Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia terpantau bergerak cukup positif di sepanjang pekan ini. Logam mulia ini bahkan sempat tancap gas hingga menorehkan rekor baru, seiring derasnya arus investor ke aset lindung nilai di tengah campuran sentimen geopolitik dan ekspektasi arah suku bunga Amerika Serikat (AS).
Merujuk data Refinitiv, Secara kumulatif selama sepekan, harga emas global menguat 1,88%. Namun, laju emas sedikit tersendat di perdagangan terakhir. Pada Jumat (16/1/2026), harga emas global melemah 0,43% dan ditutup di US$4.594,72 per troy ons.
Meski begitu, puncak euforia terjadi di pertengahan pekan. Pada Rabu (14/1/2026), emas naik 0,72% dan ditutup di US$4.620,48 per troy ons hingga tercatatat menjadi level penutupan tertinggi sepanjang masa. Bahkan pada perdagangan intraday, emas sempat menyentuh rekor US$4.642,72 per troy ons. Penutupan Rabu juga menandai tonggak baru pertama kalinya emas ditutup di atas level US$4.600.
Penguatan emas pekan ini terutama ditopang oleh dua faktor besar.
Pertama, meningkatnya permintaan safe haven akibat ketidakpastian geopolitik dan ekonomi. Pasar dibayangi eskalasi tensi, termasuk peringatan Iran terkait kemungkinan serangan terhadap kepentingan AS di kawasan jika Washington ikut campur dalam situasi protes di Iran.
Di saat yang sama, dinamika politik di Atlantik Utara juga memanas setelah muncul rencana pertemuan pejabat Denmark dan Greenland dengan Wakil Presiden AS JD Vance, di tengah kembali menguatnya tuntutan Presiden Donald Trump terkait kontrol atas Greenland.
Kedua, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed ikut menambah "bahan bakar" reli emas. Emas yang tidak menawarkan imbal hasil bunga cenderung lebih menarik saat pasar menilai era suku bunga lebih rendah semakin dekat, apalagi ketika ketidakpastian meningkat.
Dari sisi data ekonomi AS, pasar juga mencerna deretan rilis yang menggambarkan daya tahan konsumsi. Penjualan ritel AS dilaporkan naik lebih tinggi dari perkiraan pada November, mengindikasikan pertumbuhan kuartal IV tetap solid.
Namun, tekanan biaya hidup belum sepenuhnya hilang. Pemerintah AS juga melaporkan harga makanan mencatat kenaikan terbesar dalam lebih dari tiga tahun pada Desember, meski inflasi headline secara keseluruhan relatif moderat. Kombinasi "ekonomi masih kuat, tapi biaya hidup tetap menggigit" membuat investor cenderung menambah perlindungan portofolio.
Selain itu, isu independensi bank sentral AS turut menjadi perhatian. Kekhawatiran pasar terhadap tekanan politik pada The Fed kembali mencuat setelah muncul dukungan terbuka dari para bankir sentral dunia kepada Ketua The Fed Jerome Powell, menyusul meningkatnya tensi dengan pemerintahan Trump. Situasi seperti ini lazimnya memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Dengan gabungan sentimen tersebut, emas memang sempat terkoreksi di akhir pekan, tetapi secara keseluruhan tetap mencatat kenaikan mingguan dan berhasil menorehkan rekor penutupan baru di tengah pekan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(evw/evw)
