FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Zainal Arifin Mochtar, menyampaikan pesan moral yang kuat soal keberpihakan ilmu pengetahuan kepada kelompok tertindas saat dikukuhkan sebagai profesor, Kamis (15/1/2026) kemarin.
Dalam prosesi pengukuhan yang berlangsung di Balai Senat UGM, Sleman, Yogyakarta, akademisi yang akrab disapa Uceng itu menegaskan bahwa capaian akademik yang diraihnya bukan semata prestasi personal.
Ia justru mendedikasikannya kepada mereka yang selama ini berada di posisi paling rentan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Terakhir, kepada seluruh orang yang sedang tertindas, pencari keadilan, pembaharu di tengah kesumpekan, orang-orang yang ditahan secara sewenang-wenang, hingga mereka yang hidup dalam kesempitan,” ujar Zainal dikutip pada Jumat (16/1/2026).
Pria kelahiran kota Makassar itu berharap tetap istiqomah menjadikan ilmu pengetahuan dan kiprah intelektualnya sebagai alat perjuangan bagi kelompok-kelompok tersebut.
Baginya, gelar profesor bukanlah puncak perjalanan intelektual, melainkan justru awal dari tanggung jawab yang lebih berat.
“Menjadi profesor itu relatif hanya persoalan administratif. Tetapi memiliki sikap, kiprah intelektual, dan tanggung jawab sebagai seorang profesor sesungguhnya jauh lebih sulit,” tegasnya.
Dalam pidatonya, Zainal juga mengingatkan para akademisi agar tidak terjebak pada simbol dan status akademik semata.
Ia mendorong para profesor untuk menjadi “intelektual organik” yang hadir dan bekerja nyata untuk kepentingan masyarakat luas, terutama mereka yang terpinggirkan.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa kondisi hari ini adalah titipan bagi generasi mendatang.
Karena itu, setiap pilihan sikap dan keberpihakan intelektual akan menjadi bagian dari penilaian sejarah terhadap peran akademisi di masa depan.
“Masa ini adalah titipan dari anak cucu kita. Tanggung jawab kita akan ditagih suatu saat kelak, karena itulah yang akan menentukan Indonesia akan menjadi seperti apa,” kuncinya.
(Muhsin/fajar)


