juara liga.




