Donald Trump Tak Gentar Kehadiran Militer Eropa, Ambisi Kuasai Greenland Tetap Jalan

eranasional.com
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, ERANASIONAL.COM – Pengiriman personel militer Eropa ke Greenland disebut tidak akan mengubah sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait ambisinya untuk menguasai wilayah otonom milik Denmark tersebut. Gedung Putih menegaskan bahwa kehadiran pasukan Eropa maupun NATO di kawasan Arktik tidak memengaruhi pandangan Trump mengenai posisi strategis Greenland bagi kepentingan Amerika Serikat.

Greenland kembali menjadi sorotan internasional setelah Denmark mendorong peningkatan kehadiran NATO secara lebih besar dan permanen di kawasan tersebut. Langkah ini dipandang sebagai respons atas pernyataan Trump yang secara terbuka menyebut Greenland seharusnya berada di bawah kendali AS.

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa pengerahan pasukan Eropa tidak akan memengaruhi arah kebijakan Trump.

“Saya tidak berpikir kehadiran pasukan Eropa memengaruhi proses pengambilan keputusan presiden, dan juga tidak mengubah sama sekali tujuannya untuk mengakuisisi Greenland,” kata Leavitt, dikutip dari ABC News, Jumat (16/1/2026).

Trump sebelumnya menyatakan bahwa Greenland memiliki nilai strategis tinggi bagi keamanan nasional Amerika Serikat, terutama karena letaknya di Arktik dan potensi kekayaan mineralnya. Ia bahkan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk mengambil alih wilayah tersebut.

Saat ini, sekitar 200 personel militer Amerika Serikat dilaporkan telah ditempatkan di Greenland, yang memiliki populasi sekitar 57.000 jiwa. Keberadaan pasukan AS tersebut telah lama menjadi bagian dari kepentingan pertahanan Washington di kawasan Arktik.

Sementara itu, skala penuh penambahan pasukan Eropa di Greenland belum diumumkan secara resmi. Namun, sejumlah negara Eropa telah mengirimkan personel militer dalam jumlah terbatas, yang disebut bertujuan membantu Denmark mempersiapkan latihan militer di wilayah Arktik.

Langkah tersebut diambil sehari setelah pertemuan pejabat Amerika Serikat, Denmark, dan Greenland gagal mencapai kesepakatan bersama terkait isu keamanan dan kedaulatan wilayah.

Menteri Pertahanan Denmark, Troels Lund Poulsen, mengatakan belum ada angka final mengenai perluasan kehadiran NATO di Greenland. Meski demikian, ia menegaskan rencana jangka panjang sudah disiapkan.

“Kami kini dapat merencanakan kehadiran yang lebih besar dan lebih permanen sepanjang 2026. Ini penting untuk menunjukkan bahwa keamanan di Arktik bukan hanya urusan Kerajaan Denmark, tetapi juga seluruh NATO,” ujarnya dari Kopenhagen.

Sebelumnya, Denmark menempatkan sekitar 150 personel militer dan sipil dalam Joint Arctic Command yang bertugas di Greenland.

Menurut Marc Jacobsen, profesor madya di Royal Danish Defence College, pengerahan pasukan Eropa membawa pesan politik yang jelas kepada Washington.

“Pesan pertama adalah pencegahan, bahwa jika Amerika Serikat memutuskan bertindak secara militer, kami siap mempertahankan Greenland,” katanya.

“Pesan kedua adalah menunjukkan bahwa Denmark dan Eropa menanggapi kritik AS dengan serius, meningkatkan kehadiran, menjaga kedaulatan, dan memperbaiki pengawasan di Greenland,” lanjutnya.

Sejumlah negara Eropa telah mengonfirmasi keterlibatan militernya di Greenland. Jerman, Prancis, Swedia, Norwegia, Finlandia, dan Belanda mengirimkan personel untuk persiapan latihan militer yang lebih besar sepanjang tahun ini.

Jerman mengirim 13 personel pengintai, Swedia tiga perwira, Norwegia dua perwira, dan Finlandia dua perwira penghubung. Prancis mengerahkan sekitar 15 spesialis gunung, yang rencananya akan diperkuat dengan aset darat, udara, dan laut.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa Prancis dan Uni Eropa harus bersikap tegas dalam menjaga kedaulatan wilayah.

“Kita tidak boleh goyah dalam menegakkan kedaulatan teritorial,” ujar Macron.

Sejumlah negara Uni Eropa juga secara terbuka menyatakan dukungan kepada Denmark, seraya memperingatkan bahwa upaya penyitaan wilayah NATO oleh Amerika Serikat dapat mengancam keberlangsungan aliansi transatlantik.

Trump berulang kali menyatakan Denmark tidak mampu melindungi Greenland jika Rusia atau China berupaya memperluas pengaruhnya di Arktik. Namun, pernyataan tersebut ditolak keras oleh Denmark dan otoritas Greenland.

Baik Denmark maupun Greenland menegaskan bahwa Greenland tidak untuk dijual, dan menyebut ancaman penggunaan kekuatan sebagai langkah ceroboh yang berpotensi memperburuk stabilitas kawasan.

Di Nuuk, ibu kota Greenland, kekhawatiran warga mulai bermunculan. Seorang pemilik usaha setempat, Mads Petersen, mengaku canggung dengan meningkatnya kehadiran militer.

“Saya berharap ini tidak menjadi sesuatu yang normal di masa depan,” katanya.

Sementara itu, Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen, dalam pertemuan dengan sekitar 300 warga Greenland di Kopenhagen, menegaskan pentingnya persatuan dan sikap politik wilayahnya.

“Kami memilih Greenland seperti yang kami kenal hari ini, sebagai bagian dari Kerajaan Denmark,” ujarnya, disambut tepuk tangan meriah. Ia menegaskan Greenland tidak ingin dikelola oleh atau menjadi bagian dari Amerika Serikat.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kasus Dugaan Peredaran Narkoba, Ammar Zoni Ngaku Dipaksa Tulis Surat Pernyataan di Rutan
• 19 jam lalugrid.id
thumb
KPK Dalami Asal Usul Logam Mulia 1,3 Kilogram yang Disita dalam Kasus Suap Pegawai Pajak
• 8 jam lalukompas.com
thumb
Kasus Depresi Tentara Israel Naik 40%, Banyak yang Coba Bunuh Diri
• 13 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Browser Samsung Sekarang Bisa Dipakai di Windows 11
• 17 jam lalumedcom.id
thumb
SMK Amanah Juarai Voli Putra BSI FLASH 2026 Jakarta
• 8 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.