Ketika Berpikir Kritis Masih Disalahartikan dalam Ruang Akademik

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Kata "mahasiswa" sendiri berasal dari "maha" (tinggi/paling) dan "siswa" (pelajar), yang berarti pelajar tertinggi. Mereka adalah peserta didik pada jenjang pendidikan tinggi yang telah menyelesaikan pendidikan menengah, berstatus terdaftar, dan diharapkan menjadi calon intelektual serta agen perubahan yang memiliki potensi untuk memahami perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat. Mahasiswa juga memiliki tanggung jawab yang sudah tertulis di Tri Dharma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian.

Mereka memiliki kebiasaan yang bagus karena mengutamakan diskusi dan berpikir secara logika dalam menghadapi suatu hal yang ada di depannya. Memiliki semangat belajar yang cukup tinggi agar mencapai nilai yang mereka inginkan tentunya dilakukan dengan berbagai cara.

Tidak sedikit mahasiswa agar memunculkan semangat belajar dalam dirinya diiringi dengan kebiasaan yang mereka sukai dan dengan cara yang berbeda-beda, seperti yang dicatat oleh berbagai berita bahwa mahasiswa lebih suka belajar di cafe karena suasananya yang nyaman, belajar dengan berkelompok dan berdiskusi, belajar dengan memutar musik tenang, bahkan tidak sedikit mahasiswa rela membayar mahal untuk les privat agar lebih fokus dalam belajar.

Mahasiswa kerap disebut dengan sebutan agent of chage , yang diharapkan bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar lewat ide dan gebrakannya yang out of the box, karakter baik dari mahasiswa itulah yang membawa perubahan dan manfaat bagi orang lain. Berpikir kritis tentunya hal yang diharuskan untuk dimiliki oleh mahasiswa.

Mengapa harus berpikir kritis? Menurut Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy, mengatakan mahasiswa saat ini wajib memiliki kemampuan berpikir kritis sebagai bekal untuk membangun sumber daya manusia unggul dan berdaya saing, karena di setiap harinya pasti dihadapkan dengan isu-isu atau permasalahan-permasalahan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Bukan hanya di lingkungan perkuliahan saja namun dalam lingkungan yang lain, terkadang permasalahan juga sulit dihadapi dan penting untuk memiliki pemikiran yang kritis untuk menentukan keputusan yang matang dan bijaksana.

Seperti yang catat oleh penulis Alterra.id juga agar tidak mudah menelan mentah-mentah berita yang beredar di media sosial dan tidak mudah terprovokasi oleh orang lain. Mahasiswa yang berpikir kritis menggali informasi secara mendalam terlebih dahulu untuk memahami suatu permasalahan dan mendapatkan jawaban yang paling bijak.

Mengapa Berpikir Kritis Itu Penting?

Berpikir kritis tentu sangat penting dalam berbagai situasi, namun sering kali lingkungan tidak mendukung berpikir kritis dan membuat terhambatnya perkembangan diri. Tanda mahasiswa berpikir kritis yakni dengan sering muncul pertanyaan-pertanyaan dalam benaknya dalam melihat atau memahami sesuatu. Tapi tidak sedikit mahasiswa yang seperti itu dan sering bertanya dianggap sok pintar dan sok bijak bahkan dianggap cari muka, padahal orang bertanya tanda tidak tahu dan ingin mengajak diskusi, namun sering disalahartikan untuk mencari perhatian bahkan dianggap ingin menguji orang lain atau lawan bicaranya.

Bagus Namun Disalahartikan

Sebagai mahasiswa harusnya tidak mudah terpancing emosi dan dalam menghadapi hal tersebut yang ada di lingkungan perkuliahan ataupun masyarakat, seharusnya membangun kebiasaan yang bagus untuk sama-sama berkembang di lingkungan sekitar agar tidak ada yang merasa dirinya harus terhambat memiliki kebiasaan untuk berpikir kritis.

Seperti yang dikatakan oleh Didan Rizwan Fauzi dalam berita UPI yang berjudul Merawat Semangat Kebangsaan Mahasiswa yaitu mahasiswa adalah kaum yang mempunyai kebebasan dalam pikiran tanpa harus ada batasan yang dapat mengekang pertumbuhan otaknya dalam memproduksi pemikiran-pemikiran, dan sifat idealis, yang intinya mahasiswa harus memiliki kemerdekaan dalam berpikir dalam dirinya.

Maka sebagai mahasiswa, untuk membentuk lingkungan yang positif agar bisa melatih diri untuk peka terhadap lingkungan sekitar dan tidak mudah termakan stigma yang menghambat perkembangan diri seperti yang dikatakan banyak penelitian, sehingga akan tercipta suatu kebiasaan yang membangun mahasiswa dan masyarakat dalam mengatasi permasalahan bahkan sulit sekalipun untuk diselesaikan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
238 Ribu Rumah Rusak Akibat Bencana Sumatera, DPR Minta Penanganan Terintegrasi
• 15 jam laluokezone.com
thumb
PAM Jaya Berbenah, ERP Fusion Jadi Bukti Layanan Air Jakarta Go Digital
• 14 jam laludisway.id
thumb
UMI siapkan SDM unggul dukung proyek strategis nasional Presiden
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
Pengadilan Korsel Jatuhkan Hukuman 5 Tahun Penjara kepada Mantan Presiden Yoon Suk Yeol
• 10 jam laluokezone.com
thumb
OJK Pastikan Kawal Tuntas Kasus Fraud Oleh PT Dana Syariah Indonesia
• 19 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.