TABLOIDBINTANG.COM - Film drama keluarga Titip Bunda di Surga-Mu resmi merilis official trailer dan poster pada Kamis (15/1) di Metropole XXI, Jakarta Pusat. Film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop mulai 26 Februari 2026 mendatang.
Diangkat dari novel karya Dono Indarto dan Zora Vidyanata, sebagai penulis skenario film Titip Bunda di Surga-Mu dibintangi Acha Septriasa, Kevin Julio, Abun Sungkar, dan Meriam Bellina. Film ini juga menghadirkan Ikang Fawzi, Zora Vidyanata, Natalie Zenn, Arfan Afif, Chiki Fawzi, hingga Asri Welas.
Film ini juga menandai transformasi peran Meriam Bellina. Setelah lama dikenal lewat karakter antagonis yang kuat, kali ini Meriam tampil lembut sebagai Bunda Mozza, sosok ibu yang menjadi pusat emosi cerita.
“Ini peran yang sangat berbeda untuk saya. Biasanya saya dikenal lewat karakter yang keras, tapi di sini saya menjadi seorang bunda. Ceritanya sangat membekas karena mengingatkan pentingnya pulang, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara emosional,” ungkap Meriam Bellina di XXI Metropole, Jakarta.
Sang sutradara, Hanny R. Saputra, menyebut film ini sebagai proyek yang sangat personal baginya.
“Film ini sangat dekat secara emosional. Kehangatan pelukan seorang bunda dan kebersamaan keluarga adalah memori kuat yang ingin kami bagikan. Cerita ini tentang cinta yang sering kita anggap selalu ada, sampai suatu hari kita sadar betapa berharganya,” pungkas Hanny.
Film Titip Bunda di Surga-Mu mengajak penonton kembali menengok makna keluarga, rumah, dan kasih sayang orang tua yang kerap luput disadari.
Poster resmi film ini menampilkan visual yang sederhana namun sarat emosi. Sosok Bunda Mozza yang diperankan Meriam Bellina tampak terlelap dalam pelukan keluarga, menghadirkan rasa aman, tenang, dan cinta tanpa syarat. Visual tersebut menjadi gambaran besar dari jiwa cerita yang diangkat film ini.
Sementara itu, official trailer memperlihatkan konflik keluarga yang terasa dekat dengan realitas. Cerita berpusat pada tiga bersaudara Alya (Acha Septriasa), Adam (Kevin Julio), dan Azzam (Abun Sungkar) yang tengah bergulat dengan masalah ekonomi, jarak emosional dengan orang tua, serta kekecewaan yang terpendam.
Tekanan hidup membuat ketiganya mengambil keputusan nekat yang justru memicu konflik besar. Dari sinilah cerita berkembang, memperlihatkan benturan antara kasih sayang orang tua, ambisi anak-anak, dan ego yang kerap muncul di fase dewasa.



